Jumat, Maret 26, 2010

Nash Vs Pendapat Ulama.

Nash lawan pandangan Ulama?

Kecenderungan terlalu literal dalam menafsirkan Islam nampaknya semakin kelihatan di kalangan segelintir agamawan di negara kita. Oleh kerana mereka berkelulusan dan berimej agama, jika tidak diawasi mungkin fahaman ini akan mempengaruhi sejumlah besar masyarakat Islam.

Apakah yang kita maksudkan dengan kecenderungan terlalu literal ini? Yaitu sikap terlalu berpegang kepada maksud zahir atau literal nash-nash hukum tertentu sambil menafikan tafsiran dan takwilan (makna di sebalik yang zahir) ulama-ulama muktabar terhadap nas-nas tersebut.dan juga kecenderungan seseorang merujuk terus kepada al-Quran dan al-Sunnah tanpa memperdulikan tafsiran ulama yang muktabar.

Ini secara tidak langsung juga akan membawa kepada pemahaman sendiri yang lebih literal atau zahiri terhadap nash-nash ini karena tanpa merujuk kepada khazanah ilmu warisan untuk memahami nash-nash ini, kemampuan seseorang itu memahaminya secara mendalam dan halus akan lebih terbatas dan lebih kepada nafsu bukan ilmu.

Golongan berkecenderungan ini kadang-kadang mendakwa bahawa dengan sikap begini, maka mereka lebih mengutamakan nash daripada pandangan tokoh Ulama. tentunya Nash-nash wahyu lebih utama daripada pandangan para tokoh Ulama tanpa mengira sebesar mana tokoh Ulama tersebut.

Ini adalah kata-kata yang bunyinya benar tetapi hakikatnya membawa kepada kebatilan. Ia mengingatkan kita kepada perkataan Imam Sayyidina Ali r.a kepada dakwaan kaum Khawarij yang menggaungkan slogan daripada ayat al-Quran, surah al-An'am, ayat 57 yang bermaksud, Hanya Allahlah yang membuat penentukan hukum. Sayyidina Ali r.a menjawab, Kalimatu Haqqin Uriida biha Batil (Kata-kata yang benar tetapi digunakan untuk yang batil).

Dakwaan ini kita katakan batil kerana adalah hakikat yang tidak dapat dinafikan bahwa nash-nash al-Quran dan hadis tidak akan dapat difahami dengan tepat dan benar tanpa merujuk kepada pandangan tokoh-tokoh Ulama yang tsiqah.

Kita tidak akan dapat faham dengan benar kepada dua sumber utama Islam ini yaitu Al Qur'an dan sunnah tanpa sumbangan kajian dan pandangan para tokoh-tokoh ulama. Malah ilmu-ilmu alat dan kaedah berkaitan dengan kedua-dua sumber ini pun disusun dan diperkembangkan oleh para tokoh ulama dari zaman ke zaman.

Oleh itu sebenarnya tindakan mempertentangkan antara nash dan pandangan tokoh ulama adalah suatu yang janggal dan asing dalam tradisi ilmu Islam. Nash dan pandangan tokoh yang muktabar adalah suatu yang harmoni dan berjalan seiring. Yang penting pandangan dan tokoh yang kita rujuk haruslah pandangan Ulama yang tsiqah,muktabar dan diiktiraf.

Memilih pandangan dan tokoh yang terbaik juga bukanlah perkara yang mudah kecuali bagi mereka yang dibantu dan dipermudahkan oleh Allah SWT. Walau bagaimanapun, jika tradisi keilmuan, budaya ilmu dan berguru dalam Islam benar-benar diikuti, insya-Allah kefahaman dan penghayatan Islam yang murni sentiasa ada dan bisa dicapai oleh umat Islam sepanjang zaman.

Membandingkan.

Tindakan membandingkan nash dan pandangan tokoh ulama,salah! karena hakikatnya tiada siapapun yang dapat membebaskan diri daripada merujuk dan bersandar kepada pandangan Ulama dalam memahami nash apalagi persoalan khusus atau ilmiah atau nash=nash yang berkaitan dengan ibadah.

Hakikatnya mereka yang mendakwa merujuk dan berpegang kepada al-Quran dan al-sunnah juga sebenarnya bersikap taqlid pada tokoh ulama mereka, karena mengikuti pandangan dan saran tokoh ulama mereka tapi mereka kurang teliti dengan ulama yang di taqlidi,pandangan mereka 'yang penting dari Arab Saudi (kerajaan)'. maka ketahuilah bahwa tidak ada hubungannya antara Islam dengan kerajaan Arab Saudi bahkan kerajaan itu sendiri adalah bid'ah dhalalah karena Nabi SAW tidak mewariskan kekuasaan pada ahli warisnya.

Dalam menafsirkan nash dengan pendekatan yang lebih literal atau mendekati sunnah dengan manhaj tertentu pun mereka kuat berpegang dan bersandarkan tokoh ulama mereka.Ini jelas dari beberapa tokoh ulama yang sering mereka ikuti dan jadikan rujukan utama dalam tulisan dan bahasan mereka. Akhirnya kenyataannya yang berlaku adalah sekadar pengalihan dari pandangan sebaris tokoh ulama kepada mengikuti pandangan tokoh-tokoh ulama lain.

Malah yang berlaku adalah sikap meninggalkan pandangan tokoh-tokoh Ulama yang sudah menjadi pegangan&rujukan ribuan tahun yang tsiqah & muktabar kepada pandangan-pandangan ulama yang baru yang lebih lemah dan diragukan sanad keguruan dan keilmuannya, sebagaimana kita tahu bahwa makin mendekati kiamat makin sedikit ilmu Agama karena Allah SWT mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama.

Sikap ini juga akan menimbulkan satu kesan buruk yang bukannya kecil yaitu fitnah,perpecahan dan permusuhan sesama umat Islam dalam memahami dan mengamalkan agama mereka.

Ini terjadi kerana jika pandangan dan tokoh ulama yang tsiqah&muktabar dalam Islam dicaci dan diperlakukan dengan tidak wajar,sudah tentu akan ada tindakan counter dari kalangan umat Islam yang sadar & bangkit mempertahankannya. Jika pihak yang cenderung mempersalahkan pendapat dan amalan-amalan para tokoh ulama yang tsiqah & muktabar ini bersikeras dan terus melakukan pelecehan,maka rusaklah hubungan dan persaudaraan di kalangan umat Islam.

Saran dan prinsip untuk memahami dan mengambil ajaran agama dari tokoh-tokohnya yang muktabar adalah suatu yang ditetapkan oleh nash-nash yang banyak dan hujah aqli yang kokoh.salah satunya adalah Firman Allah SWT,

artinya : 'maka bertanyalah kepada orang yang berilmu pengetahuan diantara kalian'.(QS. ANNAHL:43)

Tulisan kali ini hanya sekadar melontarkan pendapat awal karena melihat adanya kecenderungan beberapa pihak tertentu untuk mengkritik tokoh-tokoh ulama yang tsiqah dengan kritikan yang tidak pantas, juga dengan kitab-kitab karya mereka dan amalan-amalan yang muktabar dalam Islam.

Memang betul ulama ada kelemahannya dibanding Nabi SAW yang maksum. Tapi masalahnya, memperhatian dan menonjolkan kelemahan mereka hanya akan menenggelamkan keilmuan dan kelebihan mereka yang jauh lebih penting dan lebih kita perlukan.

Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar