Rabu, Juli 29, 2009

BERBHAKTI PADA ORANG TUA.

Kalam Asy-Syeikh Jasiem Al-Muthawi'

Ini adalah bentuk ibadah yang menjadikan seseorang berlomba-lomba mendahului yang lainnya dalam sibaq (berlomba-lomba dalam amal). Hanya saja pada era moderen ini jarang sekali dilakukan, yakni ibadah "memijit kaki ibu" dengan niat birrul walidain (berbakti kepada orangtua). Yang menemukan ibadah model ini adalah Muhammad bin Al-Munkadir. Beliau berkata, "Semalam aku mencium kaki ibu, malam itu pula pamanku shalat. Alangkah indahnya malamnya dengan malamku."

Bentuk ibadah semacam itulah yang menempatkan seseorang selalu di barisan terdepan, karena disana ada keutamaan berbakti kepada orangtua (birrul walidain) serta kedudukannya yang tinggi dalam syariat Islam. Ia lebih berat timbangannya daripada shalat di malam hari dan puasa di siang hari. Bahkan Imam Hasan Al-Bashri mengatakan, "Tidak ada yang menyamai birrul walidain dari ibadah sunnah, tidak juga haji maupun jihad."

Karenanya barangsiapa duduk bercengkerama bersama kedua orangtua dengan penuh keakraban dan sopan-santun hingga membuatnya gembira dengan maksud birrul walidain, maka baginya pahala yang besar di sisi Allah swt. Oleh karenanya, cinta dan berbuat baik kepada kedua orangtua adalah termasuk jalan pintas yang menghubungkan ke surga.. Bahkan keberadaan kedua orangtua bagi sang anak adalah identik dengan salah satu pintu surga yang ada di bumi. Maka barangsiapa ingin dan berlomba masuk surga, ia harus berperilaku baik terhadap pintu tersebut. Itulah sebabnya Iyas bin Mu'awiyah menangis tatkala sang ibu tercinta meninggal.. Ada yang bertanya kepadanya mengapa ia menangis, dijawab olehnya, "Dulu aku punya dua pintu yang terbuka menuju surga, kini salah satu dari pintu itu tertutup."

Sidang pembaca yang mulia, berusahalah agar tidak tidur barang semalam saja jika salah seorang dari kedua orangtua Anda sedang marah, khususnya ibu. Berusahalah untuk membangkitkan kebahagiaannya dan ciptakan suasana yang selalu menggembirakan beliau. Janganlah Anda masuk ke dalam rumah dengan tangan hampa, akan tetapi persembahkanlah kepada keduanya bentuk-bentuk pemberian atau hadiah dan perhatikan apa yang dibutuhkannya.

Diantara bentuk birrul walidain yang dilakukan oleh Thalq bin Hudaib, salah seorang tabi'in adalah selalu mencium kening ibunya. Beliau tidak berjalan di tempat yang lebih tinggi, sementara sang ibu ada di bawah.

Oleh karena itu, birrul walidain adalah pintu yang agung. Maka berusahalah Anda untuk memasukinya setiap hari sebelum pintu itu tertutup. Berlombalah dengan hati dan perasaan Anda untuk berbuat baik terhadap keduanya.

Janganlah dan jangan sampai Anda durhaka kepada kedua orangtua. Andaikata itu sudah terlanjur Anda lakukan, maka segeralah bertobat dan mohon ampun sebagaimana dilakukan oleh Ibnu 'Awanah. Suatu hari beliau berbuat durhaka kepada orangtuanya. Untuk menebus kesalahan tersebut Ibnu 'Awanah memerdekakan dua orang budak. Beliau berkata, "Suatu hari ibu memanggilku. Kemudian aku menjawabnya, namun saat itu suaraku lebih tinggi (keras) dari suara ibu. Maka seketika itu pula aku memerdekakan dua orang budak."

[Disarikan dari Efisiensi Waktu Konsep Islam, Jasiem M.Badr Al-Muthawi', hal. 163-166, cetakan I, 2000, penerbit Risalah Gusti, Surabaya]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar