Senin, Agustus 24, 2009

IRSYADUL ANAM FI TARJAMATI ARKANIL ISLAM

Karya:

Al Habib Usman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Al Alawi Al Husaini

Pasal Ke tigapuluh lima

Shalat Berjama’ah

Shalat Berjama’ah (bersama-sama imam) bagi laki-laki itu lebih afdhal daripada munfarid (shalat sendiri).

Sedangkan bagi perempuan afdhalnya adalah shalat di rumahnya sekalipun munfarid (shalat sendiri), dan jikalau dapat dirumahnya itu berjama’ah dengan sama-sama perempuan atau mahramnya (yang tidak menjadikan ia haram) maka itu lebih afhal lagi.

Syarat-syarat Shalat Berjama’ah 10 (sepuluh) perkara:

1. Bahwa janganlah ma’mum meng-I’tiqadkan (berkeyakinan) bahwa Shalat imamnya itu batal, atau imamnya itu sedang shalat qadha’
2. Janganlah ma’mum mengikuti ma’mum.
3. Janganlah seorang imam itu tidak pandai mengucapkan huruf bacaan Al-Fatihah, atau imam menggantikan sesuatu huruf dengan huruf yang lain, misalnya: alhamdulillah diganti dengan khabasara, melainkan jika ma’mumnya saja yang melakukan kesalahan seperti itu.
4. Janganlah ma’mum labih maju berdirinya atau duduknya daripada imam.
5. Janganlah ma’mum laki-laki mengikuti imam perempuan atau banci, akan tetapi perempuan atau banci sah mengikuti imam laki-laki.
6. Berniat (didalam hati) oleh ma’mum akan ma’muman (mengikuti imam) sewaktu di Takbirathul Ihram.
7. Bahwa ma’mum mengetahui akan imamnya ketika ruku’, sujud, duduk dan lainnya, dengan melihat padanya atau mendengar suara imamnya takbir intiqal (mengucapkan اَللهُ اَكْبَرُ) atau dengan takbir Muballigh (maksudnya suara bilal atau yang mengeraskan suara imam), atau melihat pada sebahagian ma’mum akan ruku’ sujudnya.
8. Jangan ada palang (penghalang) yang mencegah orang untuk berjalan antara tempat imam dan tempat ma’mum. Misalnya antara imam dan ma’mum dihalangi oleh bambu yang melintang, pintu tertutup, atau bale-bale yang tinggi, yang karena tingginya itu mencegah akan orang yang berjalan sebagaimana biasa orang yang berjalan, melainkan ia harus dengan sangat menunduk atau melompat.
9. Ma’mum wajib mengikuti gerakan imamnya, maka afdhalnya adalah jika imam telah sampai di batas ruku’ maka barulah ma’mum ruku’, dan jika imam telah sampai di batas berdiri maka barulah ma’mum bangkit daripada ruku’, dan jika imam telah sampai di batas sujud maka barulah ma’mum turun sujud, demikian pula pada rukun-rukun yang lain.
1. Makruh hukumnya bagi ma’mum membarengi gerakan imam dalam shalat, dan haram hukumnya mendahulukan imam pada satu rukun fi’li, dan batal shalatnya ma’mum jika mendahulukan imam dengan dua rukun fi’li.
2. Makruh hukumnya bagi ma’mum bila tertinggal gerakan imam dengan tiada uzur hingga imam mendapat satu rukun fi’li, dan batal shalatnya ma’mum jika tertinggal gerakan imam dengan dua rukun fi’li jika ketiadaan uzur.
3. Adapun jika ada uzur seumpama ma’mum lambat membaca Al-Fatihah dan Imamnya terlalu cepat membacanya, atau ma’mum terlupa membaca Al-Fatihah maka setelah imamnya ruku’ barulah ma’mum ingat, atau ma’mum yang muwaffak membaca do’a istiftah dan imamnya ruku’ sebelum ma’mum membaca Al-Fatihah, maka dengan salah satu uzur dalam kondisi yang tersebut ini boleh ma’mum ketinggalan daripada imamnya karena menghabiskan bacaan Al-Fatihah hingga imamnya bangkit daripada sujud yang kedua.

10. Jangan berlawanan gerakan ma’mum dengan gerakan imamnya dengan perbedaan yang sangat berbeda (mencolok) dilihatnya, yaitu seumpama imam sujud tilawah atau sujud sahwi maka tidak diikuti oleh ma’mum akan sujud tilawah atau sujud sahwi itu. Perbedaan gerakan oleh sebab yang demikian itu akan menjadi batal shalat ma’mum jika ia tidak berniat mufarraqah (berpisah dari imam).

Artinya muwaffak: yaitu makmum yang memulai didalam pendirian shalatnya bersama-sama imam, dimana waktu yang yang didapat ma’mum cukup muat untuk membaca Al-Fatihah seluruhnya.

Artinya Masbuk: yaitu ma’mum yang tidak mendapatkan waktu yang cukup membaca Al-Fatihah seluruhnya kecuali hanya takbiratul ihram atau mendapatkan imamnya lagi ruku’.

Ketentuan-ketentuan Masbuk:

1. Jika Masbuk mendapatkan imamnya lagi berdiri, maka sesudahnya ma’mum takbiratul ihram harus segera ia membaca Al-Fatihah dengan tidak perlu membaca اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ atau do’a istiftah lagi, karena apabila imam ruku’ sedangkan ma’mum belum menyelesaikan Al-Fatihah, maka ia boleh langsung mengikuti imamnya untuk ruku. Dan ma’mum mendapatkan raka’at itu.
2. Apabila Masbuk mendapatkan imam lagi ruku’, maka sehabis ma’mum takbiratul ihram ia langsung ruku’ mengikuti imam dengan sunnah membaca takbir intiqal (اَللهُ اَكْبَرُ), maka jika ma’mum mendapatkan thuma’ninah (diam sekedar سُبْحَانَ اللهِ) bersama-sama imam di dalam ruku’ itu, maka dapatlah ma’mum akan raka’at itu.

Akan tetapi bilamana ma’mum tidak mendapatkan thuma’ninah itu bersama-sama imam (misalnya ma’mum ruku’ bersamaan imamnya I’tidal) maka ma’mum tidak mendapatkan raka’at itu.

1. Adapun jikalau Masbuk mendapatkan imam lagi sujud atau lagi duduk antara dua sujud atau lagi tasyahhud, maka sehabis ma’mum takbiratul ihram, dia langsung mengikuti imam dimana adanya dengan tidak membaca takbir intiqal lagi. Dan ma’mum dalam hal ini tidak mendapatkan raka’at itu.

http://salafytobat.wordpress.com

DALIL MENYUGUHKAN MAKANAN PADA ACARA TAHLIL.

Assalamualoaikum wr wb,

Dalam setiap acara tahlilan, tuan rumah memberikan makanan kepada orang-orang yang mengikuti tahlilan. Selain sebagai sedekah yang pahalanya diberikan kepada orang yang telah meninggal dunia, motivasi tuan rumah adalah sebagai penghormatan kepada para tamu yang turut mendoakan keluarga yang meninggal dunia.

Dilihat dari sisi sedekah, bahwa dalam bentuk apapun sedekah merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan. Memberikan makanan kepada orang lain dalah perbuatan yang sangat terpuji. Sabda Nabi Muhammad SAW:

عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الإسْلَامُ قَالَ طِيْبُ الْكَلَامِ وَإطْعَامُ الطَّعَامِ. رواه أحمد

Dari Amr bin Abasah, ia berkata, saya mendatangi Rasulullah SAW kemudian saya bertanya, “Wahai Rasul, apakah Islam itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Bertutur kata yang baik dan menyuguhkan makanan.” (HR Ahmad)

Kaitannya dengan sedekah untuk mayit, pada masa Rasulullah SAW, jangankan makanan, kebun pun (harta yang sangat berharga) disedekahkan dan pahalanya diberikan kepada si mayit. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

عَنْ بْنِ عَبَّاسٍ أنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إنَّ أمِّي تُوُفِّيَتْ أَفَيَنْفَعُهَا إنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإنَّ لِيْ مَخْزَفًا فَُأشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بَهَ عَنْهَا. رواه الترمذي

Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah SAW, Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, apakah ada matifaatnya jika akan bersedekah untuknya?" Rasulullah menjawab, "Ya”. Laki-laki itu berkata, “Aku memiliki sebidang kebun, maka aku mempersaksikan kepadamu bahwa aku akan menyedekahkan kebun tersebut atas nama ibuku.” (HR Tirimidzi)

Ibnu Qayyim al-Jawziyah dengan tegas mengatakan bahwa sebaik-baik amal yang dihadiahkan kepada mayit adalah memerdekakan budak, sedekah, istigfar, doa dan haji. Adapun pahala membaca Al-Qur'an secara sukarela dan pahalanya diberikan kepada mayit, juga akan sampai kepada mayit tersebut Sebagaimana pahala puasa dan haji. (Ibnul Qayyim, ar-Ruh, hal 142).

Jika kemudian perbuatan tersebut dikaitkan dengan usaha untuk memberikan penghonnatan kepada para tamu, maka itu merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam. Sabda Rasulullah SAW:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَالْيُكْرِمْ جَارَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أوْ لِيَصْمُتْ. رواه مسلم

Dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hormatilah tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah ia berkata dengan kebaikan atau (jika tidak bisa), diam.” (HR Muslim).

Seorang tamu yang keperluannya hanya urusan bisnis atau sekedar ngobrol dan main catur harus diterima dan dijamu dengan baik, apalagi tamu yang datang untuk mendoakan keluarga kita di akhirat, sudah seharusnya lebih dihormati dan diperhatikan.

Hanya saja, kemampuan ekonomi tetap harus tetap menjadi pertimbangan utama. Tidak boleh memaksakan diri untuk memberikan jamuan dalam acara tahlilan, apalagi sampai berhutang ke sana ke mari atau sampai mengambil harta anak yatim dan ahli waris yang lain. Hal tersebut jelas ridak dibenarkan. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya perjamuan itu diadakan ala kadarnya.

Lain halnya jika memiliki kemampuan ekonomi yang sangat memungkinkan. Selama tidak israf (berlebih-lebihan dan menghamburkan harta) atau sekedar menjaga gengsi, suguhan istimewa yang dihidangkan, dapat diperkenankan sebagai suatu bentuk penghormatan serta kecintaan kepada keluarga yang telah meninggal dunia.

Dan yang tak kalah pentingnya masyarakat yang melakukan tahlilan hendaknya menata niat di dalam hati bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata karena Allah SWT. Dan jika ada bagian dari upacara tahlil itu yang menyimpang dari ketentuan syara' maka tugas para ulama untuk meluruskannya dengan penuh bijaksana.


KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam,

Demikian,Mohon Maaf..
Wassalamualaikum wr wb.

Memulyakan Hari Lahir Nabi saw.

Assalamualaikum wr wb,


Ketika memasuki bulan Rabiul Awwal, umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi SAW dengan berbagai cara, baik dengan cara yang sederhana maupun dengan cara yang cukup meriah. Pembacaan shalawat, barzanji dan pengajian pengajian yang mengisahkan sejarah Nabi SAW menghiasi hari-hari bulan itu.

Sekitar lima abad yang lalu, pertanyaan seperti itu juga muncul. Dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849 H - 911 H) menjawab bahwa perayaan Maulid Nabi SAW boleh dilakukan. Sebagaimana dituturkan dalam Al-Hawi lil Fatawi:

"Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara'. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: Menurut saya bahwa asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmnti bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah al-hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka dta dan kegembiraan atas kelahiran Nnbi Muhammad SAW yang mulia". (Al-Hawi lil Fatawi, juz I, hal 251-252)

Jadi, sebetulnya hakikat perayaan Maulid Nabi SAW itu merupakan bentuk pengungkapan rasa senang dan syukur atas terutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini. Yang diwujudkan dengan cara mengumpulkan orang banyak. Lalu diisi dengan pengajian keimanan dan keislaman, mengkaji sejarah dan akhlaq Nabi SAW untuk diteladani. Pengungkapan rasa gembira itu memang dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah SWT :

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَخُوا

Katakanlah (Muhammad), sebab fadhal dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian. (QS Yunus, 58)

Ayat ini, jelas-jelas menyuruh kita umat Islam untuk bergembira dengan adanya rahmat Allah SWT. Sementara Nabi Muhammad SAW adalah rahmat atau anugerah Tuhan kepada manusia yang tiadataranya. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. al-Anbiya',107)

Sesunggunya, perayaan maulid itu sudah ada dan telah lama dilakukan oleh umat Islam. Benihnya sudah ditanam sendiri oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, "Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR Muslim)

Betapa Rasulullah SAW begitu memuliakan hari kelahirannya. Beliau bersyukur kepada Allah SWT pada hari tersebut atas karunia Tuhan yang telah menyebabkan keberadaannya. Rasa syukur itu beliau ungkapkan dengan bentuk puasa.

Paparan ini menyiratkan bahwa merayakan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW termasuk sesuatu yang boleh dilakukan. Apalagi perayaan maulid itu isinya adalah bacaan shalawat, baik Barzanji atau Diba', sedekah dengan beraneka makanan, pengajian agama dan sebagainya, yang merupakan amalan-amalan yang memang dianjurkan oleh Syari' at Islam. Sayyid Muhammad' Alawi al-Maliki mengatakan:

"Pada pokoknya, berkumpul untuk mengadakan Maulid Nabi merupakan sesuatu yang sudah lumrah terjadi. Tapi hal itu termasuk kebiasaan yang baik yang mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang (akhirnya) kembali kepada umat sendiri dengan beberapa keutamaan (di dalamnya). Sebab, kebiasaan seperti itu memang dianjurkan oleh syara' secara parsial (bagian bagiannya)”

“Sesungguhnya perkumpulan ini merupakan sarana yang baik untuk berdakwah. Sekaligus merupakan kesempatan emas yang seharusnya tidak boleh punah. Bahkan menjadi kewajiban para da'i dan ulama untuk mengingatkan umat kepada akhlaq, sopan santun, keadaan sehari-hari, sejarah, tata cara bergaul dan ibadah Nabi Muhammad SAW. Dan hendaknya mereka menasehati dan memberikan petunjuk untuk selalu melakukan kebaikan dan keberuntungan. Dan memperingatkan umat akan datangnya bala' (ujian), bid'ah, kejahatan dan berbagai fitnah". (Mafahim Yajib an Tushahhah, 224-226)

Hal ini diakui oleh Ibn Taimiyyah. Ibn Taimiyyah berkata, "Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAWakan diberi pahala. Begitulah yang dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana juga di temukan di kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS. Dalam Islam juga dilakukan oleh kaum muslimin sebagai rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid'ah yang mereka lakukan". (Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 399)

Maka sudah sewajarnya kalau umat Islam merayakan Maulid Nabi SAW sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan juga karena isi perbuatan tersebut secara satu persatu, yakni membaca shalawat, mengkaji sejarah Nabi SAW, sedekah, dan lain sebagainya merupakan amalan yang memang dianjurkan dalam syari'at Islam.

KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris),

Demikian,Mohon Maaf..
Wassalamualaikum wr wb.

Senin, Agustus 03, 2009

Tingkatan dan Jenis Hadits

1. Hadits Shohih (Sah/benar/sehat)
2. Hadits Hasan (Bagus/Baik)
3. Hadits Dho’if (Lemah)
4. Hadits Marfu’ (Semua sanadnya bersandar kepada Rasulullah Saw)
5. Hadits Mushahhaf (Kesalahan terjadi pada catatan / bacaannya)
6. Hadits Muttasil (Sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw)
7. Hadits Mauquf (Sanadnya boleh jadi bersambung, boleh jadi terputus)
8. Hadits Mun-qoti’ (Dho’if, karena terputus sanadnya)
9. Hadits Mursal (Dho’if dan Mardud)
10. Hadits Mu’allal (Terselubung cacatnya / merusak keshohihan Hadits)
11. Hadits Ghorib (Yang menyendiri)
12. Hadits Masyhur (Nyata)
13. Hadits Mudallas (Gelap / Menyembunyikan cacat dalam sanad)
14. Hadits Mutawatir (Berturut Sanadnya)
15. Hadits Syadz (Bertentangan)
16. Hadits Mudraj (Ada tambahan, yang bukan bagian dari Hadits)
17. Hadits Maqlub (Dho’if. Karena ada pergantian lafaz)
18. Hadits Mudhtorib (Rusak susunan)
19. Hadits Mu’adhal (Menggugurkan dua Perawi aslinya)(Hukumnya Dho’if)
20. Hadits Matruk (Dho’if yang paling buruk. Perawinya tertuduh Pendusta)
21. Hadits Maudhu’ (Palsu. Kebohongan yang diciptakan dan disandarkan kepada Rasul Saw)
22. Hadits Munkar (Cacat dan Palsu perawinya kedapatan berbuat Fasiq)

Jika Hadits-hadits yang kita baca terdapat Keterangan yang mengatakan seperti dibawah ini :
7 Imam : Al-Bukhari. Muslim. Ahmad. Abu Daud. At-Turmudzy. An-Nasa’iy. Ibnu Majah.
6 Imam : Al-Bukhari. Muslim. Abu Daud. At-Turmudzy. An-Nasa’iy dan Ibnu Majah.
5 Imam : Ahmad. Abu Daud. At-Turmudzy. An-Nasa’iy. Ibnu Majah.
4 Imam : Ahmad. At-tirimidzy. An-Nasa’iy. Ibnu Majah.
3 Imam : Abu Daud. At-turmudzy. An-Nasaiy.
Muttafaqun 'Alaih : Al-Bukhari dan Muslim.

Banyak orang yang berjiwa ta'at dan patuh kepada Agama. Tetapi karena pengetahuannya tentang Hadits sangat terbatas, sehingga ia nampak seperti orang yang hidup dalam kegelapan. Yaitu meraba-raba dan seperti berjalan tiada tentu arah tujuan. Tidak ada pegangan yang menimbulkan ketenangan dalam hati untuk menetapkan langkahnya. Dan ia akan berhati-hati dengan tidak ada alasan. Kadang-kadang mereka bisa bersikap sangat pemberani (agresip). Padahal ia berbuat salah. Maka untuk menghindarkan segala sifat yang buruk dan merugikan diri sendiri seperti yang demikian itu !!! Hendaknya kita selalu mencari tambahan ilmu tentang Hadits. Dengan demikian kita berjalan menurut Cahaya yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. kepada seluruh umatnya. Kita mengharap kepada Allah SWT semoga kita jangan sampai terperangkap dengan Hadits-hadits palsu !!! Yang pada akhirnya kita sendiri yang akan rugi. Karena dari dahulu hingga sekarang. Kebanyakan dari kita, hanya menerima Cerita-cerita Israiliyat yang sampai kepada kita melalui cerita entah berantah, lalu kita katakan itu adalah Hadits Nabi Saw. Maka sanksinya adalah Neraka !
Oleh karena itu. Wajib bagi kita belajar lagi untuk memperhalus kaji. Agar jangan menjadi orang yang hanya ikut-ikutan saja, alias ikut saja apa kata orang. Yakni bertaqlid buta (tiada 'ilmu). Ingatlah ! Neraka tetap menanti kehadiran orang yang demikian ini !
Dan semoga para pembaca yang berminat dengan pelajaran ini, kita harapkan untuk mencari atau bertanya kepada Ahli Hadits yang banyak liku-likunya, karena maksud dari pelajaran ini bukan menguraikan ilmu Hadits, tetapi mengurai isi Hadits yang berkaitan dengan ketetapan Ibadah. Maka dipersilahkan menambah ‘ilmu kepada para Ahli Hadits yang Mu’tabar dimanapun ia berada.

Sunnah ada enam Kitab Hadits yang ternama, yang merupakan pegangan penjelasan utama bagi umat Islam. Keenam Kitab tersebut ialah :
1. Shohih Imam Al-Bukhari.
2. Shohih Imam Muslim.
3. Imam Abu Daud.
4. Imam An-Nasa'iy.
5. Shohih At-Turmudzy.
6. Imam Ibnu Majah.
Demikian serba sedikit tentang Hadit dan Sunnah.
Wallahu 'alam.....

TARHIYB RAMADHAN.

MARHABAN YAA RAMADHAN.

MARHABAN YAA SAHRAR-RAMADHAN , MARHABAN SYAHRAL'IBADAH
MARHABAN YAA SAHRAR-RAMADHAN , MARHABAN SYAHRA-SYA'AADAH.

Selamat datang wahai bulan Ramadhan,selamat datang bulan Ibadah
Selamat datang wahai Ramadhan,selamat datang bulan kebahagiaan.

MARHABAN YAA ZAAHIRAL AN , FIIL MAJAALIIBIZZIYADAH
LIL'AKHILLA QURRAH A'YAAN , 'ANTA YAA SYAHRAL IFAADAH.

Selamat datang wahai yang tiba dgn cahaya dlm kejelasan bertambahnya anugerah, Bagi para kekasih Allah ,engkau adalah kesayangan mereka wahai bulan yg penuh dgn keberuntungan.

FIIKAYUJLAR-RAIINUURAAN , HIINA TUJLAL ISTIJAADAH
MARHABAN DZAA KHAYRA ITYAAN , SYAHRANA SYAHRA-SYIYAADAH.

Padamu tersingkir segala kehinaan dan dosa,saat terbentangnya kesempatan menyungkur sujud,Selamat datang sebaik2 yang menghampiri usia kami,Bulan kita iniadalah Baginda bagi bulan lainnya.

ANTA SAYYID KULLAL AHYAAN , WALYAATIIMAH FIIL QULLADAH
MARHABAN YAA SYAHRAL IHSAAN , WASHAFAA WAL ISTIFAADAH.

Engkaulah pemimpin bagi setiap saat, dan kepala mutiara bagi kalung kehidupan,Selamat datang bulan kemulyaan,kesuciaan,dan terbukanya kesempatan mengambil manfaat.

MARHABAN MIN GHAIRI HUSBAAN , HAYSYULAA NUHSHII IDAADAH
KULLU MASJID FIIKA QAD DZAAN , RABBUHU BIINUURRI DZAAN.

Selamat datang kuucapkan tanpa terhitung,hingga tak terhingga banyaknya,Segenap Masjid terindahkan dengan kedatanganmu,Tuhan segenap Masjid menambahkan cahaya pada Masjid2 dengan kedatanganmu.

ANTA BAHJAHU KULLI MAN KAAN , HAAJA MIN TAQWAAHU DZAADAH
KULLA MUSLIM FIIK NASYTHAAN , FIITTAWAJJUH LILIBAADAH.

Engkau cahaya kemegahan bagi segalanya , beruntunglah barangsiapa yg takwanya bertambah,Setiap muslim giat dihari2mu dalam semangat beribadah.

WA'ANIL AASYAAMI KASLAAN , WALAHUTHTHAA 'AAT 'AADAH
FIITARAA WIIHIN WAQUR 'AAN , QAD JAFAA NAWMA L QUAADAH.

Dan mereka malas berbuat dosa, dan bagi mereka ketaatan kepada Allah menjadi kebiasaan,dalam shalat terawih dan AlQur'an,telah sirna kantuk orang yang malas shalat malam.

MARHABAN YAA ALIYYASSAN , MAAN QADAA WASHFU WIDAADAH
WASHALATUL WAHIDIL MAAN , MANHABAAN-NI'MAH IBAADAH.

Selamat datang pemilik derajat yg mulya,yang tiada henti2nya gambaran keindahan dan kerinduaan atasnya,Dan shalawat dari Yang maha Tunggal dalam segala Anugerah,Yang memberi kenikmatan dalam beribadah.

TATAGHASYSYAH FAKHRA ADNAAN , WAKADZAAL AALAL IJAADAH
WASHSHAHABAH HUM WAL IKHWAN , NI'MA ASHHAABUSYSYAHAADAH.

Selalu terlimpahkan pada sang kebanggaan keturunan adnan,dan pula segenap keluarga yg mulya,serta sahabat dan merekalah para saudara,semulya2 para syuhada.

MAA 'ADHAA'A BAANNURI RAMADHAN , WANJALAA RAYNUL BALAADAH.

Seterang benderang cahaya Ramadhan,Maka sirnalah kesempitan hati orang2 yang dalam kebodohan.


WWW.majelisrasulullah.org

AlFaqir ilm (Ahmad Prapanca).

Rabu, Juli 29, 2009

FORUM TANYA JAWAB.

Mohon Restu. - 2009/07/27 06:21 Assalamualaikum wr wb,

Semoga Allah swt yang Maha Penyayang dan Maha Pelindung selalu memberi kesehatan yang sempurna tuk antum Habibana Munzir alMusawa yang ana cintai dan selalu melindungi setiap gerak langkah dakwah antum yang mulya...aamiin.


Terima kasih ya habibiy atas segala ilmu yang antum berikan kepada kami jamaah Majelis Rasulullah khususnya tuk alFaqir,ana termasuk yg genjar meneruskan dakwah antum di media FaceBook ataupun Blog ana,mohon maaf jika tanpa sepengetahuan antum atau ada kesalahan2 dlm meneruskan dakwah mulya ini,mohon izin dari antum yang Mulya tuk semua itu namun kadang ana agak merasa riskan karena ada saja nada2 sumbang yang mengomentari kedekatan ana dgn antum namun ana tak hiraukan kerena ana merasa dekat dgn antum secara bathin/ruh.

ba'da ashar ana terus mendawamkan ratib Atthos yg antum sarankan dan ijasahkan dan setelah itu ana jg mengirim Fatehah kpd guru mulya Hb.Umar bin Hafidz juga kpd antum tuk menyambung tali pengikat ruh kita semoga antum berkenan dan sudi kembali memberikan ijazah kepada ana yang faqir ilm ini.

Denmikian mohon maaf ya Habibiy atas kelancangan ana.
semoga Allah swt mempercepat kemakmuran muslimi/mat di Indonesia dan Jakarta khususnya juga tuk seluruh dunya..aamiin.

Wassalamualaikum wr wb.
| | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya
Re:Mohon Restu. - 2009/07/28 08:25 Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
semoga perjuangan anda dalam dunia maya dilimpahi pertolongan Allah dan diberi ketabahan, saya Ijazahkan pada anda ratib Alattas, sebagaimana ijazah sanadnya dari guru mulia kita hingga shohiburratib.

seamat berjuang saudaraku tercinta. doa kami menyertai anda
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a'lam

BERBHAKTI PADA ORANG TUA.

Kalam Asy-Syeikh Jasiem Al-Muthawi'

Ini adalah bentuk ibadah yang menjadikan seseorang berlomba-lomba mendahului yang lainnya dalam sibaq (berlomba-lomba dalam amal). Hanya saja pada era moderen ini jarang sekali dilakukan, yakni ibadah "memijit kaki ibu" dengan niat birrul walidain (berbakti kepada orangtua). Yang menemukan ibadah model ini adalah Muhammad bin Al-Munkadir. Beliau berkata, "Semalam aku mencium kaki ibu, malam itu pula pamanku shalat. Alangkah indahnya malamnya dengan malamku."

Bentuk ibadah semacam itulah yang menempatkan seseorang selalu di barisan terdepan, karena disana ada keutamaan berbakti kepada orangtua (birrul walidain) serta kedudukannya yang tinggi dalam syariat Islam. Ia lebih berat timbangannya daripada shalat di malam hari dan puasa di siang hari. Bahkan Imam Hasan Al-Bashri mengatakan, "Tidak ada yang menyamai birrul walidain dari ibadah sunnah, tidak juga haji maupun jihad."

Karenanya barangsiapa duduk bercengkerama bersama kedua orangtua dengan penuh keakraban dan sopan-santun hingga membuatnya gembira dengan maksud birrul walidain, maka baginya pahala yang besar di sisi Allah swt. Oleh karenanya, cinta dan berbuat baik kepada kedua orangtua adalah termasuk jalan pintas yang menghubungkan ke surga.. Bahkan keberadaan kedua orangtua bagi sang anak adalah identik dengan salah satu pintu surga yang ada di bumi. Maka barangsiapa ingin dan berlomba masuk surga, ia harus berperilaku baik terhadap pintu tersebut. Itulah sebabnya Iyas bin Mu'awiyah menangis tatkala sang ibu tercinta meninggal.. Ada yang bertanya kepadanya mengapa ia menangis, dijawab olehnya, "Dulu aku punya dua pintu yang terbuka menuju surga, kini salah satu dari pintu itu tertutup."

Sidang pembaca yang mulia, berusahalah agar tidak tidur barang semalam saja jika salah seorang dari kedua orangtua Anda sedang marah, khususnya ibu. Berusahalah untuk membangkitkan kebahagiaannya dan ciptakan suasana yang selalu menggembirakan beliau. Janganlah Anda masuk ke dalam rumah dengan tangan hampa, akan tetapi persembahkanlah kepada keduanya bentuk-bentuk pemberian atau hadiah dan perhatikan apa yang dibutuhkannya.

Diantara bentuk birrul walidain yang dilakukan oleh Thalq bin Hudaib, salah seorang tabi'in adalah selalu mencium kening ibunya. Beliau tidak berjalan di tempat yang lebih tinggi, sementara sang ibu ada di bawah.

Oleh karena itu, birrul walidain adalah pintu yang agung. Maka berusahalah Anda untuk memasukinya setiap hari sebelum pintu itu tertutup. Berlombalah dengan hati dan perasaan Anda untuk berbuat baik terhadap keduanya.

Janganlah dan jangan sampai Anda durhaka kepada kedua orangtua. Andaikata itu sudah terlanjur Anda lakukan, maka segeralah bertobat dan mohon ampun sebagaimana dilakukan oleh Ibnu 'Awanah. Suatu hari beliau berbuat durhaka kepada orangtuanya. Untuk menebus kesalahan tersebut Ibnu 'Awanah memerdekakan dua orang budak. Beliau berkata, "Suatu hari ibu memanggilku. Kemudian aku menjawabnya, namun saat itu suaraku lebih tinggi (keras) dari suara ibu. Maka seketika itu pula aku memerdekakan dua orang budak."

[Disarikan dari Efisiensi Waktu Konsep Islam, Jasiem M.Badr Al-Muthawi', hal. 163-166, cetakan I, 2000, penerbit Risalah Gusti, Surabaya]

Hukum Azan 2 Kali Sebelum Solat Jumaat.

Tersebut dalam kitab fikh mazhab syafie : Syeikh Sayid Bakri Syatha mengatakan "
Dan dua azan solat Jumaat dihubungkan dengan 2 azan untuk solat Subuh ertinya : dan sunat juga 2 azan bagi solat Jumaat
(I'anatut Tholibin Juz 1, Hal 232).

Dalil dari fatwa di atas ialah :

1. Dalam kitab Hadith Bukhari :

Dari Saib bin Yazid, beliau berkata :
adalah azan pada hari Jumaat mula-mulanya manakala Imam telah duduk di atas mimbar, begitu pada masa RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam pada masa Saidina Abu Bakar dan Saidina Umar radiyaLlahu 'anhu ketika pada masa Saidina Uthman bin Affan RadiyaLlahu 'anhu dan manusia sudah banyak beliau menambah 'azan yang ketiga' di atas Zaura
(Hadith diriwayatkan oleh Bukhari - sahih Bukhari Juz 1, hal 116).

Hadith ini menyatakan :

1. Pada mulanya, iaitu pada zaman rasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam dan seterusnya pada zaman Khalifah Abu Bakar dan Umar RadiyaLlahu anhuma iaitu sampai pada tahun 23 Hijrah. Azan solat Jumaat hanya sekali iaitu pada ketika Imam telah duduk di atas mimbar. Azan ini dinamakan sebagai 'azan pertama'

2. Kemudian khalifah yang ketiga saidina Uthman bin Affan (berkuasa dari tahun 23 Hijrah-35 hijrah) menambah sebuah azan lagi di atas zaura. Azan tambahan ini dinamai dalam hadith ini 'azan ketiga' kerana Qamat dianggap 'azan kedua'

Secara tertibnya : 1. Azan 1 pada ketika Imam telah duduk di atas mimbar
2. Azan 2 -Qamat atau Iqamat
3. Azan 3 - azan tambahan dari Saidina Uthman.

3. Azan ketiga ini ditambah oleh Khalifah Uthman kerana melihat bahawa manusia sudah ramai, brejauhan tempat bekerja sehingga diperlukan satu azan lagi yang diletakkan terdahulu dari 'azan kedua' iaitu dinamakan azan ketiga.

Azan ketiga yang dikerjakan terdahulu ini boleh ibaratnya boleh - dianggap 'lonceng baru' yang memberitahu penumpang bahawa keretapi akan berangkat, dan hendaklah bersiap-siap.

2. Hadith Riwayat Imam Bukhari :

Dari Saib bin Yazid berkata :
Pada mulanya azan Hari Jumaat itu ketika Imam telah duduk di mimbar. Hal ini terjadi pada ketika zaman Nabi, zaman Abu Bakar dan Umar radiyaLlahu 'anhu. Maka ketika tiba zaman Khalifa Uthman bin Affan radiyaLlahu 'anhu iaitu pada ketika manusia sudah ramai, beliau memerintahkan agar diadakan azan ketiga di atas Zaura'. Maka tetaplah situasi secara demikian
(Hadith riwayat Bukhari - Sahih Bukhari Juz 1 halaman 117).

Hadith yang kedua ini sama dengan hadith yang pertama, tetapi yang kedua bertambah kalimah 'maka tetaplah situasi secara demikian' . Kalimah ini bererti, bahawa azan ketiga itu diterima baik oleh seluruh ulama Islam, tiada yang membantah sehingga diamalkan secara demikian terus menerus sehingga sekarang.

Di dalam Kitab Mawahibul Laduniyah karangan Imam Qasthalani :

Kemudian dari itu, bahawasanya perbuatan Saidina Uthman menjadi IJMAK SUKUTHI, kerana tiada seorang yang membantah (Mawahibul Laduniyah Juz II, halaman 249 - zarqani Juz II hal 382).

Jika sudah dinamakan IJMAK maka ia adalah dalil yang kuat bahawa azan ketiga sunat hukumnya. Bolehkah menolak IJMAK ? Sila rujuk : Hukum Mengikut Jemaah/Ijmak Ulamak

Tersebut dalam kitab hadith yang bererti :
Berkata RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam : Pegang teguhlah sunnah aku dan sunnah khalifah-khalifah ar Rasyidin sesudah aku
(Hadith riwayat Abu Daud - Sunan Abi Daud Juz 4 Halaman 201).

Imam Syafie dalam kitab Al Umm menerangkan :

Dan yang mana di antara yang kedua itu yang terjadi pada masa RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam lebih saya sukai
(Umm Juz I, halaman 195).

Imam syafie adalah mujtahid mutlaq terkenal dengan Ahlu Hadith tentu sangat menyukai ibadat yang terjadi pada masa RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam tetapi beliau menyukai juga apa yang diperintahkan oleh Saidina Uthman sebagai Khalifah ar Rasyidin, walaupun yang terjadi pada masa RasuluLlah lebih disukai.

Lihat bagaimana Imam Syafie mengggunakan af'al tafdhil. Lebih mengutamakan, melebihkan. Tiada pun sebut larangan.

WaLlahua'lam

Sumber Rujukan :

1. K.H Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama, Pustaka Aman Press, Kelantan, Malaysia

2.
Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa'adi, Salah Faham Terhadap Bid'ah, al Bid'ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu'man, 2002, Kuala Lumpur

Semoga bermanfaat.. .....

TAWWADU NYA RASULULLAH SAW.

Rasul saw bukan orang yg suka dipuji karena takabbur, namun Rasul saw suka dipuji oleh orang orang yg benar benar mencintai beliau saw, karena pujian itu datang dari cinta, dan cinta kepada Rasul saw adalah kesempurnaan Iman, sebagaimana sabda beliau saw : Belum sempurna Iman seorang hamba sebelum aku lebih dicintainya dari harta dan keluarganya” (Shahih Muslim),
berbeda dengan cinta kita satu sama lain yg mungkin bisa jadi merupakan hal yg melupakan kita dari Allah swt.

Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Rasul saw : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan.., Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)

Berkata Aisyah ra : “Jangan kalian caci Hassan bin tsabit, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw” (Shahih Bukhari Bab Adab hadits no.5684).

Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata: “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu dihadapan Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia (Hassan) dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

Mengenai Larangan Rasul saw atas pujian sebagaimana Isa bin Maryam, tentunya jauh berbeda, dan orang wahabi itu buta, mereka tak bisa membedakan antara air putih dan arak, tentunya arak diharamkan, namun air putih adalah sunnah, mereka tak bisa membedakannya karena bodohnya, maka mereka mengharamkan semua orang untuk minum air, karena ditakutkan air itu adalah arak, padahal semua orang sangat bisa membedakan antara air dan arak, dari baunya, warnanya, rasanya, namun wahabi karena bodohnya maka mereka tak bisa membedakan mana pujian yg sunnah, mana pujian yg musyrik.

Dan yg lebih bodoh lagi adalah yg mengikuti dan membenarkan ucapan mereka ini,
Kita lihat riwayat perbuatan pengagungan para sahabat terhadap Nabi saw dibawah ini, saya yakin jika ini anda perbuat maka si wahabi wahabi itu akan memfitnah anda musyrik, padahal ini perbuatan sahabat :

Para sahabat hampir berkelahi saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah saw (Shahih Bukhari Hadits no.186),

Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yg sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim hadits no.2069).

seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya : “dimana tempat yg kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw hingga dijadikan musholla (Shahih Bukhari hadits no.1130)

Allah memuji Nabi saw dan Umar bin Khattab ra yg menjadikan Maqam Ibrahim as (bukan makamnya, tetapi tempat ibrahim as berdiri dan berdoa di depan ka’bah yg dinamakan Maqam Ibrahim as) sebagai tempat shalat (musholla), sebagaimana firman Nya : “Dan jadikanlah tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat shalat” (QS Al Imran 97), maka jelaslah bahwa Allah swt memuliakan tempat hamba hamba Nya berdoa, bahkan Rasul saw pun bertabarruk dengan tempat berdoanya Ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.

Diriwayatkan ketika Rasul saw baru saja mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh Rasul saw, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta, maka sahabat itu berkata : “aku memintanya karena mengharapkan keberkahannya ketika dipakai oleh Nabi saw dan kuinginkan untuk kafanku nanti” (Shahih Bukhari hadits no.5689), demikian cintanya para sahabat pada Nabinya saw, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas sentuhan tubuh Nabi Muhammad saw.

Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yg merobek perutnya dengan luka yg sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra), "Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra", maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : "Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yg sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia berkata : "Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”

Demikian pula Abubakar shiddiq ra, yang saat Rasul saw wafat maka ia membuka kain penutup wajah Nabi saw lalu memeluknya dengan derai tangis seraya menciumi tubuh beliau saw dan berkata : “Demi ayahku, dan engkau dan ibuku wahai Rasulullah.. , Tiada akan Allah jadikan dua kematian atasmu, maka kematian yang telah dituliskan Allah untukmu kini telah kau lewati”. (Shahih Bukhari hadits no.1184, 4187).

Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469).

Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw.

Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?, maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480).

Sebagaimana riwayat Sa’ib ra, : "aku diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah.. , keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw" (Shahih Muslim hadits no.2345).

Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata: “Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168). demikianlah mulianya sehelai rambut Nabi saw dimata sahabat, lebih agung dari dunia dan segala isinya.

Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw dan mengusap2kannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).

Diriwayatkan ketika Anas bin malik ra dalam detik detik sakratulmaut ia yg memang telah menyimpan sebuah botol berisi keringat Rasul saw dan beberapa helai rambut Rasul saw, maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan bersamanya dalam kafan dan hanut nya (shahih Bukhari hadits no.5925)
Dan belasan riwayat lainnya dari riwayat shahih dan tsiqah bahwa para sahabat memuliakan Rasulullah saw, dengan syair, dengan perbuatan, pengorbanan, dan pengagungan.
Tampaknya kalau mereka ini hidup di zaman sekarang, tentulah para sahabat ini sudah dikatakan musyrik, tentu Abubakar sudah dikatakan musyrik karena menangisi dan memeluk tubuh Rasul saw dan berbicara pada jenazah beliau saw, demikian pula Umar ra yg saat wafat bukannya ingat syahadat malah ingat ingin dimakamkan disebelah kubur Nabi saw, demikian semua sahabat,
Inilah bodohnya wahabi, dan seluruh Ulama dan Imam Seluruh madzhab tak satupun mengharamkan pujian pada Rasul saw, hanya wahabi saja yg menolak, memang mereka ini tak berhak berkumpul dengan para pecinta Rasul saw, karena mereka menganggap Rasul saw sama dengan manusia lainnya, padahal Allah swt telah berfirman : “Nabi (saw) mesti lebih didahulukan dari setiap mukmin dari diri mereka sendiri, dan istri istri beliau adalah ibunda kaum mukminin” (QS Al Ahzab 6).
Lalu bagaimana dengan riwayat berikut :
Berkata Anas ra : “Tak kutemukan sutra atau kain apapun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tak kutemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat dan tubuh Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.3368). “Kami tak melihat suatu pemandangan yg lebih menakjubkan bagi kami selain Wajah Nabi saw”. (Shahih Bukhari hadits no.649 dan Muslim hadits no.419)
Dari Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah.. , bila kami memandang wajahmu maka terangkatlah hati kami dalam puncak kekhusyu’an, bila kami berpisah maka kami teringat keduniawan, dan mencium istri kami dan bercanda dengan anak anak kami” (Musnad Ahmad Juz 2 hal.304, hadits no.8030 dan Tafsir Ibn katsir Juz 1 hal.407 dan Juz 4 hal.50).

Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id bin Ma’la ra sedang shalat dan ia mendengar panggilan Rasul saw memanggilnya, maka Abu Sa’id meneruskan shalatnya lalu mendatangi Rasul saw dan berkata : Aku tadi sedang shalat Wahai Rasulullah.. , maka Rasul saw bersabda : “Apa yang menghalangimu dari mendatangi panggilanku? , bukankah Allah telah berfirman “WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DATANGILAH PANGGILAN ALLAH DAN RASUL NYA BILA IA MEMANGGIL KALIAN”.(Al Anfal 24). (Shahih Bukhari hadits no.4204, 4370, 4426, 4720). Dan bahwa mendatangi panggilan Rasul saw ketika sedang shalat tak membatalkan shalat, dan mendatangi panggilan beliau lebih mesti didahulukan dari meneruskan shalat, karena panggilan beliau adalah Panggilan Allah swt, perintah beliau saw adalah perintah Allah swt, dan ucapan beliau saw adalah wahyu Allah swt...

maka jelas sudah bahwa pujian pada Nabi saw adalah hal yg masyru, dan menentangnya adalah kesalahan yg nyata.



--- Pada Kam, 23/7/09, amin doel menulis:

Dari: amin doel
Judul: [MR] Tawadhu'nya - Rasulullah
Kepada: majelisrasulullah@ yahoogroups. com
Cc: majelisrasulullah@ yahoogroups. com
Tanggal: Kamis, 23 Juli, 2009, 3:28 PM

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam adalah seorang yang sangat elok akhlaknya dan sangat agung wibawanya. Akhlak beliau adalah Al-Qur’an sebagaimana yang dituturkan ‘Aisyah Radhiallaahu anha, ia berkata: “Akhlak Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim).

Beliau juga pernah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).

Salah satu bentuk ketawadhu’an Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam adalah beliau tidak suka dipuji dan disanjung secara berlebihan.

Dari Umar bin Kaththab Radhiallaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda: “Janganlah kamu sanjung aku (secara berlebihan) sebagaimana kaum Nasrani menyanjung ‘Isa bin Maryam alaihis Salam secara berlebihan. Aku hanyalah seorang hamba Allah, maka panggillah aku dengan sebutan: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Daud).

Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Ada beberapa orang memanggil Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sambil berkata: “Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang yang terbaik di antara kami, wahai junjungan kami dan anak dari junjungan kami.” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam segera menyanggah seraya berkata: “Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya saja! Jangan sampai kamu digelincirkan setan. Aku adalah Muhammad hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak sudi kamu angkat di atas kedudukan yang dianugrahkan Allah Subhannahu wa Ta'ala kepadaku.” (HR. An-Nasai).

Sebagian orang ada yang menyanjung Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam secara berlebihan. Sampai-sampai ia meyakini bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengetahui ilmu ghaib atau meyakini bahwa beliau memiliki hak untuk memberikan manfaat dan menurunkan mudharat, bahwa beliau dapat mengabulkan segala permintaan dan menyembuhkan segala penyakit. Padahal Allah Subhannahu wa Ta'ala telah menyanggah keyakinan seperti itu.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik keman-fa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.” (Al-Araf: 188).

Demikianlah akhlak Nabi yang mulia, seorang utusan Allah Subhannahu wa Ta'ala, sebaik-baik manusia di muka bumi dan seutama-utama makhluk di kolong langit. Beliau senantiasa tunduk patuh dan bertaubat kepada Rabbnya. Beliau tidak menyukai kesombongan, bahkan beliau adalah pemimpin kaum yang tawadhu’ dan penghulu kaum yang tunduk patuh kepada Rabb Subhannahu wa Ta'ala.

Anas bin Malik Radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Tidak ada seorangpun yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam. Walaupun begitu, apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuk menyambut beliau. karena mereka mengetahui bahwa beliau Shallallaahu alaihi wa Salam tidak menyukai cara seperti itu.” (HR. Ahmad).

Layangkanlah pandanganmu kepada Nabi umat ini Shallallaahu alaihi wa Salam. Saksikan sikap tawadhu’ beliau yang sangat mengagumkan dan keelokan akhlak yang langka ditemukan. Beliau tetap bersikap tawadhu’ terhadap seorang wanita miskin. Beliau luangkan waktu untuk melayaninya, padahal waktu beliau penuh dengan amal ibadah.

Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: “Suatu hari seorang wanita datang menemui Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam ia mengadu kepada beliau sambil berkata: “Wahai Rasulullah, saya membutuhkan sesuatu dari Anda.” Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam berkata kepadanya: “Pilihlah di jalan mana yang kamu kehendaki di kota Madinah ini, tunggulah aku di sana, niscaya aku akan menemuimu (melayani keperluan-mu) .” (HR. Abu Daud).

Sungguh, beliau adalah pemimpin segenap ahli tawadhu’ baik dalam ilmu ataupun amal.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam beliau bersabda: “Andaikata aku diundang makan paha atau kaki binatang, niscaya aku kabulkan undangannya. Andaikata kepadaku hanya dihadiahkan kaki atau paha binatang, tentu akan aku terima hadiah itu.” (HR. Al-Bukhari).

Semoga hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam tadi menjadi pelajaran sekaligus peringatan bagi orang-orang yang takabbur dari sifat sombong dan angkuh.

Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bahwa beliau bersabda: “Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji zarrah kesombongan.” (HR. Muslim).

Sifat sombong merupakan jalan menuju Neraka, meskipun hanya sebesar biji zarrah. Cobalah lihat hukuman yang ditimpakan terhadap orang yang sombong dan angkuh cara berjalannya. Betapa besar kemurkaan dan kemarahan yang diturunkan Allah Subhannahu wa Ta'ala atasnya. Dan betapa pedih siksa yang dideritanya.

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam beliau bersabda: “Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaiannya, takjub dengan kehebatan dirinya sendiri, rambutnya tersisir rapi, berjalan dengan angkuh. Namun tiba-tiba Allah Subhannahu wa Ta'ala menenggelamkannya. Dia terus terbenam ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” (Muttafaq ‘alaih).

Cobalah perhatikan uban yang menghiasi rambut beliau. Jumlahnya lebih kurang delapan belas helai di kepala dan janggut beliau. Camkanlah dengan mata hatimu, dengarkanlah kisah uban putih tersebut dari penuturan beliau. Abu Bakar Radhiallaahu anhu pernah bertanya: “Wahai Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, sungguh Anda telah beruban.” Beliau menjawab: “Surat Hud, surat Al-Waqi’ah, surat Al-Mursalat, surat ‘Amma yatasaa‘aluun dan surat Idzasy Syamsu kuwwirat telah menyebabkan aku beruban.” (HR. At-Tirmdzi).

Wasiat Nasehat Imam Syafi’i.

• Seseorang yang mencoba melakukan apa-apa yang dilarang Allah swt selain dosa syirik, masih lebih daripada dia berfikir dengan pandangan ilmu kalam.

• Jika aku melihat seseorang yang ahli hadits, seakan-akan aku melihat seseorang dari sahabat Nabi saw. Mereka telah menjaga untuk kita keaslian sunnah Nabi Muhammad saw, maka mereka berhak mendapat pujian dari kita. Dan fiqih adalah tuannya ilmu, karena dengannnya hadits dapat dipahami.

• Tujuan dari ilmu adalah mengamalkannya, maka ilmu yang hakiki adalah yang terefleksikan dalam kehidupannya, bukannya yang bertengger di kepala.

• Satu hal yang dapat menyia-nyiakan orang yang berilmu dan yang dapat menghilangkan posisinya sebagai seorang ‘alim adalah ketika ia tidak mempunyai kawan.

• Jangan sekali-kali kamu tinggal di suatu Negara atau tempat yang yang disana tidak ada orang yang ahli dibidang fiqih sebagai tempat kamu untuk menanyakan masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang dapat menjelaskan kondisi kesehatanmu.

• Tidak ada satupun ilmu yang ingin aku pelajari setelah aku memahami tentang masalah halal dan haram, kecuali ilmu kedokteran, tapi mengapa kita jauh terbelakang disbanding dengan orang-orang nasrani?

• Jika engkau melihat seseorang berjalan di atas air dan bisa terbang di udara, maka janganlah kehebatan itu menjadikan kalian lengah dan terheran-heran kepadanya sampai kamu mengetahui secara persis atas apa yang di kerjakannya itu berlandaskan pada Al-Qur’an dan as-sunnah.

• Jika rasa ujub menghinggapi aktifitasmu, maka lihatlah keridhaan siapa yang kau harapkan, pahala mana yang kau suka, sanksi mana yang kau benci. Maka jika engkau memikirkan satu di antara kedua hal ini, niscaya akan hadir di depan matamu apa yang sudah kamu lakukan.

• Tawadhu’ adalah perkara yang sangat diidam-idamkan. Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukannya sendiri. Akan tetapi tawadhu’ dihadapan orang yang tidak bisa menghargai orang lain merupakan bentuk kezhaliman terhadap diri sendiri.

• Menghindarkan telinga dari mendengar hal-hal yang tidak baik merupakan suatu keharusan, sebagaimana seseorang mensucikan tutur katanya dari ungkapan buruk.

• Kedermawanan dan kemuliaan adalah dua hal yang dapat menutupi aib.

• Kesabaran adalah akhlak mulia, yang dengannya setiap orang dapat menghalau segala rintangan.

• Takabur ( sombong ) adalah akhlak tercela.

• Bid’ah itu terbagi menjadi dua macam : segala sesuatu yang baru dan tidak sejalan dengan kitab, sunnah, atsar, ijma’ itu merupakan bid’ah dhalalah ( bid’ah yang sesat ). Sementara jika sesuatu yang baru itu tidak berseberangan dengan Al-Qur’an, hadits, atsar dan ijma’, maka sesuatu yang baru itu disebut bid’ah hasanah ( bid’ah yang baik ).

• Cukuplah ilmu itu menjadi keutamaan bagi seseorang, ia bangga manakala disebut sebagai orang berilmu. Ia juga disebut bodoh manakala meninggalkan bagian dari pengetahuannya, dan jika kata bodoh itu ditujukan kepadanya, tentu ia akan marah.

• Pekerjaan terberat itu ada tiga ; Sikap dermawan di saat dalam keadaan sempit; Menjauhi dosa di kala sendiri; Berkata benar di hadapan orang yang ditakuti.

• Barangsiapa yang ingin menjadi seorang pemimpin, niscaya kedudukan yang didambakannya itu akan meninggalkannya, dan jika ia telah menduduki jabatan, maka ia akan ditinggalkan banyak ilmu.

• Yang paling nampak pada diri manusia adalah kelemahannya, maka barangsiapa melihat kelemahan dirinya sendiri, ia akan menggapai keistiqamahan terhadap perintah Allah swt.

• Dunia adalah tempat yang licin nan menggelincirkan, rumah yang hina, bangunan-bangunanny a akan runtuh, penghuninya akan beralih ke kuburan, perpisahan dengannya adalah sesuatu keniscayaan, kekayaan di dunia sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kemiskinan, bermegah-megahan adalah suatu kerugian, maka memohonlah perlindungan Allah swt, terimalah dengan hati yang lapang segala karunia-Nya. Jangan terpesona dengan kehidupanmu di dunia sehingga meninggalkan kehidupan Akhirat. Ketahuilah, sesungguhnya hidupmu di dunia akan sirna, dindingnya juga miring dan hancur, maka perbanyaklah perbuatan baik dan jangan terlalu banyak berangan-angan.

• Menganggap benar dengan hanya satu pandangan merupakan suatu bentuk ketertipuan. Berpegangan dengan suatu pendapat itu lebih selamat daripada berkelebihan dan penyesalan. Melihat dan berpikir, keduanya akan menyingkap keteguhan hati dan kecerdasan. Bermusyawarah dengan orang bijak merupakan bentuk kemantapan jiwa dan kekuatan mata hati. Maka, berpikirlah sebelum menentukan suatu ketetapan, atur strategi sebelum menyerang, dan musyawarahkan terlebih dahulu sebelum melangkah maju ke depan.

• Kebaikan itu ada di lima perkara : kekayaan hati, bersabar atas kejelekan orang lain, mengais rezeki yang halal, taqwa, dan yakin akan janji Allah swt.

• Pilar kepemimpinan itu ada lima : perkataan yang benar, menyimpan rahasia, menepati janji, senantiasa memberi nasihat dan menunuaikan amanah.

• Keluarga manapun yang wanita-wanitanya tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang bukan anggota keluarga, dan laki-lakinya tidak pernah bertemu dengan wanita-wanita yang bukan dari keluarganya, niscaya akan ada dari anak-anak mereka yang bodoh.

• Keridhaan semua manusia adalah satu hal yang mustahil untuk dicapai, dan tidak ada jalan untuk terselamatkan dari lidah mereka, maka lakukanlah apa yang bermanfaat untuk dirimu dan berpegang teguhlah dengannya.

• Kesia-siaan seorang Alim adalah ketika dia tidak mempunyai kawan, dan kesia-siaan seorang yang bodoh adalah pikirannya yang dangkal. Dan yang lebih sia-sia dari keduanya adalah seorang yang punya kawan namun tak berakal.

• Barangsiapa yang dipancing untuk marah, namun ia tidak marah, maka dia tak ubahnya keledai, dan barangsiapa yang diminta keridhaannya namun tidak ridha, maka dia adalah syetan.

• Terimalah dariku tiga hal :

a. Jangan berbicara panjang lebar tentang sesuatu yang tidak baik perihal Sahabat Rasulullah saw, karena kelak Rasulullah saw nantinya yang akan menjadi seterumu.
b. Janganlah kamu sibukkan dirimu dengan ilmu kalam, sesungguhnya aku telah melakukan kajian dengan ahli ilmu kalam dan mereka telah melakukan ta’thil ( meniadakan sifat Allah swt ).
c. Dan jangan menyibukkan dirimu dalam nujum ( ramalan dengan bintang ).

• Kenyang itu akan membuat badan jadi berat, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mengajak tidur dan melemahkan ibadah.

• Engkau harus berlaku Zuhud, sesungguhnya zuhudnya orang yang zuhud itu lebih baik dari perhiasan yang ada pada tubuh wanita yang menawan.

• Dasar ilmu adalah kemantapan dan buahnya adalah keselamatan. Dasar Wara’ ( menjaga diri dari sesuatu yang meragukan ) adalah Qona’ah ( menerima karunia Allah swt dengan dada yang lapang ) dan buahnya adalah ketenangan batin. Dasar Kesabaran adalah keteguhan hati dan buahnya adalah kemenangan. Dasar suatu Aktifitas adalah Taufiq ( pertolongan Allah swt ) dan buahnya adalah kesuksesan. Dasar Tujuan akhir dari segala Perkara adalah Shidiq ( benar ).

• Terlalu keras dan menutup diri terhadap orang lain akan mendatangkan musuh, dan terlalu terbuka juga akan mendatangkan kawan yang tidak baik, maka posisikan dirimu di antara keduanya.

• Jadikanlah diam sebagai sarana atas pembicaraanmu, dan tentukan sikap dengan berfikir.

• Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya.

• Jika engkau mendengar sesuatu yang engkau benci tentang sahabatmu, maka jangan tergesa-gesa untuk memusuhinya, memutus tali persahabatan, dan kamu menjadi orang yang telah menghilangkan suatu keyakinan dengan keraguan. Tetapi temuilah dia! Dan katakan kepadanya, “Aku mendengar kamu melakukan ini dan itu….?” Tentunya dengan tanpa memberitahukan kepadanya siapa yang memberi informasi kepadamu. Jika ia mengingkarinya, maka katakana kepadanya, “Kamu lebih jujur dan lebih baik”, cukup kalimat itu saja dan jangan menambahi kalimat apapun. Namun jika ia mengakui hal itu, dan ia mengemukakan argumentasinya akan hal itu, maka terimalah.

• Sesungguhnya Hasad itu terlahir dari suatu kehinaan, lekatnya tabiat, perubahan struktur tubuhnya, runtuhnya temperatur tubuh dan lemahnya daya nalarnya.

• Orang yang paling Zhalim adalah mereka yang melakukan kezhaliman itu pada dirinya sendiri. Bentuk kezhaliman itu adalah :
o orang yang bersikap tawadhu’ ( rendah hati ) di depan orang yang tidak menghargainya.
o menumpahkan kasih sayangnya kepada orang yang tidak ada nilai manfaat.
o mendapat pujian dari orang yang tidak dikenalnya.

• Siapa yang menginginkan khusnul khotimah dipenghujung umurnya, hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia.

• Bersihkan pendengaran kalian dari hal-hal yang tidak baik, sebagaimana kalian membersihkan mulut kalian dari kata-kata kotor, sesungguhnya orang yang mendengar itu tidak jauh berbeda dengan yang berucap. Sesungguhnya orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling jelek dalam dirinya, kemudian ia berkeinginan untuk menumpahkannya dalam diri kalian, andaikan kalimat yang terlontarkan dari orang bodoh itu dikembalikan kepadanya, niscaya orang yang mengembalikan itu akan merasa bahagia, begitu juga dengan kehinaan bagi orang yang melontarkannya.

• Orang yang mengkaji ilmu faraid, dan sampai pada puncaknya, maka akan tampil sebagai sosok orang yang ahli berhitung. Adapun ilmu hadits, itu akan tampak nilai keberkahan dan kebaikannya pada saat tutup usia. Adapun ilmu fiqih merupakan ilmu yang berlaku bagi semua kalangan baik muda maupun yang tua, karena fiqih merupakan pondasi dasar dari segala ilmu.

• Di antara orang yang tidak mempunyai harga diri adalah mereka yang dengan mudahnya memberitahukan usianya kepada orang lain, karena kalau usianya lebih muda, tentu mereka akan menganggapnya rendah dan jika usianya lebih tua, tentu mereka akan beranggapan bahwa ia sudah pikun.

• Peranti terbentuknya harga diri itu ada empat : kemuliaan akhlak, kedermawanan, sikap santun dan ibadah ( yang istiqamah ).

• Tidak termasuk saudaramu orang yang senang mencari muka di hadapanmu.

• Tidak ada seorangpun yang hidup dengan tanpa adanya orang yang dicintai dan orang yang dibenci, kalau memang demikian realitasnya, maka hendaknya ia senantiasa bersama orang-orang yang taat kepada Allah swt.

• Jika telah ada akar yang tertanam dalam kalbu, maka lidah akan berperan sebagai pemberi kabar cabangnya.

• Karakter umum manusia adalah pelit, termasuk hal yang menjadi kebiasaannya adalah apabila ada orang yang mendekatinya, maka ia akan menjauhinya, dan apabila ada orang yang menjauh darinya, iapun akan mendekati orang itu.

• Siapa yang memberi nasehat saudaranya di tempat yang sunyi, maka ia telah melakukan perbaikan pada dirinya, dan siapa yang memberi nasehat saudaranya di tempat keramaian, sesungguhnya ia membuka aib dan menghianatinya.

• Seorang bijak menulis kepada seorang bijak lainnya : “wahai saudaraku, engkau telah dianugerahi ilmu, maka janganlah kamu kotori ilmumu dengan gelapnya dosa, sehingga kamu berada dalam kegelapan di saat para ahli ilmu berjalan dengan suluh ilmunya.

• Barangsiapa menghendaki akhirat, maka hendaknya ia ikhlas dalam mencari ilmu.

• Kepandaian itu ada dalam masalah agama, bukan dalam masalah keturunan, kalau saja kepandaian diukur dalam masalah keturunan, maka tak ada satu orang pun yang cakap seperti Fatimah putri Rasulullah saw dan putri-putri beliau yang lain.

• Tidak ada orang yang mencari ilmu yang disertai dengan kemalasan; dan kekayaan menjadikan seseorang beruntung, namun keberuntungan itu akan melekat dalam diri orang yang senantiasa mencari ilmu dengan disertai semangat yang tinggi dan prihatin sreta bersanding selalu dengan Ulama.

• Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketabahan.

• Janganlah kamu berkonsultasi kepada orang yang di rumahnya tidak terdapat makanan, karena hal tersebut menandakan tidak berfungsinya akal mereka.

• Bukanlah orang yang berakal itu manakala dihadapkan kepadanya perkara yang baik dan perkara yang buruk, lantas ia memilih yang baik, akan tetapi dikatakan orang berakal apabila dihadapkan kepadanya dua hal yang buruk lantas ia memilih yang paling ringan keburukannya di antara keduanya.

• Besarnya rasa takut itu sesuai dengan kapasitas ilmunya. Tiada seorang alim pun yang ia takuti kecuali kepada Allah swt. Yang merasa aman akan marah Allah swt, dialah si-jahil. Yang merasa takut akan marah Allah swt, dialah si-arif.

• Andaikan semua manusia memikirkan kandungan isi surah al-Ashr, tentu mereka akan merasa cukup dengannnya.

• Kalau aku melihat orang yang suka mengikuti hawa nafsunya, walaupun ia berjalan di atas air, aku tidak akan menemuinya.

• Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an, maka mulia nilainya. Barangsiapa berbicara tentang fiqih, maka akan berkembang kemampuannya. Barangsiapa menulis hadits, maka akan kuat hujjahnya. Barangsiapa mengkaji bahasa, maka akan lembut tabiatnya. Barangsiapa mengkaji ilmu hitung, maka akan sehat pikirannya. Barangsiapa tidak menjaga jiwanya, maka ilmunya tidak akan berguna baginya.

• Perdebatan dalam agama akan mengeraskan hati dan menimbulkan rasa dendam.

• Tiada aib dalam diri Para Ulama yang lebih buruk dari kesenangan mereka terhadap apa yang Allah swt perintahkan kepada mereka untuk berlaku zuhud terhadapnya.

• Setiap orang yang berbicara dengan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits itulah orang orang yang bersungguh-sungguh, sementara orang yang berbicara dengan tanpa landasan dari keduanya itu merupakan bualan saja.

• Pondasi dasar adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika tidak didapati dari keduanya, maka Qiyaslah berlaku. Jika hadits itu shahih, itulah yang disebut sunnah. Ijma’ itu lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada hadits ahad. Yang diambil dari hadits itu adalah teksnya, namun jika hadits tersebut mengandung banyak penafsiran, maka carilah yang mendekati makna teksnya.

• Mencari ilmu lebih utama daripada shalat sunnah. Mempelajari hadits itu lebih baik daripada shalat tathawwu.

• Ilmu terbagi dua ; ilmu kesehatan dan ilmu agama. Yang dimaksud dengan ilmu agama disini adalah ilmu fiqih, sementara ilmu kesehatan adalah ilmu kedokteran.

• Orang yang pandai akan bertanya tentang apa yang ia ketahui dan tidak ia ketahui. Dengan menanyakan apa yang ia ketahui, maka ia akan semakin mantap, dan dengan menanyakan apa yang belum ia ketahui, maka ia akan menjadi tahu. Sementara orang bodoh itu meluapkan kemarahannya karena ( sulitnya ) ia belajar, dan tidak menyukai pelajaran.

• Sejelek-jelek bekal menuju ke alam akhirat adalah permusuhan dengan sesamanya.

• Kaji dan dalamilah sebelum engkau menduduki jabatan, karena kalau engkau telah mendudukinya, maka tidak ada kesempatan bagimu untuk mengkaji dan mendalaminya.

• Pelajarilah dengan teliti suatu pengetahuan, agar engkau tidak kehilangan kedalaman arti kandungannya.

• Pesona para ulama adalah jiwa yang mulia dan sebagai penghias pengetahuan yang dimilikinya adalah wara’ ( menjauhkan diri dari sesuatu yang belum jelas ) dan berlaku bijak.

• Siapa yang merasa bahwa dalam dirinya terkumpul dua cinta, cinta dunia dan cinta kepada penciptanya, maka ia telah berdusta.

• Ketahuilah bahwa orang yang jujur kepada Allah swt, ia akan selamat. Barangsiapa yang bersemangat dengan agamanya, ia pun akan selamat dari kerusakan, dan barangsiapa yang berlaku zuhud dengan urusan dunianya, niscaya kelak pahala Allah swt, akan nampak indah di matanya.

• Barangsiapa terkumpul dalam dirinya tiga sifat, maka imannya telah sempurna : orang yang menyeru kepada kebaikan dan dia juga melaksanakannya, melarang pada perbuatan buruk dan dia tidak melakukannya serta menjaga aturan-aturan yang telah Allah swt tetapkan.

• Berlakulah zuhud dalam menjalani hidup di dunia, dan cintailah kehidupan akhirat dan barangsiapa harum bau ( badan )nya, maka kecerdasannya akan semakin bertambah.

• Suatu keharusan bagi orang yang ‘alim adalah zikir dari setiap aktifitasnya yang dengannya akan terjalin komunikasi antara dirinya dengan Allah swt.

• Jikalau seseorang dari kalian berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai keridhaan setiap orang, niscaya ia tidak akan menemukan jalannya; maka hendaklah seorang hamba mengikhlaskan amalannya ke haribaan Allah swt.

• Tidak ada yang tahu tentang riya, kecuali orang yang ikhlas.

• Tak pantas, siapapun mengatakan halal dan haram kecuali berlandaskan pada pengetahuan. Dan ilmu itu adalah apa yang yang tertulis dalam Al-Qur’an, hadits, ijma’ ataupun qiyas. Dari dasar inilah kesemuanya akan terungkap maknanya.

• Keutamaan itu ada empat :
Pertama : hikmah, dan penopangnya adalah pemikiran.
Kedua : iffah ( menjaga harga diri ), dan penopangnya adalah syahwat.
Ketiga : kekuatan, penopangnya adalah kemarahan.
Keempat : adil, penopangnya adalah kekuatan jiwa.

• Kefaqiran Ulama adalah ikhtiar ( usaha ) dan kefaqiran orang-orang bodoh adalah goncangan jiwanya.

• Barangsiapa yang tidak dimuliakan karena ketaqwaannya, maka dia tidak memiliki harga diri.

• Mencari-cari kelebihan materi di dunia adalah hukuman yang Allah swt timpakan kepada ahli Tauhid.

• Barangsiapa benar dalam berukhuwah dengan saudaranya, maka kekurangannya akan diterima, kelemahannya akan ditutup dan kesalahan-kesalahan nya dimaafkan.

• Barangsiapa mengadu domba untuk kepentinganmu, maka dia akan mengadu domba dirimu; dan barangsiapa menyampaikan fitnah kepadamu, maka ia akan memfitnahmu.

• Barangsiapa jika engkau menyenangkannya, dia berkata : pada dirimu ada yang bukan milikmu. Begitu juga ketika kau membuatnya marah, dia berkata : pada dirimu ada yang bukan milikmu.

• Tak akan sempurna ( akal ) seorang laki-laki, kecuali dengan empat hal; beragama, amanah, pemeliharaan dan penjagaan diri, serta ketenangan dan ketabahan.

• Rendah hati adalah akhlaqnya mulia, sedang kesombongan adalah kebiasaan orang tercela. Rendah hati akan menumbuhkan kecintaan dan lapang dada menerima pemberian Allah swt akan melahirkan ketenangan jiwa.

• Andaikan aku ditakdirkan mampu menyuapkan ilmu kepadamu, pasti kusuapi engkau dengan ilmu.

• Aku akan merasa bahagia, jika semua orang mempelajari ilmu ini, dan sama sekali tidak menyandarkannya padaku.

• Betapa aku senang, jika semua ilmu yang aku ketahui dimengerti oleh semua orang, maka dengannya aku mendapat pahala, meskipun mereka tidak memujiku.

• Menuntut ilmu membutuhkan tiga hal : memiliki keterampilan, umur ( waktu ) yang panjang dan mempunyai kecerdasan.

• Sebaik-baik harta simpanan adalah taqwa, dan sejelek-jeleknya adalah sikap permusuhan.

• Siasat manusia jauh lebih dahsyat dari siasat binatang.

• Orang yang berakal adalah mereka yang dapat menjaga dirinya dari segala perbuatan tercela.

• Seorang hamba yang terjatuh pada perbuatan dosa selain dosa syirik itu lebih baik daripada ia terkungkung oleh hawa nafsunya.

• Barangsiapa yang dirinya terkalahkan oleh kuatnya syahwat dunia, maka ia akan senantiasa menjadi budak ahli dunia; dan barangsiapa yang qana’ah ( menerima karunianya dengan lapang dada ) maka akan hilang ketundukannya pada dunia.

• Tiada kebahagiaan yang menyamai persahabatan dengan saudara yang satu keyakinan, dan tiada kesedihan yang menyamai perpisahan dengan mereka.

• Berapa banyak orang yang telah berbuat kebajikan kepadamu yang membuatmu terbelenggu dengannya, dan berapa banyak orang yang memperlakukanmu dengan kasar dan ia memberi kebebasan kepadamu.

• Barangsiapa yang menghargai dirinya melebihi kapasitasnya, maka Allah swt akan mengembalikannya kepada nilai sesungguhnya dalam dirinya.

• Barangsiapa berhias diri dengan kebatilan, maka Allah swt akan membuka penutup kejelekannya.

• Hendaklah ada bersama ahli fiqih seorang yang bodoh, sehingga ia dapat memberi pelajaran kepadanya.

• Yang menjadi pengganti Nabi Muhammad saw itu ada lima : Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq, Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina Umar bin Abdul Aziz.

• Barangsiapa yang ditertawakan karena suatu masalah, maka ia tidak akan pernah melupakan masalah tersebut.

• Tingkat tertinggi para Ulama adalah ketaqwaan, perhiasan mereka adalah akhlaq mulia dan pesona mereka adalah jiwa yang agung.

• Jika kalian melihat kitab yang didalamnya ada catatan tambahan dan perbaikan, maka lihatlah kebenaran yang ada didalamnya.

• Mereka yang menguasai bahasa arab adalah jin yang berupa manusia, mereka melihat apa yang tidak dilihat orang lain.

• Sesungguhnya akal itu punya batas maximal, sebagaimana mata juga mempunyai batas pandang maximal.

• Orang yang selalu menjaga dirinya akan senantiasa bersungguh-sungguh.

• Pertolongan adalah zakatnya muru’ah.

• Jika terdapat banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, maka mulailah dari yang terpenting dan mendesak.

• Barangsiapa menyimpan rahasianya, maka kebaikan ada di tangannya.

• Siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka harus disertai dengan ilmu; dan siapa menghendaki akherat, juga harus dengan ilmu.

FIQH IMAM SYAFI'I (5)
Oleh: Alhabib Shodiq bin Abubakar Baharun


BAB PUASA

Bismillahirrahmanir rahiim

Allah berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
(QS. Al Baqarah:183)

Ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dan Al Baihaqi dari Abu Huroiroh, yang artinya:
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan atas kamu berpuasa pada-Nya. Sepanjang bulan Ramadhan itu dibuka segala pintu syurga dan ditutup segala pintu neraka serta dibelenggu segala syaitan…”.



Pengertian Puasa

Puasa artinya menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari.

Waktu diwajibkannya berpuasa pada tahun ke-2 hijriyah yaitu pada bulan Sya’ban dan Rasulullah s.a.w berpuasa selama 9 kali Ramadhan.



Puasa Wajib

Puasa bulan Ramadhan, puasa kifarat, puasa nadzar, puasa qodo’ dan puasa haji serta umroh untuk menggantikan dari fidyah.



Puasa Sunat

1. Puasa 6 hari ba’da bulan Syawal (harus urut, boleh di awal, tengah atau di akhir).

2. Puasa Hari Arafah (tanggal 8 atau 9 Dzulhijjah).

3. Puasa Hari Asyura pada 10 Muharam dan 9 Muharam.

4. Puasa bulan Sya’ban (afdolnya 1 bulan penuh atau beberapa hari saja).

5. Puasa Isnin dan Khomis (Senin dan Kamis).

6. Puasa tengah bulan yaitu 13, 14, 15 pada bulan qamariah (tahun Hijriyah).

7. Puasa tanggal 1 – 9 bulan Dzulhijjah.



Puasa Makruh

1. Puasa yang terus-menerus sepanjang masa (kalau tidak ada amalan).

2. Puasa hari Sabtu tanpa dibarengi dengan hari Jum’at atau hari Ahad.



Puasa Haram

1. Dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha)

2. Hari tasyriq 11, 12, 13 Dzulhijjah.

3. Hari syak (Ragu) yaitu tanggal 30 akhir bulan Sya’ban.



Pekerjaan yang Makruh di Bulan Puasa

1. Sikat gigi setelah subuh sampai terbenam matahari (apabila dilakukan dan sampai masuk tenggorokan, maka puasanya batal).

2. Buang air besar setelah subuh sampai terbenam matahari (apabila dilakukan sewaktu membuang hajat sebelum tuntas keluar dan sisa kotoran itu masuk lagi ke lubang dubur, maka puasanya batal).



Syarat Syahnya Berpuasa

1. Islam

2. Aqil (berakal)

3. Bersih dari haid dan Nifas (suci)

4. Mengetahui tentang waktunya berpuasa, waktunya dari terbitnya Fajar Shodiq (awal waktu shubuh) sampai terbenamnya matahari (bulatannya) secara menyeluruh (awal waktu maghrib).



Syarat Wajib Berpuasa

1. Islam (maka kafir tidak wajib berpuasa).

2. Taklif / baligh dan berakal (maka anak kecil dan orang gila tidak wajib berpuasa).

3. Mampu dhohir dan bathin (maka orang yang berumur tua kurang lebih 70 tahun atau orang yang sakit yang kata dokter tidak bisa sembuh tidak wajib puasa).

4. Sehat jasmani.

5. Orang yang bermukim (kalau musafir / orang yang berpergian melebihi 82 km) maka tidak wajib berpuasa asalkan dalam berpergian tidak niat maksiat.



Rukunnya Berpuasa

1. Niat berpuasa setiap hari waktunya dari habis maghrib sampai imsak (sebelum adzan shubuh) dan niatnya:
“Nawaitu souma ghodin ‘an adai fardli syahri romadhona hadhihi sanati Lillahi ta’ala”

Menurut Madzhab Syafi’i:
“Kita dianjurkan niat satu bulan penuh di tanggal satu Ramadhan untuk menghindari kalau kita lupa niat puasa dihari-hari berikutnya, tapi kita diwajibkan berniat puasa di setiap hari kalau kita ingat. (satu bulan penuh ghadin diganti syahrakulahaa) .

2. Meninggalkan sesuatu yang membatalkan puasa dalam keadaan sadar dan mengetahui tentang yang membatalkan puasa.

3. Orang yang berpuasa (dirinya sendiri).



Yang Membatalkan Puasa

1. Makan dan minum dengan sengaja.

2. Jimak dengan disengaja dan sadar.

3. Murtad (keluar dari Islam).

4. Haid (darah yang keluar seteiap bulan untuk kaum wanita).

5. Nifas (darah yang keluar setelah melahirkan).

6. Melahirkan (walaupun segumpal darah atau daging / keguguran).

7. Gila (hilang ingatan) walaupun sebentar.

8. Pingsan dan ayan (kurang lebih 5 jam).

9. Mabuk (kurang lebih 5 jam).

10. Suntik / injeksi pada bagian tubuh di atas pusar.



Macam-macam Hukum untuk Membatalkan Puasa

Wajib :
Untuk wanita haid dan nifas dan melahirkan (wiladah).

Jaiz atau diperbolehkan :
Untuk orang yang berpergian luar kota dengan niat tidak untuk berbuat maksiat dan sakit dan jarak berpergiannya 82 km.

Tidak wajib dan tidak jaiz :
Untuk orang gila.

Haram :
Seperti orang yang mempunyai hutang puasa di tahun yang telah lewat dan mampu untuk mengqodho puasa tapi tidak berpuasa sampai datangnya bulan Ramadhan lagi.



Macam-macam Qodho dan Fidyah (denda) untuk Orang yang Berpuasa

Yang pertama.
Wajib mengqodho puasa dan membayar fidyah / denda (hanya berupa beras 1 mud (dua tangan digabung) kurang lebih ¾ kg dan diberikan kepada fakir miskin:

1. Berbuka puasa karena takut / mengkhawatirkan keadaan orang lain seperti menyelamatkan hewan / orang yang tenggelam dan wanita yang menyusui atau wanita hamil. Jika karena takut / mengkhawatirkan diri sendiri maka hanya diwajibkan mengqodho saja, sedangkan kalau takut keduanya (dirinya dan orang lain) maka wajib mengqodho dan bayar fidyah / denda.

2. Orang yang mempunyai hutang puasa di tahun yang telah lewat dan mampu mengqodho puasa tapi tidak berpuasa sampai datangnya bulan Ramadhon lagi.

Mabuk dengan cara bermaksiat.


Yang kedua:
Wajib mengqodho tanpa mengeluarkan fidyah:

1. Seperti orang pingsan dan ayan.

2. Meninggalkan niat puasa tanpa sengaja dan lupa niat 1 bulan penuh.

3. Yang sengaja membatalkan puasa (asalkan tidak melakukan maksiat)


Yang ketiga:
Diwajibkan mengeluarkan fidyah tanpa mengqodho puasa bagi orang tua yang berumur kurang lebih 70 tahun ke atas dan tidak mampu berpuasa. Bagi orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya.


Yang keempat:
Yang tidak diwajibkan mengqodho puasa dan mengeluarkan fidyah bagi orang gila yang tidak bisa diharapkan sembuh.



Bab yang Tidak Membatalkan Puasa Apabila Masuk Dilubang Tubuh

1. Yang masuk dilubang tubuh dalam keadaan lupa (tanpa sengaja).

2. Bodoh (tidak mengetahui hukum tentang berpuasa dan jauh dari para ulama’).

3. Dipaksa (apabila dia tidak mampu melawan, tidak ada yang membantu dan tidak ada pilihan lain).

4. Ketelan sisa-sisa makanan yang ada disela-sela gigi dengan syarat dia sudah membersihkannya.

5. Masuknya debu jalanan dan debu tepung ke dalam hidung dan mulut walaupun banyak.

6. Membuka mulut sehingga kemasukkan lalat dan sejenisnya, tapi seukuran lalat atau lebih kecil disengaja atau tidak disengaja walaupun banyak.



Bab yang Menghilangkan Pahala Puasa

1. Berbohong

2. Mengadu domba

3. Membicarakan aib orang lain

4. Semua perbuatan dosa kecil maupun besar

5. Jika seseorang mempunyai hutang puasa tapi belum ada kesempatan untuk mengqodho (membayar) kemudian dia meninggal, maka walinya diperbolehkan untuk mengqodho (membayar) atau menggantikan dengan mengeluarkan 1 mud (2 tangan digabungkan) kira-kira ¾ kg. (Seperti yang tertera di kitab taqrirot assadinah)

6. Tidak boleh makan atau minum tatkala adzan shubuh, maka puasanya batal dan wajib mengqodho karena adzan shubuh yang ada disekitar kita itu sendiri sudah melebihi waktu fajar.



Sunnah Berpuasa Ramadhan, diantaranya:

1. Mempercepat berbuka (yaitu ketika yakin terbenamnya matahari /mendengar adzan langsung berbuka walaupun sekedarnya).

2. Sahur walaupun dengan seteguk air.

3. Mengakhirkan sahur (yaitu makan dan minum sebelum adzan shubuh kurang lebih ½ jam).

4. Berbuka dengan sesuatu yang manis.

5. Berbuka dengan kurma dan jumlahnya ganjil.

6. Berdoa tatkala berbuka.

7. Memberi makanan / minuman untuk orang yang berpuasa.

8. Beramal sholeh.




Artikel sebelumnya tentang Fiqh Imam Syafi'i:

a. Seri 1
http://madadunnabaw iy.blogspot.com/2009/ 07/fiqh-imam-syafii-1.html

b. Seri 2
http://madadunnabaw iy.blogspot.com/2009/ 07/fiqh-imam-syafii-2.html

c. Seri 3
http://madadunnabaw iy.blogspot.com/2009/ 07/fiqih- imam-syafii-3.html

d. Seri 4
http://madadunnabaw iy.blogspot.com/2009/ 07/fiqh-imam-syafii-4.html
__._,_.___

Menagih hutang kepada Rasulullah.

Assalamualaikum wr wb,

Dalam perjuangan dakhwah,dan untuk itu memenuhi kebutuhan keluarga,Rasulullah saw terkadang berhutang kepada seseorang.pada suatu hari,sebuah daerah yang sebagian besar penduduknya adalah umat islam yang mengalami paceklik.demi menolong mereka dan memperkuat iman yang baru tumbuh tersebut,rasulullah saw berhutang 20 sho' kurma kepada seorang yahudi yang bernama zaid bin sa'iyyah dan mengirimkan kurma tersebut kepada mereka yang kelaparan.tiga hari sebelum batas waktu pelunasan tiba,si yahudi mencari nabi saw untuk menagih hutangnya.

hari itu rasulullah saw sedang melayat jenazahseorang sahabat anshar barnama sayyidinaabu bakar,umar,utsman,dan sejumlah sahabat lainnya.selepas sholat jenazah,rasul saw berjalan ke sebuah tembok dan duduk di dekatnya,si yahudi yang menyaksikan rasul lagi duduk beristirahat,penuh dengan emosi,ia mencengkeram baju nabi saw dan menariknya dengan keras sembari berkata:

"Hai muhamad,apakah kamu tidak mau melunasi hutangmu kepadaku.
sungguh,selama ini aku tidak pernah melihat keluarga Abdul muththalib
terlambat membayar hutangnya .Aku sudah lama bergaul dengan kalian."

Sayyidina Umar yang menyaksikan peristiwa ini tak kuasa menahan diri,beliau memandang tajam yahudi tersebut dan barkata:

"Hai musuh Allah,apakah ucapan yang kudengar tadi benar-banar kau tunjukan kepada Rasulullah saw? apakah perbuatanmu kepada beliau yang baru saja kusaksikan benar-benar terjadi? Demi Allah yang telah mengutusnya dengan benar,andaikata aku tidak marasa khawatir akan merusak perjanjian damai antara muslimin dengan kaummu,maka pasti telah kupenggal kepalamu."

lain halnya dengan rasul saw,kendati diperlakukan dengan kasar beliau tetap tenang dan ramah.beliau memandang sayyidina umar dan tersenyum kepadanya sembari berkata:

"Duhai umar,sesungguhnya aku dan dia{si yahudi} membutuhkan darimu perlakuan yang lebih baik dari ini.seharusnya kamu perintahkan aku untuk melunasi hutangku dengan baik dan kamu perintahkan dia untuk menagih pula hutangnya dengan baik pula.sekarang antarkan dia dan tambahkan lagi 20 sho' khurma sebagai ganti atas perlakuan kasarmu tadi kapadanya."

sayyidina umar pun melaksanakan perintah rasul saw tersebut.

menyaksikan ini semua,si yahudi itu berkata kepada sayyidina umar:

''Duhai umar,ketahiulah semua ciri-ciri kenabian telah kusaksikan pada wajah rasul saw ketika aku memandangnya.hanya saja masih ada dua hal yang belum kuuji,yaitu kesantunanya mengungguli ketidakramahannya dan ketidakramahan seseorang kepadanya justru membuatnya semakin santun.sekarang aku telah menguji dan membuktikannya secara langsung.maka,saksikanlah bahwa aku talah rela Allah sebagai tuhanku,islam sebagai Agamaku,dan Muhammad saw sebagai Nabiku."{H.R.Ibnu hiban}

keindahan budi di dalam berhutang dan melunasi hutang telah terkikis pada umat ini.mereka kini telah jauh dari ajaran nabinya,mereka tidak mengenal bagaimana kehidupan Rasulullah saw.


Catatan Aisyah Ali.


Wassalamualaikuim wr wb.

Rabu, Juli 22, 2009

Jawaban Habibana Munzir tentang pertanyaan CAPRES.



Saudaraku yg kumuliakan,
maaf saya lama tidak online karena di Madinah selama beberapa hari yg lalu, memang diantara dua capres, keduanya muslim, pria, dan keduanya tidak terlalu banyak berbeda, namun Yusuf Kalla lebih menyolok dalam keperduliannya terhadap islam, dan beliau selalu hadir di event besar majelis Rasulullah saw tanpa diundang, beliau lihat baliho di jalan lalu langsung perintahkan sekprinya untuk menghubungi sekertariat MR apakah beliau boleh hadir?, maka kita menyambut hangat niat mulia seorang wapres yg demikian itu,

kejadian itu jauh sebelum pemilu, sekitar 2 tahun yg lalu.. dan saya sendiri melihat akhlah mulia beliau dan penghormatannya yg belum pernah saya lihat pejabat apalagi tingkat Ring 1 sampai sedemikian santunnya,

beliau makan bersama murid murid saya, anak anak yatim, anak anak papua, makan dari makanan kotak berisi makanan sederhana, duduk bersama kita dg sendok plastik dan aqua plastik, sama rata dg para fuqara, dan terlihat tidak dibuat buat.

beliau tidak suka protokoler, dan beliau menyesuaikan diri dg kita, sebagaimana acara acara kita di Istiqlal, monas yg beberapa kali dihadiri beliau, para paspampres dan sekpri nya mengajukan aturan acara, harus mulai jam sekian, harus selesai jam sekian, wapres sambutan jam sekian..

semua saya tolak, saya katakan kalau beliau mau hadir ikuti acara kami, saya mulai jam sekian, selesai jam sekian, sambutan beliau jam sekian, jika beliau berkenan hadir jam berapa saja silahkan, jika akan meninggalkan majelis maka mesti selepas maulid dan ceramah saya, jika tidak berkenan karena ada skedul lain, maka baiknya hadir di event lainnya.

maka ketika hal itu diajukan pada beliau, beliau malah ikut saja dan setuju, dan beliau datang di awal acara dan keluar saat selesai acara.

maka saya menyenangi beliau..

namun saudaraku, secara fikiran yg bijaksana, tidak mustahil SBY pun demikian, namun karena saya belum mengenalnya dg dekat saja, bisa saja SBY tidak seperti yusuf kalla, tapi bisa saja sama seperti JK, atau mungkin lebih santun lagi, saya tidak bisa mengambil kesimpulan mana yg lebih baik kecuali jika telah jumpa dg keduanya.

maka memang selama ini MR condong pada JK, karena belum mengenal SBY.

namun jika Allah menghendaki SBY sebagai presiden kembali, kita doakan saja semoga kebaikannya yg masa lalu tetap terjaga, dan kesalahannya yg masa lalu diperbaiki oleh Allah swt.

dan kita tidak berfihak dg mutlak kpd salah satu, siapapiun yg memimpin negara ini selama ia muslim maka ia pemimpin kita

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a'lam

Hadith Nabi Mengharuskan Talqin


Mari kita singkap hadith Nabi Muhammad sendiri menyuruh amalan talqin yang diriwayatkan oleh Imam At-Tobarony dalam Mu’jam Sighir dan Mu’jam Kabir daripada Abi Umamah Al-Bahily berkata :

[إذا أنا مت فاصنعوا بي كما أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نصنع بموتانا، أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: إذا مات أحد من إخوانكم فسويتم التراب على قبره فليقم أحدكم على رأس قبره ثم ليقل: يا فلان ابن فلانة فإنه يسمعه ولا يجيب، ثم يقول: يا فلان ابن فلانة فإنه يستوي قاعداً، ثم يقول: يا فلان ابن فلانة فإنه يقول أرشدنا يرحمك الله ولكن لا تشعرون، فليقل: اذكر ما خرجت عليه من الدنيا شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً عبده ورسوله وأنك رضيت بالله رباً وبالإسلام ديناً وبمحمد نبياً وبالقرءان إماماً فإن منكراً ونكيراً يأخذ كل واحد منهما بيد صاحبه ويقول: انطلق بنا ما يقعدنا عند من لُقّن حجته، قال [أي أبو أمامة]: فقال رجل: يا رسول الله فإن لم يُعرف أمه، قال: ينسبه إلى أمه حواء، يا فلان ابن حواء" .

Yang bermaksud : "Apabila aku mati nanti, lakukan padaku sepertimana yang disuruh oleh Rasulullah agar dilakukan kepada mayat, Rasulullah telah memerintah kita dengan sabda baginda: “ Apabila matinya seorang daripada kalanganmu, maka tanahlah dan berdirilah seorang dikalangan kamusemua pada bahagian kepala dikuburnya kemudian katakan Wahai si fulan anak si fulanah, orang itu mendengarnya tetapi dia tidak akan menjawab, kemudian katakan Wahai fulan anak fulanah maka dia duduk, kemudian katakan Wahai fulan anak fulanah maka dia berkata semoga Allah merahmati kamu tetapi kamu semua tidak merasai (apa yang telah berlaku pada si mayat), maka hendaklah dikatakan : Ingatlah apa yang telah menyebabkan kamu dilahirkan kedunia iaitu syahadah tiada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad itu hambaNya dan rasulNya dan engkau telah meredhoi dengan allah sebagai tuhanmua dan islam itu agamamu dan Muhammad itu nabimu dan al-quran itu petunjukmu maka malaikat mungkar dan nakir akan mengambil tangannya lantas berkata Ayuh bersama kami bawakan kepada siapa yang telah ditalqinkan hujahnya”

Abu Umamah bertanya kepada Rasulullah Wahai Rasulullah!bagaiman a sekiranya tidak diketahui nama ibunya? Rasulullah menjawab “Maka hendaklah dinasabkan kepada ibu manusia iaitu Hawwa dengan mengatakan Wahai si fulan anak Hawwa.” ( hadith riwayat Imam Al-Hafiz Tobarony Dalam kitabnya Mu'jam Soghir Wal Kabir).

Hadith yang mengharuskan talqin diatas telah disolehkan sanadnya (ulama hadith menyatakan hadith itu boleh digunakan) oleh Imam Muhaddith dari kalangan ulama hadith iaitu Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitab beliau berjudul At-Talkhis Al-Habir sepertimana yang juga dibawah Kitab Al-Majmuk oleh Imam Nawawi pada jilid 5 muksurat 243 :

وإسناده صالح وقد قواه الضياء في أحكامه

Yang bermaksud : “ Sanad hadith ini adalah boleh digunakan dan hadith ini telah dikuatkan oleh Imam Al-Hafiz Ad-Dhiya dalam kitab Ahkam”.

Maka hadith Nabi Muhammad ini jelas mengharuskan amalan talqin sepertimana jua para ulama salafussoleh berpegang dengan hukum mengenainya.

Kenyataan Mazhab Al-Hanafi Mengharuskan Talqin


1-Berkata As-Syeikh Al-Alim Abdul Al-Ghony Al-Ghonimy Ad-Dimasyqy Al-Hanafi dalam kitab beliau berjudul Al-Lubab Fi Syarhil Kitab pada jilid 1 mukasurat 125 menyatakan :

: "وأما تلقينه (أي الميت) في القبر فمشروع عند أهل السنة لأن الله تعالى يحييه في قبره".

“Manakala hukum mentalqin mayat pada kubur adalah merupakan syariat islam disisi Ahli Sunnah Wal Jamaah kerana Allah ta’ala menghidupkannya dalam kuburnya”.

Telah jelas bahawa dalam mazhab Hanafi amalan talqin adalah diharuskan bahkan disyariatkan.

Mazhab Maliki Mengharuskan Amalan Talqin

1- Imam Al-Qurtuby Al-Maliky pengarang kitab tafsir terkenal telah menulis satu bab yang khusus mengenai amalan talqin disisi mazhab Maliki dalam kitab beliau berjudul At-Tazkirah Bil Ahwal Al-Mauta Wal Akhiroh pada mukasurat 138-139 :

باب ما جاء في تلقين الإنسان بعد موته شهادة الإخلاص في لحده

Didalam bab itu juga Imam Qurtuby telah menjelaskan amalan talqin dilakukan oleh para ulama islam di Qurtubah dan mereka mengharuskannya.


Mazhab Syafi’e Mengharuskan Dan Mengalakkan Amalan Talqin

1- Imam An-Nawawi As-Syafi’e menyatakan dalam kitab beliau berjudul Al-Majmuk pada jilid 5 mukasurat 303-304 :

قال جماعات من أصحابنا يستحب تلقين الميت عقب دفنه" ثم قال: "ممن نص على استحبابه: القاضي حسين والمتولي والشيخ نصر المقدسي"

Yang bermaksud : “ Telah menyatakan oleh ramai para ulama dari mazhab Syafi’e bahawa disunatkan talqin pada mayat ketika mengebumikannya” .

Kenyataan mazhab Syafi’e dari kitab yang sama :

"وسئل الشيخ أبو عمرو بن الصلاح رحمه الله عنه فقال: التلقين هو الذي نختاره ونعمل به"

Imam Nawawi menyatakan : “ Telah ditanya kepada As-Syeikh Abu Amru Bin As-Solah mengenai talqin maka beliau menjawab Amalan talqin merupakan pilihan kita (mazhab Syafi’e) dan kami beramal dengannya”.

2- Imam Abu Qosim Ar-Rofi’e As-Syafi’e menyatakan dalam kitab beliau berjudul Fathul ‘Aziz Bi syarh Al-Wajiz tertera juga pada bawah kita Al-Majmuk oleh Imam Nawawi pada jilid 5 mukasurat 242 :
"ويستحب أن يُلقن الميت بعد الدفن فيقال: يا عبد الله بن أمة الله ..." إلى اخره .

Yang bermaksud : Digalakkan dan disunatkan mentalqin mayat selepas mengebumikannya dan dibaca : Wahai hamba Allah bin hamba Allah…(bacaan talqin).


Mazhab Hambali Mengharuskan Talqin

1- Imam Mansur Bin Yusuf Al-Buhuty Al-Hambaly menyatakan hukum pengharusan talqin dalam kitab beliau berjudul Ar-Raudul Mari’ mukasurat 104.
2- Imam Al-Mardawy Al-Hambaly dalam kitabnya Al-Insof Fi Ma’rifatil Rojih Minal Khilaf pada jilid 2 mukasurat 548-549 menyatakan :

"فائدة يستحب تلقين الميت بعد دفنه عند أكثر الأصحاب"
Yang bermaksud : “ Kenyataan yang penting : Disunatkan hukum talqin mayat selepas mengkebumikannya disisi kebanyakan ulama ( selainnya hanya mengharuskan sahaja).

Wallahu 'alam......

KEPENTINGAN ULAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

Semenjak kebelakangan ini kedengaran suara-suara sumbang dari pelbagai pihak yang cuba untuk menidakkan keilmuan dan keagungan para ulama Islam. Ada di antara mereka ini berkata para ulama bukannya maksum seperti Rasulullah S.A.W. Jadi tidak perlulah untuk mengikut tunjuk ajar dari para ulama ini untuk memahami dan menjalani urusan agama Islam. Boleh sahaja untuk mengambil terus dalil-dalil daripada al-Quran al-Karim dan al-Hadis S.A.W. dengan kefahaman sendiri. Adakah tindakan dan pendapat seperti ini bertepatan dengan Islam itu sendiri?

Firman Allah Taala bermaksud:

Maka hendaklah kamu bertanya ahli zikir (ulama) seandainya kamu tidak mengetahuinya.

(Surah al-Nahl: ayat 43).

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambil (warisan ilmu) tersebut ia telah mengambil habuan yang paling sempurna.

(Riwayat Ahmad, Tarmizi, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Perkataan ulama merupakan kata jamak dari kata dasar alim iaitu seseorang yang sangat berilmu pengetahuan. Secara umunya ulama Islam adalah orang yang menguasai dan mengamalkan ilmu-ilmu Allah Taala secara mendalam serta ikhlas dan mereka memiliki akhlak yang amat terpuji. Mereka mampu menyingkap dan memahami dalil-dalil dari al-Quran al-Karim dan al-Hadis S.A.W. dengan sempurna. Sedangkan jika hendak dibandingkan kefahaman masyarakat awam untuk memahami dalil-dalil sudah tentulah mereka tidak berupaya sama sekali seperti keupayaan para ulama ini dalam memahami dalil-dalil. Kita juga tidak menafikan kadang-kala para ulama tetap tersalah di dalam ijtihad mereka tetapi amatlah sedikit kesalahan mereka itu. Para ulama yang sebenar tidak akan mengeluarkan sesuatu hukum agama mengikut hawa nafsu mereka semata-mata kerana mereka adalah golongan yang paling takut kepada kepada Allah Taala.

Firman Allah Taala bermaksud:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama.

(Surah Faathir: Ayat 28).

Adalah sangat perlu dibezakan di antara mereka yang disebutkan sebagai ulama dan di antara mereka yang digolongkan sebagai penuntut-penuntut ilmu serta orang awam. Perbuatan bermudah-mudah dalam mengeluarkan sesuatu hukum-hakam agama berdasarkan dalil-dalil mengikut kefahaman akal fikiran sendiri oleh sebahagian masyarakat awam pada masa kini amatlah membimbangkan. Jika perkara seperti ini berterusan dari semasa ke semasa dan tidak dibendung dari sekarang ini maka sudah pastilah kesucian dan kemurnian syariat Islam itu akan tercemar. Memperkatakan sesuatu hukum tanpa ilmu pengetahuan yang cukup amatlah ditegah oleh Islam.

Firman Allah Taala bermaksud:

Dan (diharamkanNya) kamu memperkatakan terhadap Allah sesuatu yang kamu tidak ketahui.

(Surah al-Aaraf: Ayat 33).

Islam sentiasa menggalakkan umatnya untuk menuntut ilmu dan bertanya sejak dari buaian hingga ke liang lahad. Bertanyakan hukum-hakam Islam dari para ulama bukanlah bermakna Islam melarang umatnya untuk terus berfikir dalam menyelesaikan sesuatu masalah. Namun perihal agama mestilah diserahkan kepada ahlinya (para ulama) di atas kelayakkan yang mereka perolehi itu. Kita juga disarankan agar terus belajar dan menuntut ilmu supaya suatu hari nanti kita bakal menjadi alim dan dapat membantu masyarakat Islam dalam menyelesaikan sebarang persoalan yang timbul. Kesimpulan kecil yang boleh kita katakan di sini ialah: Masyarakat awam yang tidak mempunyai ilmu yang cukup tidaklah dibenarkan sama sekali untuk mengeluarkan sesuatu hukum-hakam Islam sebelum dirujuk terlebih dahulu kepada para ulama yang boleh dipercayaai keilmuanya.

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Bukan termasuk umatku orang yang tidak memuliakan orang dewasa kami, menyayangi anak kecil kami dan menghormati ulama kami.

(Riwayat Ahmad).

Para ulama berperanan untuk membimbing dan mendidik masyarakat serta menasihati pemerintah sekiranya mereka tidak menjalankan amanah dan tugas seperti yang dikehendaki oleh Islam. Jika para ulama diam membisu dari menyampaikan ajaran Islam yang sebenar maka sudah pastilah sesebuah negara dan masyarakat Islam itu akan menjadi rosak binasa dan jauh dari rahmat Allah Taala. Mereka juga berperanan menyampaikan ilmu pengetahuan dan menjadi contoh tauladan yang terbaik kepada manusia. Ilmu pengetahuan yang mereka perolehi itu mestilah disampaikan agar sekalian manusia terus terbimbing untuk melakukan kebaikkan dan sentiasa mentaati perintah Allah Taala.

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Barangsiapa ditanya mengenai sesuatu ilmu lalu disembunyikannya maka Allah akan mengekangnya nanti dengan kekangan daripada api neraka pada Hari Kiamat kelak.

(Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi).

Masyarakat hendaklah sentiasa mendampingi para ulama untuk mengutip mutiara-mutiara ilmu dari mereka. Sekiranya timbul sebarang persoalan dan masalah yang berkaitan dengan Islam maka hendaklah terus untuk bertemu dan bertanya para ulama. Pihak pemerintah pula hendaklah memberikan kebebasan kepada para ulama untuk menyampaikan nasihat dan teguran membina berkaitan ajaran agama Islam. Pemerintah juga perlu meminta pandangan dari para ulama sekiranya mereka mempunyai sebarang masalah hukum-hakam yang tidak dapat diselesaikan. Insitusi ulama mestilah diletakkan di tempat yang sepatutnya bersesuaian dengan taraf mereka sebagai pewaris para nabi. Ulama juga mestilah bersedia untuk mendepani isu-isu globalisasi selaras dengan tuntutan semasa. Perkara ini amatlah perlu di ambil perhatian agar kehadiran dan kepentingan ulama tidak tertumpu kepada mengeluarkan hukum-hakam Islam semata-mata bahkan peranan ulama perlu diperluaskan lagi.

Bagi para pelajar dan mahasiswa/wi yang digolongkan sebagai penuntut ilmu maka janganlah sesekali membuang masa walaupun sedikit untuk terus menuntut ilmu pengetahuan sehingga ke akhir hayat. Ilmu pengetahuan berperanan untuk membantu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Manfaatkanlah ruang dan masa yang ada untuk mendampingi para ilmuan samada di universiti-universi ti mahupun di sekolah-sekolah. Kedudukan orang berilmu adalah lebih tinggi darjatnya dari orang yang tidak berilmu. Menuntut ilmu juga adalah salah satu jihad yang dituntut oleh agama Islam.

Firman Allah Taala bermaksud:

Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa darjat.

(Surah al-Mujadilah: Ayat 11).

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Barangsiapa keluar mencari ilmu maka ia sebenarnya berjihad pada jalan Allah.

(Riwayat Tarmizi).

Daripada:

MUHAMMAD RASHIDI BIN HAJI WAHAB.

Universiti Al-Azhar, Mesir.

Email: shidi_buluh@ yahoo.com.

Blog: http://buluh. iluvislam. com.

Semoga bermanfaat & menambahkan kita sebagai muhibbin kepada Aulia Allah SWT..