Kamis, April 16, 2009

Raja Heraklius Mengakui KeNabian Muhammad saw.

Assalamualaikum wr wb,

Dalam Hadist Sahih Bukhari yang cukup panjang,Seorang Sahabat Nabi saw mengisahkan:

Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud menyatakan bahwa Abdullah
bin Abbas memberitahukan kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb,

Menceritakan kepadanya bahwa Heraklius mengharap kedatanganya bersama
rombongan dagang Quraisy di Syam pada masa Rasulullah saw. membuat
gencatan senjata terhadap Abu Sufyan dan kafir Quraisy. Maka mereka
(rombongan itu) datang kepada Heraklius di Ilia, lalu Heraklius
bertanya: "Siapakah di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan
laki-laki yang mengaku bahwa dirinya Nabi?"

Abu Sufyan menjawab: "Sayalah yang paling dekat di antara mereka".

Heraklius berkata (kepada penerjemahnya) : "Dekatkanlah dia kepadaku,
dan dekatkanlah teman-temannya, lalu jadikanlah mereka di
belakangnya" . Kemudian ia berkata kepada penterjemahnya: "Katakanlah
kepada mereka bahwasanya saya bertanya kepada orang ini tentang
laki-laki itu. Jika ia berdusta kepadaku, maka dustakanlah ia".

(Abu Sufyan berkata}: Demi Allah seandainya aku tidak malu karena
mereka menganggap saya berdusta, niscaya saya berdusta tentang ia
(Muhammad). Yang pertama kali ditanyakan kepada saya tentang dia
adalah: "Bagaimana nasabnya di antara kalian?"

Saya menjawab: "Di kalangan kami, dia orang yang bernasab (bangsawan)" .

Ia bertanya: "Pernahkah ada seorang di antaramu orang yang mengatakan
perkataan ini sebelummu?"

Saya menjawab: "Tidak."

Ia bertanya: "Apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja?"

Saya jawab: "Tidak."

Ia berkata: "Pengikutnya orang-orang mulia atau orang-orang lemah di
antara mereka?"

Saya jawab: "Orang-orang lemah."

Ia berkata: "Apakah mereka bertambah-tambah atau berkurang?"

Saya jawab: "Bahkan mereka bertambah."

Ia berkata: "Apakah ada seseorang di antara mereka yang benci kepada
agamanya sesudah ia memasukinya? "

Saya berkata: "Tidak ada."

Ia berkata: "Apakah dia berkhianat?"

Saya menjawab: "Tidak, dan kami dalam masa gencatan di mana kami tidak
mengetahui apa yang ia lakukan dalam masa ini, dan tidak mungkin bagi
saya untuk memasukkan kalimat sedikitpun selain kalimat ini."

Ia berkata: "Apakah kalian memeranginya? "

Saya menjawab: "Ya."

Ia berkata: "Bagaimanakah peperanganmu terhadapnya? "

Saya jawab: "Peperangan di antara kami dan dia silih berganti, ia
menang atas kami dan kami menang atasnya."

Ia berkata: "Apakah yang ia perintahkan kepadamu?"

Saya jawab: "Ia berkata: 'Sembahlah Allah sendiri dan jangan
menyekutukan- Nya dengan sesuatu, dan tinggalkanlah apa yang dahulu
selalu disembah oleh nenek moyangmu. Ia menyuruh kami untuk shalat,
jujur, menjaga diri dan menyambung (persaudaraan) .'"

Kemudian ia berkata kepada juru bahasanya: "Katakanlah kepadanya:
'Sesungguhnya saya bertanya kepadamu tentang nasabnya (keturunanya) ,
lalu kamu menyebutkan bahwa dia di kalanganmu orang yang bernasab
(bangsawan), dan demikianlah para Rasul itu diutus di kalangan
orang-orang yang bernasab di kaumnya. Lalu saya bertanya kepadamu:
Apakah ada seorang di antaramu yang mengatakan perkataan ini
sebelumnya? Lalu kamu sebutkan bahwa tidak ada. Dan saya katakan
seandainya ada seseorang yang mengatakan perkataan ini sebelumnya,
niscaya saya katakan (dia) seorang laki-laki yang menghibur dengan
kata-kata yang diucapkan oleh orang sebelumnya. Saya bertanya
kepadamu, apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja, lalu kamu
sebutkan bahwa tidak ada. Saya katakan seandainya dari nenek moyangnya
ada yang menjadi raja, maka saya katakan (dia) seorang laki-laki yang
menuntut kerajaan nenek moyangnya. Saya bertanya kepadamu, apakah
dahulu kamu menuduh ia berdusta sebelum mengatakan apa (kenabian) yang
di katakannya, lalu kamu menjawab bahwa tidak, maka saya tahu bahwa
dia tidak layak meninggalkan dusta atas manusia yang berdusta atas
Allah. Saya bertanya kepadamu, pengikutnya orang-orang mulia ataukah
orang-orang lemah di antara mereka, lalu kamu menyebutkan bahwa
pengikutnya adalah orang-orang yang lemah diantara kaumnya, dan itulah
pengikut para rasul. Saya bertanya kepadamu apakah mereka
(pengikut-pengikut itu) berkurang ataukah bertambah lalu kamu
menyebutkan bahwa mereka bertambah, dan memang demikianlah urusan iman
sehingga sempurna.

Saya bertanya kepadamu apakah ada salah seorang yang murtad karena
benci kepada agamanya setelah ia memasukinya. Lalu kamu sebutkan bahwa
tidak ada, dan memang demikianlah iman ketika bercampur dengan
kelapangan hati. Saya bertanya kepadamu apakah dia berkhianat, lalu
kamu sebutkan tidak, dan memang demikianlah, para rasul tidak
berkhianat. Dan saya bertanya kepadamu dengan apakah ia menyuruh kamu,
lalu kamu menyebutkan bahwa ia menyuruh kamu untuk menyembah Allah
semata dan janganlah mempersekutukan- Nya dengan sesuatu. Dan ia
melarang kamu untuk menyembah berhala dan menyuruh kamu dengan shalat,
jujur dan menjaga diri. Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka ia
akan menguasai tempat dua telapak kakimu, dan saya mengetahui bahwa
dia (Nabi) telah muncul, padahal saya tidak menduga bahwa dia (Nabi)
itu dari padamu. Seandainya saya mengetahui bahwa saya sampai
kepadanya niscaya saya senang bertemu dengannya. Seandainya saya di
sisinya niscaya saya mencuci telapak kakinya".

Selanjutnya ia minta didatangkan surat Rasulullah SAW. Surat itu
dibawa oleh Dihyah yang diutus oleh Rasulullah SAW. untuk disampaikan
kepada pembesar Bushra, lalu pembesar Bushra itu menyerahkanya kepada
Heraklius. Surat itu dibacanya dan isinya adalah: "Dengan nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, hamba dan
utusan Allah kepada Heraklius pembesar Rumawi. Kesejahteraan atas
orang yang mengikuti petunjuk. Adapun selanjutnya, maka sesungguhnya
saya mengajak kepadamu dengan panggilan Islam. Masuk Islamlah, maka
kamu selamat. Allah memberikan pahala kepadamu dua kali lipat. Jika
kamu berpaling, maka atasmu dosa para pengikut Arius. Wahai Ahli
Kitab, marilah kepada kalimat yang sama antara kami dan kamu, bahwa
tidak kita sembah selain Allah, dan tidak kita sekutukan Dia dengan
sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain
sebagai Tuhan selain dari pada Allah. Jika mereka berpaling maka
katakanlah: 'Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah
diri (kepada Allah)'".

Ia (Ubaidullah) berkata: Abu Sufyan berkata: Ketika ia mengatakan apa
yang telah dikatakannya itu dan selesai membaca surat sehingga di
tempatnya, banyak kegaduhan dan suara-suara keras, lalu kami
dikeluarkan. Maka aku berkata kepada teman-temanku: 'Sungguh urusan
putera Abi Kabsyah (gelar ayah Nabi) telah menjadi besar. Sesungguhnya
ia ditakuti oleh raja Bani Ashfar (Rumawi) dan saya senantiasa
meyakinkan bahwa dia (Nabi) akan menang sampai Allah memasukkan Islam
atas saya".

Ibnu Nathur pemilik (gubernur) Iliad dan Heraklius sampai pada
orang-orang Nashrani di Syam menceritakan bahwa ketika Heraklius tiba,
dia menjadi buruk jiwanya, lalu sebagian penghuninya berkata: "Kami
telah mengingkari peri keadaan tuan".

Ibnu Nathur berkata: "Heraklius itu seorang dukun yang mengarahkan
pandanganmu ke bintang-bintang. Ia berkata kepada mereka ketika mereka
bertanya: 'Sungguh saya tadi malam, ketika saya melihat bintang, saya
berpendapat bahwa raja yang berkhianat telah muncul'. Siapakah orang
yang berkhianat dari umat ini? Mereka menjawab: 'Yang berkhianat
hanyalah orang-orang Yahudi'. Urusan mereka janganlah menggelisahkanmu
dan tulislah ke kota-kota kerajaanmu, lalu mereka membunuh orang-orang
Yahudi yang ada di kalangan mereka. Ketika mereka mengurusi urusan
mereka, didatangkan pada Heraklius seorang laki-laki yang diutus oleh
Raja Ghassan yang memberitakan tentang berita Rasulullah SAW. Ketika
Heraklius bertanya kepadanya, maka ia menjawab: "Pergilah, dan
lihatlah apakah dia berkhianat atau tidak? Maka mereka melihatnya dan
mereka membicarakanya bahwa Rasulullah SAW. berkhianat. Dan ia
bertanya tentang bangsa Arab, lalu ia menjawab: "Mereka berkhianat".

Lalu Heraklius berkata: "Inilah (Muhammad) raja umat ini telah muncul".

Kemudian Heraklius menulis surat kepada temannya di Rumiah dan ia
adalah orang yang menyamainya dalam bidang ilmu. Heraklius pergi ke
Himsha dan ia tidak bermaksud ke Himsha sehingga datang surat kawannya
yang menyetujui pendapat Heraklius atas munculnya Nabi SAW. Dan
sesungguhnya dia itu Nabi. Lalu Heraklius memberi ijin kepada para
pembesar Rumawi di istananya di Himsha, kemudian ia mengatur
pintu-pintunya, lalu pintu-pintu itu ditutup dan diapun menampakkan
diri seraya berkata: "Wahai golongan orang-orang Rumawi. Apabila kamu
ingin berbahagia dan mendapat petunjuk serta tetap kerajaanmu, maka
baiatlah laki-laki ini (Muhammad)".

Maka mereka lari seperti larinya keledai liar ke pintu-pintu dan
mereka dapati pintu-pintunya telah tertutup. Ketika Heraklius melihat
larinya mereka dan putus asa dari iman mereka, maka ia berkata:
"Kembalikanlah mereka ke padaku." Dan ia berkata: "Tadi saya katakan
perkataanku itu untuk menguji kekokohan agamamu, dan saya telah
melihatnya".

Wassalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar