Jumat, Oktober 15, 2010

Cinta Allah Swt Tuk Orang Yang MemujiNya.

Judul: Cinta Allah Swt Tuk Orang Yang MemujiNya.
Rasulullah Saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari :

لَا أَحَدٌ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ وَلِذَلِكَ حَرَّمَ اْلفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدْحَ مِنَ اللهِ وَلِذلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ

( صحيح البخاري )

" Tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah, karena itulah Dia mengharamkan segala yang keji, dan tidak ada yang lebih suka dipuji selain dari Allah Swt, karena itu Dia memuji diri-Nya sendiri". ( Shahih Al Bukhari )

Maka beruntunglah orang-orang yang memuji Allah Swt, dan Allah Swt membenci dosa-dosa, oleh sebab itu Allah mengharamkan perbuatan dosa. Mengapa Allah Swt suka dipuji?, karena Allah tau bahwa pujian itu datang dari cinta. Jika seorang hamba mencintai sesuatu maka pastilah ia banyak memujinya, jika seorang hamba memuji Allah, maka ia pun dicintai Allah. Seseorang yang melaksanakan shalat maka ia telah banyak memuji Allah, dan ia termasuk orang yang banyak memuji Allah dan ia juga termasuk orang yang dicintai Allah jika ia mendalami makna ucapan-ucapan dalam shalatnya. Oleh sebab itu, sebagian para shalihin sebagaimana dijelaskan oleh para guru kita bahwa mereka sangat asyik memuji Allah didalam shalatnya dan disaat mereka I'tidal mereka mengucapkan :

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ اْلأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

"Wahai Rabb kami, bagiMu segala puji, aku memujiMu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah sepenuh langit dan bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu"

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa ucapan ini adalah ucapan salah seorang sahabat, ketika ia sedang bermakmum kepada Rasulullah Saw bersama sahabat lainnya. Ketika Rasulullah mengucapkan " Sami'allahu liman hamidah " untuk I'tidal, maka sahabat itu mengucapkan:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ اْلأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ ... إلخ

Tanpa ada yang mengajarinya, tetapi muncul dari hatinya maka Rasulullah selesai shalat bertanya: siapa tadi yang mengucapkan : ربنا لك الحمد حمدا كثيرا... إلخ?, salah seorang sahabat mengacungkan tangan dan berkata: " aku wahai Rasulullah ", maka Rasulullah berkata: " Jibril tadi mengatakan kepadaku bahwa puluhan malaikat berebutan mencatat pujianmu itu, untuk disampaikan kepada Allah Swt".

Ketika kita menikmati pujian kepada Allah dan sedikit bersabar atas diri kita untuk memuji Allah Swt, maka Allah akan memberi kenikmatan dan kelezatannya, jika kita sudah merasakan lezat memuji Allah maka tentunya kita akan selalu asyik memuji Allah Swt, yang dengan itu Allah Swt akan membuat kehidupan kita semakin terpuji dunia dan akhirah, dan sang penuntun segala keterpujian dari tuntunan yang terpuji, hamba Allah yang paling terpuji, Muhammad Saw. Namanya saja Muhammad yang berarti yang banyak dipuji atau yang banyak memuji. Nabi kita Muhammad memang orang yang paling banyak dipuji karena ia dipuji oleh Allah Swt dan oleh seluruh hamba Allah yang beriman.

Oleh sebab itu Allah Swt menyukai pujian, dan tidak ada yang lebih menyukai pujian daripada Allah. Kalau kalimat ini kita paparkan sedikit, ada orang-orang kaya yang suka dipuji dan jika ia dipuji maka ia akan memberi hadiah kepada orang-orang yang memujinya, dan tentunya Allah Swt lebih dari itu, kalau Allah dipuji maka Allah akan memberi yang lebih untuknya. Allah tidak butuh pujian, namun Allah Maha Tau bahwa dengan pujian itu maka hamba-Nya mencintai-Nya. Sebagian Ahli ma'rifah billah mewarisi dari apa-apa yang terjadi di masa Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah juga suka dipuji, kenapa? karena memuji Rasulullah Saw akan membuat orang yang mendengarnya bertambah cinta kepada Rasul Saw, beliau bukan suka dipuji untuk pribadinya tetapi karena orang-orang yang banyak memuji itu bisa bertambah cintanya kepada Rasulullah Saw, dan mencintai Rasulullah Saw adalah kesempurnaan iman. Rasulullah tidak suka dipuji, karena sudah terpuji di hadapan Allah Swt namun dengan banyak memuji Rasulullah Saw maka seseorang akan sampai kepada kesempurnaan iman, sebagaimana hadits Rasulullah Saw:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

" Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian dari pada orang tua, anak, dan segenap manusia"

Dan dalam riwayat lain:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

" Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian daripada keluarga, harta dan segenap manusia"

Tentunya iman mempunyai derajat, terkadang kita berangan-angan bahwa sungguh berat jika kita mencintai Rasul lebih dari keluarga atau harta kita sepertinya adalah derajat yang sangat susah sekali dicapai, tidak juga!. Kita semua disini sudah mencapai hal itu, kita hadir disini karena cinta kepada Rasul Saw dan sekarang kita meninggalkan keluarga dan harta kita, rumah kita tinggalkan, dan kita duduk disini setelah itu kita kembali kepada keluarga dan harta kita, kita tinggalkan untuk hadir disini, padahal kita tidak melihat sang Nabi, bagaimana kalau seandainya kita melihat sang Nabi, barangkali sehari sebelumnya, atau seminggu sebelumnya atau sebulan atau mungkin setahun sebelumnya masjid ini sudah penuh dengan orang-orang yang ingin melihat wajah Rasulullah Saw.

Allah Swt sangat mencintai kita, dan tidak ada satupun yang lebih pencemburu dari Allah Swt. Mungkin kita kaget ketika mendengar Allah pencemburu, maksudnya apa?, cemburu itu datangnya dari cinta, cemburu itu adalah ingin kekasihnya selalu dekat dengannya dan jangan jauh darinya, jika saja ada gerakan atau ucapan yang membuat kekasihnya jauh, maka ia akan marah itulah sifat cemburu. ternyata Allah itu cemburu kepada hamba-hamba-Nya, oleh sebab itulah Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan jahat, kenapa Allah mengharamkan perbuatan dosa?, karena dengan perbuatan dosa hamba-Nya akan jauh dari Allah dan Allah tidak mau hamba-Nya jauh dari-Nya, Allah ingin kita dekat, Allah tidak ingin kita berbuat buruk hingga menjauh dari Allah, Allah ingin kita berada dalam kasih-Nya, ketika berbuat hal-hal yang tidak disukai Allah maka ia akan terkena dosa, kenapa? karena Allah ingin hamba-Nya jauh dari dosa karena cinta-Nya kepada kita.

Kita lihat, jika seandainya Allah Swt tidak cinta kepada kita, maka sekali seorang hamba berbuat dosa dan dicabut nyawanya sehingga wafat dalam su'ul khatimah sekali berbuat dosa. Tetapi Allah cinta kepada hamba-Nya, sekali ia berbuat dosa maka ditunggu barangkali beristighfar, dihadirkan di majelis dzikir dan majelis ta'lim maka ia akan mendapat pengampunan dan mendekat lagi kapada Allah, sungguh indahnya Allah. Dan ketika shalat lima waktu maka terus dihapus dosa-dosanya, ketika ia berwudhu maka ia mendapat penghapusan dosa, memuji Allah ia mendapat penghapusan dosa, selesai shalat ia membaca subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, dan Allahu Akbar 33x maka ia mendapatkan lagi penghapusan dosa. Di hari Jum'at, antara Jum'at satu dengan Jum'at lainnya mendapat penghapusan dosa, ketika tiba bulan Ramadhan mendapat penghapusan dosa lagi, ketika puasa Arafah mendapat pengampunan lagi, ketika puasa 'Asyura mendapat pengampunan lagi, terus pengampunan mengejar kita. Seorang hamba yang malas beribadah, tapi ia banyak berbuat baik kepada saudaranya maka diberi pertolongan oleh Allah Swt.

Diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari ketika seorang hamba sudah kalah seluruh pahalanya oleh dosa-dosanya, lalu ia berkata: " dulu aku banyak membantu orang susah, jika seseorang meminjam kepadaku dan ia adalah orang yang susah maka tidak aku tagih, jika seseorang berbelanja kepadaku dan dia orang yang tidak punya maka aku murahkan lebih dari harga yang semestinya, maka beri aku keringanan", maka Allah Swt menjawab: " Aku lebih berhak daripada engkau untuk berbuat hal itu, biarakan hamba-Ku masuk ke surga-Ku ". Demikian indahnya Allah Swt.

Alangkah besarnya keinginan Allah agar kita dekat dengan-Nya, alangkah baik dan cintanya Allah kepada kita, namun betapa kita tidak mau menjawab cinta Allah Swt kepada kita. Kapan kita mau menjawab cinta itu, kapan mau kita jawab kasih sayang itu, maka bersujud dan banyak berdzikirlah kepada Allah, banyak berdoa dan memohon pengampunan kepada Allah Swt, memohonlah ridha dan restu atas nafas-nafas yang lewat daripada rindu kepada Allah Swt. Nafas yang tidak sempat rindu kepada-Mu wahai Rabbi maafkanlah, semestinya setiap nafasku ini dipenuhi rindu kepada-Mu dari kebaikan dan keindahan-Mu.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar