Jumat, Maret 26, 2010

Panduan Shalat.

Panduan Shalat Berdasarkan Kitab Muktabar (Bag.1 - Niat dan Takbiratul Ihram)


Alhamdulillah wash shalatu was salamu 'alaa Rasulillah, atas permintaan sahabat kami yang sangat mulya agar membahas mengenai shalat, maka kami mengusahakan untuk membahas shalat berdasarkan apa yang diketahui dari kitab-kitab ulama muktabar (madzhab Syafi’iyyah) dan berdasarkan penjelasan-penjelasan yang pernah kami terima dari Asatidz dan pak Kiayi yang mulya –alladzi sami’na wa atha’na-. Semula ana sempat menolak dengan alasan ana menyadari bahwa ana masih sangat awam. Akhirnya ana memenuhi pemintaan Ashabina dan mengusahakan menulisnya dengan senantiasa memohon petunjuk kepada Allah. Pembahasan ini tentu saja hanya pembahasan singkat sesuai dengan kapasitas keilmuan penulis yang faqir al-faqir ini dan akan diuraikan secara bertahap. InsyaAllah.

Sebelum membahas, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu mengetahui rukun shalat secara singkat. Kami kutipkan dari kitab Safinatun Naja (Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Fadlil Salim bin Samiyr Al-Hadlramiy ‘alaa Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i), kitab ulama madzhab syafi’iiyah yang biasa dipelajari sebagai panduan shalat bagi pemula, dimana biasanya disertakan juga dengan kitab Safinatush Shalat dan penjelasan yang berasal dari guru/ustadz/kiayi mereka.

(فصل ) أركان الصلاة سبعة عشر : الأول النية ،الثاني تكبيرة الإحرام ، الثالث القيام على القادر في الفرض ،الرابع قراءة الفاتحة ، الخامس الركوع ، السادس الطمأنينة فية ، السابع الإعتدال ،الثامن الطمأنينة فيه ، التاسع السجود مرتين ،العاشر الطمأنينة فية ، الحادي عشر الجلوس بين السجدتين ، الثاني عشر الطمأنينة فية ،الثالث عشر التشهد الأخير ،الرابع عشر القعود فيه ،الخامس عشر : الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ،السادس عشر السلام ،السابع عشر الترتيب

Rukun shalat ada 17 :
1. Niat
2. Takbiratul ihram
3. Berdiri bagi yang mampu dalam shalat fardhu
4. Membaca al-Fatihah
5. Rukuk
6. Tuma’ninah diwaktu rukuk
7. I’tidah
8. Tuma’ninah diwaktu I’tidal
9. Sujud
10. Tuma’ninah diwaktu sujud
11. Duduk diantara dua sujud
12. Tuma’ninah diwaktu duduk diantara dua sujud
13. Tasyahud akhir
14. Duduk untuk membaca tasyahud
15. Membaca shalawat Nabi
16. Salam
17. Tertib

PENJABARAN RUKUN SHALAT

1. Niat
2. Takbiratul Ihram

Contoh shalat Dluhur, maka bacaannya sebagai berikut :

اصلي فرض الظهر أربع ركعات ركعتين مشتقبل القبلة اداء.... (مأموما) \ (إماما) لله تعالي
“Ushalli fadlod-dhuhri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati ada-an ..(ma’muman/imaman) lillahi ta’alaa”
Artinya, “Sengaja aku shalat dhuhur 4 raka’at menghadap kiblat karena Allah ta’alaa”.


Kemudian melakukan Takbiratul Ihram (الله أكبر) harus bersamaan dengan Niat shalat yang dilakukan didalam hati. Jika tidak bersamaan, maka shalatnya tidak sah. Niat tidak boleh mendahului takbir dan tidak (pula dilakukan) sesudah Takbir.

Penjelasan seputar Niat Shalat :

Pengertian niat adalah menyengaja melakukan sesuatu atau memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya. Niat dilakukan didalam hati, sebab merupakan amalan hati dan bersamaan dengan takbiratul Ihram. Takbiratul Ihram (الله أكبر) dilakukan dengan lisan (diucapkan).

Al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim asy-Syafi’i, didalam Kitab Fathul Qarib, pada pembahasan Ahkamush Shalat mengatakan ;

النِّيَةُ) وَ هِيَ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً بِفِعْلِهِ وَ مُحَلُّهَا اْلقَلْبُ
“niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya dan tempat niat itu berada di dalam hati.”

Al-Fiqh al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam asy-Syafi'i, pada pembahasan Arkanush Shalat ;

وهي قصد الشيء مقترناً بأول أجزاء فعله، ومحلها القلب. ودليلها قول النبي"إنما الأعمال بالنيات"
"(Niat), adalah menyengaja (memaksudkan) sesuatu bersamaan dengan sebagian dari perbuatan, tempatnya didalam hati. dalilnya sabda Nabi SAW ; ("إنما الأعمال بالنيات")"

Al-Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm Juz 1, pada Bab Niat pada Shalat (باب النية في الصلاة )

قال الشافع: والنية لا تقوم مقام التكبير ولا تجزيه النية إلا أن تكون مع التكبير لا تتقدم التكبير ولا تكون بعده
“..niat tidak bisa menggantikan takbir, dan niat tiada memadai selain bersamaan dengan Takbir, niat tidak mendahului takbir dan tidak (pula) sesudah Takbir.”

Penjelasan-penjelasan seperti diatas bisa didapati dalam kitab-kitab ulama pada pembahasan shalat. Misal Al-Imam An-Nawawi didalam Kitab Raudhatut Thalibin, pada fashal (فصل في النية يجب مقارنتها التكبير), Al-Qadhi Abu al-Hasan al-Mahamiliy, didalam kitab Al-Lubab fi al-Fiqh asy-Syafi'i, pada pembahasan (باب فرائض الصلاة), al-‘Allamah asy-Syaikh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibariy asy-Syafi’i dalam Fathul Mu’in Hal 16, Asy-Syekh Abu Ishaq asy-Syairaziy, didalam Tanbih fi Fiqh Asy-Syafi'i (1/30), Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, pada pembahasan (فرائض الصلاة), Al-Allamah Al-Imam An-Nawawi, dalam kitab Al-Majmu' (II/43), Al-Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini, didalam Kifayatul Ahyar, pada bab (باب أركان الصلاة), Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy, didalam Tuhfatul Muhtaj (تحفة المحتاج بشرح المنهاج) [II/12], Al-‘Allamah Al-Mahalli, didalam Syarah Mahalli Ala Minhaj Juz I (163), Al-Hujjatul Islam Al-'Allamah Al-Faqih Al-Imam Al-Ghazaliy, didalam kitab Al-Wajiz fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi'i, Juz I, Kitabus Shalat pada al-Bab ar-Rabi' fi Kaifiyatis Shalat, Al-'Allamah Asy-Syekh Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj (السراج الوهاج على متن المنهاج) dan lain sebagainya.

Didalam melakukan niat shalat fardlu, diwajibkan memenuhi unsur-unsur sebagai berikut ;

• Qashdul fi’li (قصد فعل) yaitu menyengaja mengerjakannya, lafadznya seperti (أصلي /ushalli/”aku menyengaja”)
• Ta’yin (التعيين) maksudnya adalah menentukan jenis shalat, seperti Dhuhur atau Asar atau Maghrib atau Isya atau Shubuh.
• Fardliyah (الفرضية) maksudnya adala menyatakan kefardhuan shalat tersebut, jika memang shalat fardhu. Adapun jika bukan shalat fardhu (shalat sunnah) maka tidak perlu Fardliyah (الفرضية).

Jadi berniat, semisal (ﺍﺼﻠﻰ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺃﺩﺍﺀ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﻠﻰ/”Sengaja aku shalat fardhu dhuhur karena Allah”) saja sudah cukup.

Sekali lagi, niat tersebut dilakukan bersamaan dengan Takbiratul Ihram. Yang dinamakan “bersamaan” atau biasa disebut Muqaranah (ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ) mengadung pengertian sebagai berikut (Fathul Mu’in Bisyarhi Qurratu ‘Ayn),

. وفي قول صححه الرافعي، يكفي قرنها بأوله
“Menurut pendapat (qoul) yang telah dishahihkan oleh Al-Imam Ar-Rafi’i. bahwa cukup dicamkan bersamaan pada awal Takbir”.

وفي المجموع والتنقيح المختار ما اختاره الامام والغزالي: أنه يكفي فيها المقارنة العرفية عند العوام بحيث يعد مستحضرا للصلاة
“Didalam kitab Al-Majmu dan Tanqihul Mukhtar yang telah di pilih oleh Al-Imam Ghazali, bahwa “bersamaan” itu cukup dengan kebiasaan umum (‘Urfiyyah/ العرفية), sekiranya (menurut kebiasaan umum) itu sudah bisa disebut mencamkan shalat (al-Istihdar al-‘Urfiyyah)”

Imam Ibnu Rif’ah dan Imam As-Subki membenarkan pernyataan diatas, dan Imam As-Subki mengingatkan bahwa yang tidak menganggap/menyakini bahwa praktek seperti atas (Muqaranah Urfiyyah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﻋﺭﻓﻴﻪ )) tidak cukup menurut kebiasaan), maka ia telah terjerumus kepada kewas-wasan.

Pada dasarnya “bersamaan” atau biasa disebut Muqaranah (ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ) adalah berniat yang bersamaan dengan takbiratul Ihram mulai dari awal takbir sampai selesai mengucapkannya, artinya keseluruhan takbir, inilah yang dinamakan Muqaranah Haqiqah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﺣﻘﻴﻘﺔ ).

Namun, jika hanya dilakukan pada awalnya saja atau akhir dari bagian takbir maka itu sudah cukup dengan syarat harus yakin bahwa yang demikian menurut kebiasaan (Urfiyyah) sudah bisa dinamakan bersamaan, inilah yang dinamakan Muqaranah Urfiyyah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﻋﺭﻓﻴﻪ ).

Menurut pendapat Imam Madzhab selain Imam Syafi’i, diperbolehkan mendahulukan niat atas takbiratul Ihram dalam selang waktu yang sangat pendek.

Penjelasan seputar Takbiratul Ihram :

Takbiratul Ihram didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari,

إذا قمت إلى الصلاة فكبر
“Apabila kamu hendak berdiri melakjukan shalat, maka bertakbirlah”

Dinamakan takbiratul Ihram sebab orang yang mengerjakan shalat diharamkan melakukan sesuatu yang sebelumnya halal dilakukan. Contohnya, semua hal semisal makan, minum, dan lainnya adalah halal, namun ketika sudah takbiratul Ihram (shalat) semua itu diharamkan dilakukan dan bisa menjadi pembatal shalat.

Maksud dari takbir dilakukan pada awal shalat yang bersamaan dengan niat, mengandung pengertian agar orang yang mengerjakan shalat menghayati maknanya, yang menunjukkan keagungan Dzat yang kita siap mengabdi kepada-Nya, sehingga kita akan menyadari bahwa diri kita sangat lemah dan hanya Dia-lah Dzat yang Maha Besar, dengan begitu akan sempurnalah rasa takut dan kekhusuannya. Oleh karena itulah, dalam shalat takbir selalu diulang-ulang dalam setiap perpindahan rukun satu ke rukun yang lain.

Bacaan takbiratul Ihram adalah dengan lafadz (الله أكبر/Allahu Akbar) sebagai bentuk ittiba’ kepada Nabi (للاتباع) atau boleh dengan (الله الاكبر/Allahul Akbar). Selain itu, tidak boleh dan tidak disebut takbir. Contohnya seperti ; (الله كبير /Allahu Kabir), (الله أعظم /Allah uA’dham), (الرحمن أكبر /Ar-rahmanu Akbar) atau yang lainnya, semua itu bukan takbiratul Ihram. Penambahan “Alif Lam/AL/” pada lafadz takbir () adalah tidak masalah, hal ini dijelaskan dalam kitab Mughniy Muhtaj :

ولا تضر زيادة لا تمنع الاسم ) أي اسم التكبير ( كالله الأكبر ) بزيادة اللام لأنه لفظ يدل على التكبير وعلى زيادة مبالغة في التعظيم وهو الإشعار بالتخصيص فصار كقوله الله أكبر من كل شيء إذ معنى الله أكبر أي من كل شيء

“Dan tidak akan merusak adanya penambahan juga tidak mencegah penamaannya yaitu tetap dinamakan takbir seperti lafadz (الله الأكبر) dengan tambahan “lam” karena sesungguhnya lafadz tersebut tetap menunjukkan pada takbir dan atas penambahan yang berlebihan dalam hal pengagungan dan itu adalah sebuah isyarat dengan takhshish, maka jadilah seperti perkataan (الله أكبر من كل شيء) jika maksud (الله أكبر) adalah (maha mesar) dari segela sesuatu”

Mengeraskan bacaan Takbir adalah wajib hingga bisa terdengar diri sendiri,

(ويجب إسماعه) أي التكبير، (نفسه) إن كان صحيح السمع، ولا عارض من نحو لغط. (كسائر ركن قولي) من الفاتحة والتشهد والسلام. ويعتبر إسماع المندوب القولي لحصول السنة
“Wajib memperdengarkan takbir terhadap dirinya sendiri jika orang tersebut pendengarannya sehat, dan juga tidak ada yang menghalangi seumpama kegaduhan (suara), demikian juga (wajib mengeraskan) pada seluruh rukun-rukun yang bersifat qauliyah (ucapan), semisal Al-Fatihah, Tasyahud dan salam. (hendaknya dibaca keras sekiranya dapat didengar dirinya sendiri) pada bacaan yang dihukmi mandub (sunnah) sepaya bisa mendapatkan kesunnahan (shalat)” [Fathul Mu’in]

Disunnahkan mengangkat kedua telapak tangan pada saat takbiratul Ihram atau salah satunya, jika memang sulit untuk mengangkat keduanya atau ada sebab lainnya dan harus dalam keadaan terbukan – jika tertutup hokumnya makruh-, jari-jari renggang antara satu dengan yang lainnya, tingginya sejajar dengan dua pundak (منكبيه).

Prakteknya sebagai berikut, dijelaskan dalam kitab Fathul Mu’in,

بحيث يحاذي أطراف أصابعه على أذنيه، وإبهاماه شحمتي أذنيه، وراحتاه منكبيه، للاتباع. وهذه الكيفية تسن
“Ujung jari sejajar dengan ujung telinga, ibu jari sejajar dengan putik telinga, dan kedua tapak tangan sejajar dengan kedua pundak, karena Ittiba’ (mengikuti) Rasulullah. Cara seperti inilah yang disunnahkan”.

Dijelaskan dalam Kitab I’anah Thalibin tentang Ittaba’ yang dimaksud pada keterangan diatas, sebagai berikut ;

(قوله: للاتباع) دليل لسنية الرفع حذو منكبيه، وهو ما رواه ابن عمر: أنه كان يرفع يديه حذو منكبيه إذا افتتح الصلاة

“(Dan mengenai perkataan “lilittaba’”) dalil untuk kesunnahan mengangkat tangan sejajar pundak, adalah sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar ; bahwa sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alayhi wa sallam mengangkat tangan sejajar dengan pundak ketika memulai shalat”

Disunnahkan juga meletakkan kedua tangan dibawah dada dan diatas pusat, sebagai bentuk Ittiba’ kepada Nabi, serta pergelangan kiri dipegang oleh tangan kanan. Berikut redaksinya,

(ووضعهما تحت صدره) وفوق سرته، للاتباع. (آخذا بيمينه) كوع (يساره) وردهما

Mengenai “Lil-ittiba’/karena mengikuti (Rasul)” diatas, dijabarkan dalam I’anah Thalibin sebagai berikut ;

(قوله: للاتباع) وهو ما رواه ابن خزيمة في صحيحه، عن وائل بن حجر، أنه قال: صليت مع النبي فوضع يده اليمنى على يده اليسرى تحت صدره
“Mengenai (للاتباع) adalah sebagaimana diriwayatkan Ibnu Khuzaimah didalam kitab Shahihnya, dari Wail bin Hajar mengatakan, “aku shalat bersama Nabi, kemudian meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dan dibawah dada”.

Didalam Nihayatuz Zain, karangan Al-Imam An-Nawawi Ats-Tsaniy, juga dijelaskan hal yang sama ;

(ووضعهما) أي الكفين (تحت صدره آخذاً بـيمينه يساره) أي قابضاً كوع يساره بكفه اليمنى ويجعلهما تحت صدره وفوق سرته مائلتين إلى جهة يساره قليلاً، لخبر مسلم عن وائل: «أنه رفع يديه حين دخل في الصلاة ثم وضع يده اليمنى على اليسرى»

Terjemahan bebas : “(disunnahkan) meletakkan kedua tangan dibawah dadanya, tangan kanan memegang tangan kiri yaitu pergelangan tangan kiri dipegang dengan telapak tangan kanan dan diletakkan dibawah dada serta diatas pusat agak condong (geser) kearah (sebelah) kiri sedikit, berdasarkan hadits Imam Muslim dari Wail ; sesungguhnya Nabi memasuki shalat mengangkat tangannya kemudian meletakkan tangan kanannya diatas tangan kiri”

Didalam Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzab karangan Al-Imam Hujjatul Islam An-Nawawi, 4/114, didalam kitab tersebut dijelaskan ;

واستحباب وضع اليمنى على اليسرى بعد تكبيرة الإحرام ويجعلهما تحت صدره فوق سرته هذا مذهبنا المشهور وبه قال الجمهور وقال أبو حنيفة وسفيان الثوري واسحاق بن راهويه وأبو إسحاق المروزي من أصحابنا يجعلهما تحت سرته وعن علي بن أبي طالب رضي الله عنه روايتان كالمذهبين وعن احمد روايتان كالمذهبين ورواية ثالثة أنه مخير بينهما ولا ترجيح وبهذا قال الأوزاعي وبن المنذر
وعن مالك رحمه الله روايتان أحداهما يضعهما تحت صدره والثانية يرسلهما ولا يضع إحداهما على الأخرى وهذه رواية جمهور أصحابه وهي الأشهر عندهم وهي مذهب الليث بن سعد وعن مالك رحمه الله أيضا
Terjemahan bebas, “Disunnahkan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri setelah takbiratul Ihram dan meletakkan keduanya dibawah dada dan diatas pusat, inilah yang Masyhur dari Madzhab kami (madzhab Syafi’iyyah), dan demikian juga Jumhur ulama dan Imam Abu Hanifah, dan Imam Sufyan Ats-Tsauriy, Imam Ishaq bin Rohawaih, Imam Abu Ishaq Al-Marwazi dari kalangan ashab kami (ulama syafi’iiyah) meletakkan keduanya (tangan kanan dan kiri) dibawah pusat, dan dari Ali bin Abi Thalib ada dua riwayat sebagaimana dua pendapat, dan Imam Ahmad ada dua riwayat/pendapat, dan ada riwayat ketiga yang memilih diantara dua keduanya dan tidak melakukan tarjih dan dalam hal ini berkata Imam Auza’iy dan Ibnu Mundzir , dan dari Imam Malik ada dua riwayat/pendapat salah satunya meletakkan keduanya (tangan kiri dan kanan) dibawah dada, dan yang kedua yaitu melepaskan (kebawah) dan tidak meletakkan pada salah satunya, inilah riwayat/pendapat jumhur ulama dalam madzhabnya dan yang masyhur dalam madzhab mereka yaitu madzhab Laits bin Said dan juga dari Imam Malik rahimahullah”

Didalam Al-Lubab Fil Fiqh Asy-Syafi’I, Al-Imam Al-Qadhi Abu Al-Hasan al-Mahamili,

رفع اليدين عند الإحرام مع التكبير حذو المنكبين، وأن يمدهما عند الرفع مدّا، وأن ينشر أصابعهما نشرا وأن يضع يده اليمنى على اليسرى، وأن يجعلهما تحت صدره
“..dan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, serta menaruhnya dibawah dadanya”

Didalam Kifayatul Akhyar (1/113),

يستحب أن يضع كفه اليمين على اليسرى ويقبض بكف اليمنى كوع اليسرى ثبت ذلك عن فعله صلى الله عليه وسلم
“dan disunnahkan untuk meletakkan telapak tangan kanan diatas tangan kiri, dan telapak tangan kanan menggenggam pergelangan tangan kiri, penetapan yang demikian berdasarkan pada perbuatan Rasulullah”

Demikian mengenai meletakkan tangan setelah takbiratul Ihram, jika terjadi perbedaan masalah ini hanya masalah khilafiyah diantara ulama dan pendapat apapun yang dipegang kita harus menghormati selama berpegang pendapat yang benar.

Penjelasan Tambahan ;

Dari penjelasan diatas, kita sudah tahu bahwa shalat sudah dimulai manakala kita sudah ber-Takbir (Takbiratul Ihram) yang bersamaan dengan Niat. Adapun sebelum itu, belum masuk pada bagian shalat. Jadi melafadzkan niat atau mengucapkan “Ushalli fadlod-dhuhri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati ada-an ..(ma’muman/imaman) lillahi ta’alaa” itu dilakukan sebelum masuk shalat. Mengucapkan yang demikian dihukumi sebagai sunnah, apabila dikerjakan mendapat pahala, apabila tidak dikerjakan tidak apa-apa. Tidak termasuk menambah-nambah rukun shalat, sebab mengucapkan niat/melafadzkan niat bukan bagian dari rukun shalat dan dilakukan sebelum shalat. Pahamilah, bahwa dinyatakan telah memasuki shalat jika sudah takbiratul Ihram yang bersamaan dengan niat, sebelum itu bukan.

Kesunnahan mengucapkan niat/melafadzkan niat bisa dilihat dalam keterangan dalam kitab Safinatun Naja, Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Fadlil Salim bin Samiyr Al-Hadlramiy ‘alaa Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i, Kasyfuh As-Saja karangan Al-Imam Nawawi Al-Bantani (Ats-Tsaniy), al-‘Allamah al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (ابن حجر الهيتمي ) didalam Kitab Tuhfatul Muhtaj (II/12), Al-Allamah asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari (Ulama Madzhab Syafi’iiyah), dalam kitab Fathul Mu’in bi syarkhi Qurratul 'Ain bimuhimmati ad-Din, Hal. 16 , Al-Imam Muhammad bin Abi al-'Abbas Ar-Ramli (Imam Ramli) terkenal dengan sebutan "Syafi'i Kecil" [الرملي الشهير بالشافعي الصغير] dalam kitab Nihayatul Muhtaj (نهاية المحتاج), juz I : 437 , Asy-Syeikhul Islam Al-Imam Al-Hafidz Abu Yahya Zakaria Al-Anshariy (Ulama Madzhab Syafi'iyah) dalam kitab Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Thullab (فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب) [I/38] , Hasyiyatul Jamal Ala Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Thullab, karangan Al-'Allamah Asy-Syeikh Sulaiman Al-Jamal, Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib Asy-Syarbainiy, didalam kitab Mughniy Al Muhtaj ilaa Ma'rifati Ma'aaniy Alfaadz Al Minhaj (1/150), Al-'Allamah Asy-Syekh Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj (السراج الوهاج على متن المنهاج) pada pembahasan tentang Shalat, Al-‘Allamah Sayid Bakri Syatha Ad-Dimyathiy, dalam kitab I’anatut Thalibin (إعانة الطالبين) [I/153], Al-‘Allamah Asy-Syekh Jalaluddin Al-Mahalli, di dalam kitab Syarah Mahalli Ala Minhaj Thalibin (شرح العلامة جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين) Juz I (163), dan berbagai kitab ulama madzhab lainnya.

Kami kutipkan salah satu keterangan kesunnahan tersebut dari sekian banyak kitab ulama yang disebutkan diatas, dari al-‘Allamah al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (ابن حجر الهيتمي ) didalam Kitab Tuhfatul Muhtaj (II/12) ;

ويندب النطق) بالمنوي (قبيل التكبير)
ليساعد اللسان القلب وخروجا من خلاف من أوجبه وإن شذ وقياسا على ما يأتي في الحج

“Dan disunnahkan melafadzkan (mengucapkan) niat sebelum takbir, agar lisan dapat membantu hati dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkan ini) adalah syad ( menyimpang), dan Kesunnahan ini juga karena qiyas terhadap adanya pelafadzan dalam niat haji”

_____________
Demikian uraian awal mengenai Shifatush Shalah, InsyaAllah pada kesempatan berikutnya akan membahas rukun shalat yang ketiga dan keempat, disertai dengan sunnah-sunnah yang dilakukan.

Wallahu subhanahu wa ta'alaa 'alam
Abdurrohim Ats-Tsauriy

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar