Jumat, Juni 12, 2009

Korelasi Dakwah Para Nabi&Rasul.

Assalamualaikum wr wb.

Terlalu mudah membantah paham pluralisme menurut akal. Paham ini membenarkan semua agama termasuk kristen, budha, hindu dan lainya. Kalau membenarkan agamanya maka juga membenarkan akidahnya. misal menurut kristen tuhan itu tiga, ayah ibu dan anak. Padahal sudah jelas bahwa akal sehat mengatakan termasuk hal yang mustahil adalah perseketuan tuhan. Dengan ini menurut hukum akal pluralisme adalah paham yang mustahil dan terlalu dipaksakan oleh anak-anak jil. Kini saatnya merenung dan menyelami paham ini menurut hukum agama. Benar atau salah?


"نحن معاشر الأنبياء أولاد عَلات، ديننا واحد" رواه البخاري في صحيحه

“Kita para nabi berasal dari satu ayah dan berbeda ibu dan agama kita satu”

Muhammad saw adalah penutup para nabi. Statemen ini telah menjadi keyakinan seluruh umat muslim serta termasuk dalam hal yang tidak diragukan sama sekali dalam agama. Dan layak dimengerti bahwa dakwah Nabi saw dan para nabi-nabi terdahulu itu saling bertautan, berhubungan dan saling menyempurnakan antara satu dengan yang lainya. Hal ini disinggung dalam lempitan-lempitan Al-Quran dan Hadis. Semisal surah Al-imron: 50 dan Hadis rasul saw yang artinya sebagai berikut: "Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku(Al- Imron :50) dan Hadisnya: “aku dan para nabi-nabi terduhulu ibarat seorang lelaki yang mendirikan sebuah gedung yang sangat indah, namun ada bagian pojok dari gedung itu yang batanya belum terpasang. Ketika orang-orang mengelilingi gedung itu lantas mereka terheran dan berkata: “kenapa kamu tidak menaruh bata itu?”. Akulah bata itu dan aku adalah penutup para nabi(Muttafaq Alaih).

Secara global dakwah atau dogma para utusan-utusan Allah itu terpusat pada tiga hal; yang pertama akidah, yang kedua akhlak, dan ketiga adalah perbuatan manusia. Kalau kita menganalisa akan akidah dan akhlaq. Maka disitu tidak ditemukan perbedaan antar para utusan mulai jaman Nabi Adam As sampai Nabi terakhir Muhammad saw. Semua para nabi tanpa terkecuali mengajak untuk mengesakan Allah, percaya adanya hari kiamat, surga, neraka dan mengajari ahlak yang terpuji dan yang buruk. Tidak ada perbedaan sama sekali dalam masalah akidah dan akhlak. Dakwah mereka dalam hal ini saling menyempurnakan dan menguatkan antara satu dengan yang lainya, membenarkan dakwah para nabi sebelumnya, juga mereka akan memberi informasi tanda-tanda nabi yang akan datang setelahnya. Semua informasi ini dapat ditemukan dalam Al-Quran surah As-Syuro: 13 yang artinya: "Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan- Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya,” , Albaqarah: 146 yang Artinya: "Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang Telah kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri dan sesungguhnya sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengenal Muhammad s.a.w. yaitu mengenal sifat-sifatnya sebagaimana yang tersebut dalam Taurat dan Injil.” dan surah Al-imron yang telah disebutkan sebelumnya. Oleh sebab itu adalah suatu hal yang takkan terbesit dalam akal apabila ada satu nabi yang diutus oleh tuhan untuk menyampaikan bahwa Tuhan itu ada tiga, lantas nabi yang diutus setelahnya menyampaikan bahwa tuhan itu satu.

Adapun dogma para nabi yang berkaitan dengan perbuatan manusia maka disitu ditemukan perbedaan. Karena hal ini bersentuhan dengan perkembangan zaman dan bermacam kaum dengan keadaan sosialnya. Misalnya Nabi Musa as diutus untuk kaum Bani Israil. Melihat keadaan dan tingkah laku orang Bani Israil saat itu, maka sengaja Allah menyuguhkan hukum yang ketat. Namun seiring waktu berjalan lantas Nabi Isa as diutus, syariat mereka jadi lebih mudah. Informasi ini tertera kalam ilahi surat Alimron: 50(Sudah disebutkan).

Dengan penjelasan ini bisa diambil sebuah konklusi bahwa dakwah akidah para nabi itu saling mendukung dan menguatkan antar lainya. Mulai dari Nabi Adam as sampai pada Muhammad ibn Abdillah saw, semua mengajak untuk mengesakan Allah. Tak satupun dari mereka menyampaikan bahwa tuhan itu tiga. Dari penjelasan diatas nampak jelas bagi kita bahwa istilah adyan samawiyah muta’addidah atau macam-macam agama langit itu salah. Yang benar agamanya tetap satu, Islam, namun syariatnya bermacam-macam. Perhatikan Ayat-ayat berikut yang memberi penjelasan clear bahwa Islam adalah satu-satunya agama para utusan-utusan Allah, tidak ada pluralisme:

Nabi Nuh berkata dalam surah An-Naml: 91:

وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ [ النمل : 91 ]

Artinya: “Aku hanya diperintahkan supaya aku termasuk orang muslim”.

Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Ya’qub diutus untuk membawa Islam, dalam surah Albaqarah 130-132 disebutkan:

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [ البقرة : 131 ، 132 ]

Artinya: Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam".132. Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam". (Albaqarah:131- 132)

Nabi Yusuf berkata dalam surah Yusuf: 101:

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الأحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ [ يوسف : 101 ]

Artinya: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”(Yusuf:101)

Nabi Musa diutus membawa Islam untuk Bani Israil. Nabi Musa berkata dalam Surah Yunus: 84:

يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ [ يونس : 84 ]

Artinya:” Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, Maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu termasuk orang-orang muslim."

Dalam surah Al-A'raf :126 para Ahli sihir itu menjawab:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ [ الأعراف : 126 ]

Artinya: "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam". (Al a'araf:126) .

Bilqis berkata dalam surah An-Naml: 44:

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [ النمل : 44 ] Artinya : "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku masuk Islam bersama Sulaiman karena Allah, Tuhan semesta alam".

Nabi Isa diutus untuk membawa Islam seperti disebutkan dalam surah

Al-imran: 52: yang Artinya: “ Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim (AliImran:52)

Dan berkatalah Sayyidul Basyar wa khotamun nabiyin Muhammad Saw dalam surah An-‘Am: 162-163:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ } [ الأنعام : 162 ، 163 ]

Artinya: 162. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.163. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menjadi muslim (dari umat ini)".

Dan terakhir Rasul saw ingin meyakinkan pada kita lantas berkata :

"نحن معاشر الأنبياء أولاد عَلات، ديننا واحد" رواه البخاري في صحيحه”

“Kita para nabi berasal dari satu ayah dan berbeda ibu dan agama kita satu”

Dengan fakta sejarah yang dikutip dari kalam agung ilahi serta didukung hadis rasul saw diatas mengindikasikan bahwa dakwah mulai jaman Nabi Adam sampai Nabi terakhir Muhammad saw itu bertautan, sambung dan saling menyempurnakan. Semua mengajak untuk mengesakan Allah lewat Islam. Allah pun mempertegas dalam firmanya “Innaddin ‘Indallahil islam”. Apakah ada disana agama selain Islam yang mengesakan Allah. Dari sini bisa diambil konklusi secara pasti bahwa agama para Nabi-Nabi Allah cuma satu, Islam, titik. Dan Hadis yang disebutkan Nabi saw diatas menunjukan bahwa beliau faham dengan apa yang akan terjadi nantinya, yaitu akan ada fitnah dan syubuhat yang berusaha menyusupkan keraguan di hati umat muslim dengan mengatakan semua agama benar dengan berbagai alasanya baik itu toleransi atau lainya. Oleh sebab itu beliau ingin melindungi, mempertegas meyakinkan agar hati umat muslim tenang dengan mengatakan “Dinuna Wahid...!!!”( 1) tidak ada term-term pluralisme dalam ajaran islam. Dan sekarang tinggal pilih ikut para Utusan Allah atau ulil dan kroco-kroconya? Terserah karena “Qod tabayyanar Ryusdu minal ghoyyi”, sudah jelas jalan yang benar dan sesat..

Bantahan-Bantahan Pro Pluralisme.

Saya perhatikan orang liberal dan bocah yang mencoba menjadi liberal kadang kurang tegas dan masih plin-plan dalam mendefinisikan apa itu pluralisme dalam agama, entah karena masih ragu atau takut. Oleh karena itu sengaja saya ambil definisi pluralisme dari omongan ulil, buyute JIL, yang lumayan tegas ini:

Saya percaya bahwa semua agama adalah baik dan benar, oleh karena itu tak ada gunanya pindah agama. Jika anda kebetulan "lahir" dan "tumbuh" dalam agama A atau B, maka teruskan mencari kebenaran dalam agama itu.(Ulil).

Dari rangkaian kata Ulil ini bisa dipaham bahwa pluralisme adalah sebuah paham yang mengatakan bahwa semua agama benar, oleh karena itu kalau benar, tidak perlu pindah dari kristen ke islam atau sebaliknya. Sebagian orang berasumsi apa yang dilakukan oleh liberal dan orientalis itu cuma sekedar wacana dalam ranah pemikiran yang mungkin tidak berpengaruh apapun dalam perbuatan, tapi menurut saya lebih dari itu. Karena sebuah pemikiran, misalkan pluralisme kalau sudah menclok diotak maka mau nggak mau pasti akan merambah ke perlakuan sehari-hari. Bukankah hidup ini mengikuti jalan otak dan pikiran kita? ya kan. Apalagi pemikiran pluralisme, setelah di analisa, makin hari bisa meluluhkan dakwah islam kita. Simak penjelasan berikut ini.

Agama adalah seberkas cahaya dan petunjuk bagi hati dari Allah SWT, maka tidak perlu dipaksakan. Karena sudah jelas sejelas mentari di siang bolong mana jalan yang benar dan sesat. Kalau demikian maka tinggal memilih jalan yang mana. Kalau ingin selamat carilah yang benar. Kalau tidak, tinggal pilih yang sesat. Toh, nanti juga ada balasanya masing-masing. Itulah maksud dari surah Albaqarah: 256 yang artinya: “tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dan jalan yang sesat. karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut (setan yang disembah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”. Ayat ini bisa diartikan, diperbolehkanya manusia untuk masuk agama apapun,Islam, kristen, Budha dan lainya, namun sangat dipaksakan apabila diartikan membenarkan agama apapun, karena Allah sudah jelas berfirman yang artinya:” Telah jelas jalan yang benar dan salah karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut (setan yang disembah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus”. Berarti dalam ayat itu Allah membenarkan agama yang benar yakni Islam dan menyalahkankan yang salah yakni yang syirik. Tidak membenarkan kedua-duanya yakni jalan yang benar dan yang sesat. Oleh sebab itu, terlalu dipaksakan dan bisa dibilang keterlaluan kalau dijadikan tendensi dibenarkanya pluralisme dengan mengutip ayat “Laa ikroha fiddin” saja, tanpa meneruskanya.

Secara umum dakwah Rasul saw terbagi menjadi tiga fase: secara sembunyi, terang-terangan didepan umum, dan secara terang-terangan yang disertai memerangi siapa saja yang mengganggu muslim dan menghadang jalan dakwah. Di fase pertama Rasul saw berupaya mengajak kerabat dan tetangga-tetanganya , untuk menyembah Allah semata. Dakwah dengan strategi sembunyi ini berjalan selama tiga tahun. Di fase kedua, Rasul saw berdakwah secara terang-terangan dimulai dari kerabat jauhnya dari Bani Ka’ab, dalam sabdanya beliau berkata : “Wahai Bani Ka’b bin Luai, selamatkanlah diri kalian dari api neraka,... sampai... wahai Fatimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka, karena aku tak mampu memberi apa-apa pada kamu sekalian”.(Muttafaq Alaih). Di fase ini Rasul saw mulai mendapat tekanan dan disakiti karena dakwah terang-teranganya oleh orang Quraisy. Pertama; ketika Rasul saw shalat di batu ka’bah, tiba-tiba datang ‘Uqbah bin Abi Mu’ith lalu mencekik dengan kuat leher Rasul saw dengan kain bajunya, lantas Abu Bakar datang melerainya. Kedua; ketika rasul saw sedang sujud dan orang-orang Qurais mengerubunginya lantas Uqbah datang dan melempar kotoran hewan dipunggungya, namun Rasul saw tetap diam dalam sujudnya, Fatimah pun datang lantas membersihkan kotoran itu. Ketiga ; ketika Rasul saw berjalan disalah satu ruas jalan Makkah lantas beliau disiram dengan pasir ,datanglah salah satu putrinya lalu membersihkan pasir itu dan menangis. Rasul saw berkata: “wahai putriku janganlah engkau menangis, karena Allahlah yang selalu menjaga ayahmu ini”. Keempat ; adalah yang paling menyakitkan kala terjadi pemboikotan terhadap keluarga rasul dan kaum mislimin selama tiga tahun. Orang Quraisy sepakat untuk tidak kontak sama sekali, baik dalam urusan pernikahan, pangan dan lain sebagainya sampai mereka menyerahkan rasul saw untuk dibunuh. Jadi selama tiga tahun ini kaum muslimin begitu tersiksa sampai mereka tiap harinya hanya makan dedaunan. Ketika ada salah seorang sahabat pergi kepasar dan bertemu dengan abu lahab lantas dia berkata: “wahai para pedagang, naikkanlah harga untuk sahabat Muhammad ini”. Kelima ; Setelah pemboikotan berakhir lantas tiap tahun di musim haji, Rasul saw berkeliling mengunjungi tenda para pendatang dari luar Makkah, membacakan mereka Al-Quran, mengajak mereka menyembah Allah, namun tidak satupun dari mereka yang menghiraukan. Keenam; tatkala siksaan masih terus dilancarkan oleh ahli Makkah pada Rasul saw lantas beliau hijrah ke kota Thaif berniat dakwah dan mencari bantuan. Disana beliau menemui orang-orang Thaif dan mengajak mereka kembali pada Allah. Namun apa yang terjadi? beliau malah dilempari batu dan berlari sampai kakinya berdarah-darah, darah mulianya menetes ditengah terik matahari lantas bernaung di bawah pohon milik Rabi’ah.

Beginilah rasul saw memperjuangkan agama Islam dengan penuh kesabaran yang luar biasa, siksaan, tangis, kelaparan hingga darah mulia Rasul saw mengucur, untuk memperjuangkan agama Islam, agama yang Haq. Keterlaluan apabila ada yang mengatakan Rasul saw mengajari pluralisme. Kalau Rasul saw sepert itu, membenarkan semua agama, lantas kenapa mesti bersusah payah berdakwah, mengapa mesti meneteskan tangis, darah untuk mengajak umat kembali kepada Islam. Toh semua agama benar? Namun Alhaqqu bayyin wal bathilu bayyin, Rasul saw mengucur darahnya semua demi memperjuangkan agama Allah yang haq ini, untuk menyelamatkan manusia dari akidah yahudi dan nasrani. Apakah terbesit dalam akal, bahwa Rasul berdakwah kepada Islam namun lantas beliau membenarkan semua agama. lantas buat apa berdakwah?

Misi terselubung hasil analisaku dari orang liberal dengan paham pluralismenya adalah mereka bertujuan untuk menghentikan dakwah Islam. Karena apabila paham ini terjangkit di otak umat muslim, jalan pikiran umat muslim akan mengatakan “tidak perlulah berdakwah kepada umat selain muslim (seperti yang dilakukan rasul saw), toh semua agama benar. Dengan anak jil akan tertawa sambil minum es ting-ting. Dengan ini dakwah Islam akan mati kaku. Umat Islam tidak bertambah malah mungkin berkurang dan bersiaplah kita terpanggang di api neraka.

Adapun anak-anak yang biasanya mengatakan kita butuh pluralisme agar bisa toleransi dengan pemeluk agama lain, agar tidak merendahkan selain muslim, agar muslim tidak dicap galak adalah alasan yang dibuat-buat. Toh, tanpa paham pluralisme, Rasul saw malah menyarankan untuk meyayangi orang kafir yang baik. Rasul bersabda yang artinya: “barang siapa yang menyakiti kafir dzimmi maka dia telah menyakitiku.” . Toh, tanpa paham pluralisme aku, keluargaku, temanku, kyaiku dan masyarakat di tempatku masih tetap berinteraksi dan toleran pada orang selain muslim. Tanpa paham ini, orang hadramaut sini juga melayani orang-orang barat yang berkunjung ke Tarim. Dan patut digaris bawahi bahwa Rasul saw hidup bersama orang kafir itu termasuk bukti valid toleransi rasul saw tanpa memaksakan paham pluralisme. Namun toleransi macam ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan aqidah, melainkan lebih merupakan sebuah bentuk kasih sayang muslim terhadap pemeluk agama lain yang bebuat baik atau tidak menyakiti kita. Jadi jangan dikaitkan dengan akidah dengan mengatakan rasul membenarkan akidah mereka. Sekali lagi, kalau rasul membenarkan akidah mereka lantas mengapa beliau bersusah payah berdakwah?.

Dengan ini terbukti sudah bahwa paham pluralisme adalah salah dan bukan ajaran Islam. cuma reka-reka anak-anak jil saja. Dan terus terang saya katakan, hati ini terasa teriris dan menangis tatkala banyak teman muslim yang menyuarakan pluralisme. Sudah tahu Rasul saw berupaya memperjuangkan, mengajak dan memasukan umat kedalam Islam, Islam, Islam yang Haq..!!! dengan pengorbanan yang tiada duanya, eh malah mereka membenarkan agama lain, menghentikan dakwah muslim, membiarkan yang sesat tetap sesat. Bukankah ini menyakiti hati Rasul saw? bukankah ini sama dengan menghina kerja keras, tangis, darah, rasa lapar, dan siksa yang dialami Rasul saw? Rasul saw bahagia apabila kita toleransi dengan orang kafir yang baik karena hal ini sesuai dengan anjuranya (Siapa yang menyakiti kafir dzimmi berati dia menyakitiku) , namun beliau sangat sakit apabila kita meyakini kebenaran agama lain, karena hal itu sama dengan menganggap salah dakwah yang dibawa para rasul yakni Tauhidillah. Allah yahdiina ila shirotihil mustabin.

Oleh: Najih Baihaqi: Najih Baihaqi Putra didikan Tarim Elghanna


(1)Metode ini disebut dengan Fiqhut Tahawulat, memahami perubahan dan fitnah yang ada lantas menyesuaikanya dengan nash Quran atau Hadis, karena ini bagian dari rukun agama keempat yakni tanda hari kiamat, setelah Islam, Iman dan Ihsan. Digalang oleh sayidi alwalid Habib Abu Bakar Adni).

Wassalamualaikum wr wb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar