Jumat, Juni 18, 2010

Haul di Kota Malang 2010.


Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
Semoga saudaraku selalu dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT setiap detiknya...Amiin.

Alhamdulillah alfaqir dapat hadir memenuhi undangan yang Mulya AlMusnid alhafidz alHarb alhabib Prof.Dr Abdullah ibn Abdul Qadir Bil Faqih Ra dalam haulnya dimalang tgl 13 Juni lalu.

InsyaAllah keberkahan didapat kita semua karena saat menziarahi maqam beliau alfaqir sertakan antuma semua dalam berdoa di dpn maqam orang yang dimulyakan Allah Swt tersebut.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 14 jam diatas kereta Matarmaja akhirnya kami tiba distasiun Kota Baru Malang dan langsung bergegas ke penginapan yang jaraknya tidak jauh dari PonPes Darul Hadist AlFaqihiyyah.

Setelah beristirahat,ba'da Ashar kami beserta ribuan jamaah lainnya mengadakan Ziarah kubro yang dipimpin oleh Habib sepuh,saat pembacaan tahlil selesai diikuti pembacaan doa,rahmat Allah Swt pun turun dengan derasnya,sementara jamaah berdesak2an hendak berdoa didalam maqam yang hanya dipasang tenda 2 lokal ditengah guyuran hujan lebat.Sebagian jamaah pun memilih segera balik ke penginapan masing2.

Alhamdulillah disaat mulai berkurangnya jamaah alfaqir dapat dengan mudah memasuki kubah maqam yg luasnya +- 3x3 meter tsb yang dihuni 5 maqam yaitu Habib Abdullah Ra,Habib Abdul Qadir Ra,Habib Muhammad bin Abdul Qadir (wafat masih kecil) dan 2 syarifah. walau hanya diperbolehkan sebentar sekedar mendoakan shohibul maqam,maqam2 tsb begitu indah bersih dan bersinar dgn nur keberkahan,hingga alfaqir merasa terharu dan betah tak mau keluar lagi rasanya,tapi apadaya jamaah masih mengantri di luar.

Ba'da Maghrib,hujan masih mengguyur walau rintik2.Kami bergegas ke kediaman Muallim Abdul Muiz yang searah dengan PonPes,Beliau sudah sepuh dan termasuk pendamping Al Imam Al Habr Habib Abdullah Ra.Nasi kebuli dan macam2 kue pun disuguhkan oleh penerima tamu sementara Muallim duduk bersandar dengan tenang sambil mempersilahkan kami melahap kebuli hangat.setelah itu kami bercengkrama dgn sedikit senda gurau menanyakan keadaan masing2 dan kegiatan sehari2 para alumni didaerah masing2.

Waktu pun berlalu,kami pun berpamitan dan langsung menuju PonPes yang sedang berlangsung acara khataman dan pembacaan Maulid,sesaat sebelum Mahalul Qiyam kami pun tiba dan langsung bergabung bersama ribuan jamaah.terasa sekali suasana khusyu penuh keberkahan dibawah tenda yg panjangnya kira2 500 meter membentang, hujan pun terus mengguyur walau tidak terlalu lebat.

Tibalah waktunya tausyiah yang disampaikan oleh Al Habib Muhammad bin Abdullah Ra,beliau banyak mengisahkan karomah2 ayahanda yang sekaligus gurunya tsb dengan penuh haru,mengurai beberapa hadist2 yang didapatnya dari ayahnya beserta membacakan sanad2nya hingga Rasul Saw,seperti :
'Orang Muslim yang menjalankan perintah Allah Swt & RasulNya maka wajahnya akan bersinar dengan nur ilahiyyah'.

Beliaupun berpesan agar para alumni dan jamaah yang hadir jangan sampai terpengaruh apalagi berpindah aqidah mengikuti aliran2 baru yang bermunculan akhir2 ini.Dan mengatakan bahwa harus punya 4 hal dalm menuntut ilmu yaitu Tahu,Mau,jalankan dan biasakan terhadap ilmu yang didapat oleh para santri agar tidak mudah hilang ilmu tsb dan melekat didalam diri,acarapun akhirnya ditutup doa dan pembagian makan malam berupa nasi kembuli.

Malam pun tiba,namun suasana kota malang malam itu bak kota santri yang berlalu lalangnya orang dengan sarung dan berbaju koko.Seolah tak mau kehilangan waktu walau lelah kami pun berkeliling kota Malang yang sejuk,singgah ke Masjid Agung Malang melaksanakan qodho atau qoshor sholat dan kemudian berputar2 di alun2 kota sambil melihat2 pedagang dan tukang obat yang menjajakan dagangannya hingga sampailah dikedai dan menikmati STMJ setelah itu kembali ke penginapan.

Pagi pun tiba,saat waktu dhuha digelarlah acara puncak Haul al Imamain alHabib Abdul Qadir Ra dan alHabib Abdullah bilFaqih didepan PonPes namun sayang guru mulya kita tidak bisa hadir,demikian juga Habib Lutfi bin Yahya dan Habib Ali Abdurrahman Assegaf. walau demikian acara berlangsung khidmat dengan pembacaan Qasidah Favorite Habib Abdullah Ra yang dihadiahi oleh sahabatnya,yang dibacakan oleh anak beliau AlHabib Abdillah dengan penuh haru membuat hadirin pun menangis mengenang jasa2 kedua matahari dunia tersebut.Sungguh dua pendidik yang handal dan lembut bagi para santrinya hingga amat sangat terasa kedekatan Beliau dengan Alumni2 santrinya,hampir tiap alumni merasakan betapa bangganya mereka berkesempatan belajar disana dan diajar oleh orang2 mulya,Hampir setiap alumni mempunyai kesan yang mendalam dan kisah2 karomah beliau2 ada pada masing2 alumni. yang paling berbekas adalah pesan beliau bahwa santri yang sempat belajar dipesantren Darul Hadits akan merasakan sukses,entah dalam masalah dunia atau agamanya. maka sangat beruntunglah mereka karena mengenyam pendidikan agama ditempat munculnya matahari dunia..Subhanallah.

Demikian yang dapat alfaqir sampaikan,mohon maaf.

Wassalam.

Fatimah Az Zahrah Ra ha.

Rintihan Suci Putri Nabi : Maqtal Fathimah az Zahra

(Oleh: Ust. Fuad al Hadi)


Salam atasmu duhai putri sebaik baiknya makhluk, salam atasmu wahai putri nabi, salam atasmu wahai istri al-washi, salam bagimu duhai ibu al-Hasan dan al-Husain, salam atasmu wahai wanita suci yang dizhalimi dan diambil haknya, salam bagi ruh dan jasadmu yang suci nan semerbak dari lisan yang penuh dengan dosa ini,

Salam bagimu.....

Tepat pada tanggal 20 Jumadil Tsani, di hari Jumat yang suci, dua tahun setelah bi’tsah Rasul saw, Sayyidah Khodijah melahirkan seorang putri yang telah dipersiapkan untuk mengemban tugas yang teramat berat. Sosok yang kelahiran sampai akhir hayatnya kelak dipenuhi dengan berbagai derita dan cobaan yang akan menimpanya.

Dengan didampingi oleh empat wanita suci Assayyidah Khodijah melahirkan bayi suci yang namanya telah dipersiapkan oleh penciptanya sebelum kelahirannya tiba. Fathimah adalah nama yang dihadiahkan Tuhan untuk putri Nabi ini.

Pada usia yang masih sangat belia Fathimah Azzahra harus berpisah dengan ibundanya yang tercinta. Khodijah wanita suci yang selalu mendampingi Nabi dalam suka dan duka telah dipanggil pencipta untuk selama lamanya. Nabi bersedih atas kepergian istri yang teramat dicintainya, begitu pula Fatimah turut dalam kesedihan yang teramat sangat. Sepeninggal Khodijah perhatian Fathimah kepada ayahnya semakin bertambah. Peran ibundanya sekejap ia letakkan diatas pundaknya. Fathimah berupaya menghibur ayahnya atas kepergian sang istri tercintanya.

Ketika Nabi di Thaif, sekelompok anak anak kecil dan juga orang dewasa berlomba menimpuki Nabi dengan batu dan kotoran unta, Fathimah yang masih sangat belia tampil dengan perangai seorang ibu yang cemas dengan putranya. Dibersihkan kotoran dan darah yang berada pada pada wajah ayahnya. Air mata nabi tak mampu beliau sembunyikan ketika melihat putri tercintanya. Seorang anak yang sepatutnya sedang asyik bermain dengan teman seusianya sekarang justru berada dipangkuan ayahnya, menghalangi siapapun yang akan melukai rasulnya. Fathimahpun menangis melihat keaadan ayahnya, dengan suara bergetar penuh keharuan nabi meyeka tiap butiran air mata yang mengalir dipipi mungil putrinya sambil berkata, ' habibati Fathimah la tabki',' belahan jiwaku Fathimah janganlah engkau menangis'. Begitulah ucapan Nabi ketika tangan suci putrinya menyeka darah yang mengalir dikeningnya. Ummu Abiha, ibu dari ayahnya adalah gelar yang Rasulullah peruntukkan kepada putrinya. Satu satunya gelar yang belum pernah ada dalam sejarah kecuali untuk Fathimah Azzahra as.

Duka dan kesedihan selalu mengiringi kehidupan keluarga nabi, akan tetapi Fathimah senantiasa menyembunyikan kedukaannya selama sang ayah berada disampingnya. Kecintaan assayyidah Fathimah begitu tinggi terhadap ayahnya dan begitu pula Rasul saaw kepada putrinya hingga beliau bersabda, “Fathimah adalah belahan jiwaku, siapapun yang mencintai Fathimah berarti dia mencintaiku.”

Saat yang membahagiakanpun tiba, Fathimah dinikahkan dengan putra pamannya, seorang yang tak pernah meninggalkan nabi dalam perang apapun, putra Abu Thalib yang kelahirannya dibaitullah dengan segala keajaibannya, dialah Ali bin Abi Tholib yang tanpa keberadaannya tak akan mungkin ada manusia yang layak meminang Fathimah dan menikah dengannya. Pernikahan yang dirayakan tidak hanya oleh penduduk bumi, para malaikat dan bidadari dilangitpun sibuk menyambutnya. Jibril as meyampaikan pesan Tuhan kepada Rasul ketika merayakan pernikan al Batul Fathimah dengan al Wusul Ali bin Abi Tholib, yang berbunyi,
“Al Hamdu adalah selendang-Ku, keagungan adalah kebesaran-Ku, segala makhluk adalah hamba-Ku, Aku menuikahkan Fathimah hamba-Ku dengan Ali pilihan-Ku, saksikanlah wahai para malaikat-Ku. ..” Sementara di bumi Rasul saaw bersabda, “Sungguh aku manusia seperti kalian menikah ditengah kalian dan menikahkan kalian, kecuali Fathimah putriku yang pernikahannya turun dari langit.”
Ketika Rasulullah menyuruh para wanita keluar dari kamar putrinya pada saat malam pernikahan, Asma' bintu Unmais salah seorang yang berkhidmat kepada keluarga nabi tetap tak melangkah kakinya, hingga Rasulpun bertanya kepada Asma’, “Bukankah aku telah menyuruhmu untuk meninggalkan kamar putriku ini wahai Asma’ ?” Ia menjawab, “Betul wahai Rasul, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. saya tak bermaksud untuk melanggar perintahmu akan tetapi wasiat Khadijahlah yang menyuruhku untuk berada di kamar ini. Di saat-saat terakhirnya beliau mewasiatkan kepadaku untuk mendampingi putrimu di saat seperti ini, karena setiap wanita pasti akan mengharapkan kehadiran ibundanya untuk berada di sampingnya ketika hendak menikah.” Rasulpun bersedih bersama putrinya ketika mendengar Asma’ bercerita tentang Khadijah .

Madinah 28 Shofar tahun ke-11 H adalah tahun yang paling menyedihkan bagi keluarga Nabi terutama Fathimah. Lembaran kedukaan yang teramat sangat mulai tampak dirumah arrasul. Semua orang menatap sedih melihat kondisi Nabinya. Satu persatu keluarga beliau dipanggilnya, dimulai dari al Hasan sampai kepada Azahra yang terus menerus menangis dalam pelukan ayahnya. Nabi memeluk erat putrinya seakan beliau tak ingin melepaskannya begitu pula Fathimah. Hingga Rasul saaw membisikkan pesan terahirnya barulah Fathimah tersenyum keluh, senyuman pertanda ia adalah orang pertama yang akan menyusul ayahnya.

Fiddhoh seorang kepercayan azzahra bercerita tatkala Rasulullah saaw meniggal dunia berdukalah yang kecil dan yang besar, dan bertambah benyaklah tangisan dukapun menjadi besar atas kerabat, sahabat, kekasih dan orang-orang kesayangan, juga orang asing yang tak memiliki nasab dengan beliau. Yang terlihat hanyalah orang yang menangis, baik laki laki maupun perempuan. Begitu banyak orang yang menangis dan berduka tetapi kesedihan para penghuni bumi tiada sebanding dan melebihi duka Sayyidah Fathimah as, setiap hari kesedihannya bertambah begitu pula tangisannya bertambah keras lalu ia berdiam diri selama tujuh hari. Ketika Fathimah menangis setiap tangisannya lebih besar dari sebelumnya. Pada hari kedelapan ia menampakkan kesusahan yang dipendamnya, saat itu Azzahra berteriak histeris sambil menangis lalu memanggil-manggil ayahnya, “Wa abatah....wa Muhammadah. Wahai ayah....wahai Muhammad. Duhai tempat berlindungnya para janda dan anak yatim, siapa lagi milik putrimu yang sangat mencintai dan kehilangannmu ini.”

Dan beliaupun sering tak sadarkan diri, ketika Bilal mengumandangkan azan, saat terdengar nama ayahnya disebut “Asyhadu anna Muhammadar Rasululullah” . Kembali Fathimah menangis seraya berkata, “ismuka ‘alal mana’ir wa rosmuka fil maqobir (namamu menghiasi menara-menara masjid, sementara jasadmu terbujur di dalam kubur).” Ali berlari memeluk istri tercintanya dan memberikan baju nabi yang dipintanya, lalu Fathimah menciumi baju Nabi sampai terjatuh ke tanah, sambil berlinang air mata Azzahra berjalan menuju pusara ayahnya. Ketika berada di depan kubur ayahnya, Fathimah mengambil segenggam tanah dari makam ayahandanya, beliau ciumi tanah suci nabi sambil berkata, “Madza ‘ala man syamma turbata Ahmadin, ala yasyummu madazamani ghowaliya, syubbat alayya masho’ibun laula annaha, syubbat ‘alal ayyami sirna layaliya (…kalau saja penderitaanku ditimpakan pada siang, maka ia akan menjadi malam)”

Tak ada lagi senyuman yang terpancar dari Fathimah setelah kepergian nabi. Hari demi hari pendertitaan datang silih berganti. Seakan ujian enggan menjauhinnya. Para sahabatpun memiliki andil besar dalam menambah kesedihan untuk putri kesayangan nabi ini. Setelah mereka mengambil hak suaminya, Ali dan tanah fadaqpun dirampasnya sebagai milik negara oleh penguasa. Tidak berhenti sampai di situ penderitaan Fathimah putri nabi semakin menjadi ketika sekumpulan manusia lapar kekuasaan mengepung rumahnya. Rumah tempat turunnnya risalah, rtumah yang dindingnya adalah nubuwah dan atapnya adalah arsynya Allah, sekarang sedang dikelilingi oleh orang yang mengaku tonggaknya agama dan kebenaran. Teriakan bengis yang tak patut mereka lontarkan, sampai ancaman pembakaran. Pintu rumah pertemuan antara nubuwah dan imamah didobrak paksa, pintu yang di baliknya terdapat wanita tanpa daya. Di balik pintu itu ada Fathimah. Mereka terus memaksa masuk. Pemandangan apakah yang terjadi setelahnya. Az-Zahra jatuh terhuyung ke tanah rumahnya. Lalu api mereka sulut dan lemparkan. Fathimah terluka, tulang rusuk dan lengannya pun patah. Putra beliau (Muhsin) syahid karena keguguran. Lengkaplah kesedihan putri nabi dengan apa yang diterimanya dari orang yang mengaku para sahabat pembela ayahnya. Hal ini mengingatkan kita akan syair yang layak melekat pada mereka, “Lau ahabbu abaaki haqqon ahabbuki (Kalaulah benar mereka mencintai ayahmu, pasti mereka akan mencintaimu) .”

Hari demi hari dilaluinya dengan penderitaan yang tak kunjung berakhir, badan putri nabi ini semakin teriris pedih dan tubuhnyapun semakin tak berdaya. Ketika kekuatan fisiknya semakin melemah dikarenakan sakit yang dideritannya. Azzahra berupaya memandikan putranya Al-Hasan dan Al-Husain, menggantikan pakaian mereka, kemudian mengirim mereka kepada sepupunya, walaupun demikian ia berupaya menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan kedua anakanya.

Kemudian Azzahra memanggil suami tercintanya ke sisinya seraya berkata, “Ali suamiku yang tercinta, anda sangat mengetahui mengapa saya lakukan semua itu. Maafkan segala kesalahan saya, mereka telah demikian menderita bersama saya selama sakit saya, sehingga saya ingin melihat mereka bahagia pada hari terakhir hidupku. Wahai Ali andapun tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir saya. Saya gembira tetapi juga bersedih. Saya senang bahwa penderitaan saya akan segera berakhir dan saya akan bertemu dengan ayah saya, dan sedih karena harus berpisah denganmu. Mohon wahai Ali catatlah apa yang akan saya katakan dan kerjakanlah apa yang saya inginkan. Sepeninggal saya anda boleh menikahi siapa saja yang anda sukai tetapi hendaklah anda nikahi Yamamah sepupuku, ia mencintai anak-anakku, dan Husain sangat dekat kepadanya. Wahai Ali kuburkan saya di malam hari dan jangan biarkan orang-orang yang telah sedemikian kejam kepada saya turut menyertai penguburan saya. Jangan biarkan kematian saya mengecilkan hatimu. Anda harus melayani Islam dan kebenaran untuk waktu yang lama. Janganlah penderitaanku memahitkan kehidupanmu. Berjanjilah pada saya wahai Ali.” Dengan berlinang air mata, Ali menjawab, “Ya wahai istriku tercinta, aku berjanji.”

Fathimah lalu berkata lagi, “Ali, saya tahu betapa engkau sangat mencintai anak-anak saya. Namun, sangatlah berhati-hati dengan Husain, ia sangat mencintai saya dan ia akan sangat sedih kehilangan saya. Jadilah ibu baginya. Hingga menjelang sakit saya ini, ia biasa tidur ke dada saya, dan sekarang ia kehilangan itu.”

Ali sedang mengelus-elus tangan yang patah itu, tak kuasa menahan airmatanya hingga tetesannya terjatuh ke tangan istrinya. Fathimah mengangkat wajahnya seraya berkata, “Jangan menangis wahai suamiku, saya tahu dengan wajah lahirmu yang tampak kasar betapa lembut hatimu, engkau telah menderita terlalu banyak dan masih akan menderita lebih banyak lagi.”

Di malam terakhir kehidupunnya didunia yang fana ini, sambil menahan rasa sakit yang menimpanya, Sayyidah Fathimah Azzahra menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berdoa untuk pengikut dan pencinta setia keluarga Nabi. Dengan menyebut ayah, suami, dan putra-putranya beliau memohon kepada Allah Jalla wa 'Ala', “Wahai Tuhan-ku, sungguh aku memohon kepada-Mu melalui Muhammad al-Musthofa dan kerinduannya kepadaku, melalui suamiku Ali al-murtadho serta dukanya terhadapku, melalui al-Hasan al-Mujtaba dan tangisannya atasku, melalui putraku al-Husain As Syahid dan kedukaannya terhadapku, melalui putri-putriku dan duka mereka semua atasku. Sungguh Engkaulah yang paling pengasih dari segala yang mengasihi. Tuhanku, Penghuluku, aku bermohon kepada-Mu melalui orang orang pilihan-Mu dan tangisan putra-putraku karena berpisah denganku, agar Engkau mengampuni para pendosa dan ahli maksiat dari pengikut keturunanku.”

Madinah, 3 Jumadil Tsani 11 H. Saat saat yang memilukan semakin mendekati keluarga nabi dan pencintanya. Asma’ binti Umais dengan diselimuti kegundahan berada di depan pintu kamar Azzahra. Suara lantunan al-Quran dan doa dalam sholat Fathimah masih mampu didengarnya, akan tetapi tak lama kemudian suara itu lenyap tak terdengar lagi. Asma' pun memanggil, “Ya Zahra .....ya Zahra ....... ya Zahra”, tetapi tidak tak ada jawaban. Hingga ia pun memberanikan diri untuk memasuki kamar putri nabi, dan didapatinya tubuh suci putri nabi di atas sajadah dalam keadaan sujud tertutupi rida'-nya. Lalu dibukanya rida’ (kain penutup) itu, dan tampak wajah penuh bercahaya memancar dari paras suci Azzahra as. Belum usai tangis Asma’, ia sudah dikejutkan oleh suara salam anak kecil dari balik pintu, yang tak lain adalah suara Al-Hasan dan Al-Husain yang baru usai sholat berjamaah dengan ayahnya.

Segera mereka bertanya tentang keberadaan ibu mereka. Asma' mengatakan bahwa ibunda mereka sedang tertidur, lalu menyuruh putra Zahra ini untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Tetapi apa jawab Al-Husain, “Saat ini adalah saat ibu kami beribadah dan kami tidak pernah menikmati hidangan tanpa ibu di samping kami.” Asma tak mampu menyembunyikan tangisnya, Al-Husain segera berlari menuju ke kamar ibundanya, ia mendapati ibunya sudah tak bernyawa. Sambil berteriak dan menangis, Al-Husain menciumi kaki ibunya, Al-Hasan meletakkan pipinya di wajah ibunya, “Ya ummah kallimini... ..ummah kallimini ..... ana ‘azizuki al-Husain (wahai ibu, bicaralah kepadaku…bicaralah kepadaku…aku putera kesayanganmu al-Husain).”

Ali pun jatuh tersungkur tak sadarkan diri di perkarangan masjid Madinah, ketika mendengar kepergian Fathimah. Kaki yang tegap ketika di Badar, tubuh yang kekar ketika di Khaibar, akhirnya tak kuasa menahan derita perpisahan dengan semerbak wewangian surga Fathimah al-Kautsar. Beliau berkata, “Aro ‘ilaluddunya alayya katsirotan wa shohibuha ba’dal mamati ‘alilun”. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Fathimah hanya meminta Ali menyolatkan dan menguburkannya, dikarenakan beliau telah membersihkan dirinya dan telah menyuruh Asma' mengkafaninya, dikarenakan kasih sayang Fathimah kepada Ali suaminya, agar beliau tak melihat bekas luka dirusuknya yang patah. Beliau khawatir Ali semakin bertambah kesedihannya.

Malam pun tiba, sekelompok kecil orang yang diizinkan Fathimah berjalan mengusung jenazah putri nabi. Alipun meminta Abu Dzar untuk mengusungnya karena beliau tak mampu berjalan dengan keranda Sayyidatun Nisa’ di pundaknya. Usai pemakaman Ali meminta Abu Dzar membawa pulang kedua putranya dan meninggalkan dirinya sendiri di pusara istrinya. Ketika tak seorangpun berada di kubur Fathimah, Ali menghadap ke kubur Rasulullah seraya berkata, “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah. Salam atasmu wahai Nabi Allah, aku dan putrimu sekarang berada di pekaranganmu. Tak lama lagi putrimu akan bertemu denganmu, wahai junjunganku. Sahabatmu yang tulus ini masih mampu bersabar berpisah dengannya, namun yang membuat aku lemah kelak putrimu akan memberitahukan kepadamu tentang penyelewengan umatmu dan tindakan mereka yang menyakiti putrimu. Tak lama lagi ia akan menemuimu untuk menceritakannya kepadamu. Salam sejahtera dariku, seorang yang amat mencintaimu.”

Teks Qasidah Sholaatun..

Teks Qasidah Sholaatun.

صلاةبالسلام المبين*
Sholaatun bissalaamil mubiini

لنقطةالتعيين ياغرامي.
Linuqthotitta yiini yaa ghoroomii.

نبي كان أصل التكوين* من عهدكن فيكن ياغرامي.
Nabiyyun kaana ashlattakwiini * min ahdi kun fayakun yaa ghoroomi.

أيا من جائناحقا نذير* مغيثامسبلا سبل الرشاد.
Ayyaa man jaa anaa haqqon nadziiri mughiitsan musbilaan subularrosyaadi.

رسول الله ياضاوي الجبين* ويامن جاءبالحق المبين.
Rosulallaahi yaa dhoowiljabiini * wa yaa man jaa a bil haqqil mubiini.

صلاةلم تزل تتلي
عليك* معطارالنسيم تهدي إليك
Sholaatullam tazal tutlaa alayka mi thoorin nasiimi tuhdaa ilayka.

Makna nya :

Salawat serta salam yang nyata ku persembahkan kepadamu wahai kekasihku

sebagai bukti keteguhanku wahai Nabi kekasihku

Kaulah sebenar-benarnya pemberi peringatan di zamanmu wahai kekasihku

Wahai Rasulullah yang bersinar wajahnya penunjuk jalan kebenaran

Tak lekang shalawat tercurah kepadamu wahai pembawa kebenaran

Laksana hembusan angin yang kencang.

Kamis, Mei 20, 2010

Demi Masa.


Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh,

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Mengumpulkan kita untuk bisa turut berkumpul di dalam perkumpulan, yang mengikatkan kita kepada para Shalihin yang bagaikan rantai mata rantai yang bertalian dan bersangkutan satu sama lain, mata rantai yang jika di perguncang satu mata rantai maka berguncang seluruh mata rantai hingga ujungnya Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Inilah rantai kemuliaan mahabbah, inilah silsilatul mahabbah, inilah rantai cinta dari Ummat kepada guru, dari guru kepada guru, dari guru kepada guru hingga Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Allah subhanahu wata'ala berfirman :

وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ( العصر: 1-3 )

" Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran". ( Qs. Al Ashr: 1-3 )

Demi masa demi zaman, Allah bersumpah demi masa dan zaman, semua yang terjadi sepanjang masa waktu dan zaman musibah dan kenikmatan, kegembiraan dan kesedihan, perpisahan dan pertemuan, yang kesemua itu adalah gelombang kehidupan yang selalu ada sepanjang zaman, Demi seluruh kejadian itu yaitu masa, sesungguhnya seluruh manusia didalam kerugian, kecuali mereka-mereka yang beriman kepada Allah yang beramal shaleh dan mereka yang saling menasehati di dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Demi masa seluruh gelombang kejadian, kesedihan dan kegembiraan kekayaan dan kemiskinan, keberhasilan dan kegagalan, kehidupan dan kematian, semua di dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah, tidak akan pernah rugi, yang beramal shaleh tidak akan rugi orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk tabah dan sabar, tidak akan merugi, semoga Allah subhanahu wata'ala mengumpulkan kita kedalam kelompok yang tidak akan rugi, ini sumpahnya Allah, dari masa generasi ke generasi melewati permukaan bumi dalam kehidupan dan di antara mereka yang merugi dan di antara mereka yang beruntung pastikan wahai Allah nama kami di dalam kelompok orang-orang yang beruntung dan bukan orang yang merugi di dunia dan akhirah.

Allah, seraya berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ ( الزمر : 30 )

"Sungguh Engkau wahai Muhammad akan wafat dan semua merekapun( manusia ) akan wafat". ( QS . Az Zumar: 30 )

Wahai Muhammad engkau pasti akan menemui kewafatan dan semua orang pun akan menjumpai kewafatan. Beruntung mereka yang wafat di dalam Khusnul khatimah, merugi mereka yang wafat di dalam Su’ul khatimah, kehadiranku dan kalian di malam ini menuntun kita kepada Khusnul khatimah, menjauhkan kita dari Su’ul khatimah, Khusnul Khatimah adalah wafat dalam keluhuran, su’ul khatimah adalah wafat dalam kehinaan dan kegelapan, pastikan seluruh nama kami semua yang hadir akan wafat dalam khusnul khatimah, ya Allah.

Allah subhanahu wata'ala berfirman :

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ، يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ، وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ، وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ، وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ، ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ، وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ، تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ، أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ( عبس : 33-42 )

" Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan, mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka" ( Qs. 'Abasa: 33-42)

Ketika telah datang waktunya sangkakala terakhir, hancur leburlah seluruh alam semesta, hari di mana manusia melarikan diri dari saudara dan temannya, suami berpisah dengan istrinya, istri berpisah dari suaminya, semua tidak ingin saling dekat karena tidak ingin di tuntut satu sama lain. Seseorang lari dari ayah dan ibunya, takut di tuntut karena pernah tidak berbakti kepada ayah dan bunda, ayah dan bundapun lari dari anaknya takut di tuntut kurang memberi bimbingan yang luhur di dunia, suami melarikan diri dari istrinya takut dituntut oleh istrinya dari hak-hak atas belum ditunaikan, istri melarikan diri dari suaminya takut di tuntut atas hak-hak suami yang belum ditunaikan. Pada saat itu masing-masing orang berada di dalam kesibukan dirinya.

Di saat itu ada wajah-wajah mulia, di saat itu ada wajah-wajah yang senang dan gembira, dan ada wajah-wajah yang cemberut dan kusam dan gelap, dan di saat itu ada wajah-wajah masing-masing sibuk dengan permasalahannya, ada wajah-wajah yang gembira karna dia telah mendapat khusnul khatimah dan mendapat perjumpaan dengan para kekasihnya para shalihin dan para pemimpin shalihin sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan di saat itu juga ada wajah-wajah yang terlihat kusam dan gelap mereka dalam penyesalan yang abadi mereka adalah orang-orang yang menolak tutunan Ilahi dan tuntunan Sayyidina Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Semoga Allah Swt memberikan anugerah kepada yang beriman dan yang tidak beriman, yang berdosa dan yang tidak berdosa, yang shalih dan yang tidak shalih, semuanya dilimpahi rahmat dan kasih sayang Allah dan kenikmatan, dan Allah siap memberikan kenikmatan yang abadi untuk mereka yang beriman. Semoga aku dan kalian termasuk di dalam kelompok mereka... Amin Allahumma amin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Beribadah sesuai kesanggupan.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda di riwayatkan di dalam Sahih Al Bukhari:

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

( صحيح البخاري )

" Sungguh agama islam ini mudah, dan tiadalah yg memaksakan dirinya kecuali akan kesulitan sendiri, maka merapatlah untuk terus membenahi, mendekatlah, dan saling memberi ketenangan kabar gembiralah, dan selalulah mohon perlindungan pd Allah pagi dan sore dan sedikit waktu dilarut malam". ( Shahih Al Bukhari )


Sungguh agama ini adalah kemudahan, kemudahan yang membawa kemudahan pula, dan tiada orang yang memaksakan dirinya kecuali dia akan hancur sendiri dan akan kalah sendiri oleh keinginannya yang berlebihan.

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari mensharahkan makna kalimat ini:

وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَه

Bahwa jangan sampai manusia itu memaksakan diri lebih dari kemampuannya tetapi benahilah diri kita dari segala hal-hal yang kurang sempurnakan semampunya, dan jangan paksakan diri lebih dari kemampuannya,

Berkata Hujjatul Islam wabarakatul ‘anam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam fathul Baari bisharah Shahih Al Bukhari makna kalimat فَسَدِّدُوا ini adalah jangan sampai kita mengutamakan hal-hal yang sunah hingga membuat hal yang fardhu tertinggalkan.

Misalnya, seorang yang semangat besar untuk melakukan shalat tahajjud, ia lakukan mulai tengah malam sampai dekat subuh sudah kelelahan karna berjam-jam melakukan shalat tahajjud ingin mengikuti sunah, akhirnya sebelum adzan subuh dia tergeletak tidur dan dia lewatkan shalat subuhnya yang fardhu sampai terbitnya matahari, demikian yang dikatakan oleh Al Imam ibn Hajar didalam fathul Baari yaitu jangan berlebih-lebihan jangan pula kekurangan, sudah kita jangan banyak beribadah yang sunah dengar hadits ini sudah jangan paksakan diri, kita memaksakan diri kita terus berbuat dosa, kapan kita berusaha membenahi diri kita untuk mendapatkan pahala dan ibadah, kadang-kadang kita tidak ingin berbuat dosa tapi terus diri kita memaksakan lebih dari kemampuan untuk berbuat dosa bagaimana dengan mendekat kepada Allah subhanahu wata'ala.

Dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam meneruskan sabdanya وَقَارِبُوا yaitu berkata Al Imam ibn Hajar Asqalaniy didalam fathul Baari makna kalimat ini adalah: kalau kau tidak mampu beramal yang tidak mampu kau lakukan sebagaimana orang-orang mulia yang kau jadikan panutan maka dekatkan kepada amal itu walaupun tidak sepertinya.

Kita dengar Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, Shalat malam sampai bengkak kakinya, kita tidak mampu itu paling tidak mengikuti beliau shalat malam walaupun beberapa menit semampu kita, demikian pula amal shaleh lainya, kalau tidak mampu yang sempurna yang baik maka dekatkan semampu kita kepada yang paling baik menurut kemampuan kita, maka dengan perjuangan itu kabar gembira bagi kalian kata Rasul shallallahu 'alaihi wasallam. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ

Dan perbanyaklah do’a untuk memohon pertolongan di pagi hari, di sore hari maksudnya pagi hari itu saat waktu kita beraktifitas, banyak-banyak bedo’a kepada Allah supaya aktifitas kita di limpahi keberkahan, kesuksesan, keberhasilan dunia dan akhirah dan juga di sore hari selesai aktifitas kita kerdo’a kepada Allah barangkali tadi banyak dosa yang kita kerjakan supaya di ampuni Allah barangkali dari tadi banyak perbuatan-perbuatan yang buruk yang bisa membawa musibah di masa mendatang agar di ampuni Allah

وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ

Dan di sedikit waktu diwaktu malam yang gelap, malam yang gelap adalah malam yang gelap yaitu di tengah malam atau di akhir malam demikian di jelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari.

Dan beliau menjelaskan bahwa hadits ini juga memberikan gambaran kepada kita, bahwa Allah subhanahu wata'ala, tidak memaksakan lebih dari kemampuan kita dan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam memberikan kemuliaan tuntunan kemuliaan dan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam kelak akan memberikan syafa’ah bagi ummatnya di hari kiamat.

Sebagaimana Firman Allah subhanahu wata'ala:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ ( الأنعام : 82 )

" Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk ". ( QS. Al An'am : 82 )

Maka di riwayatkan di dalam Shahih Al bukhari ketika ayat ini turun orang-orang yang beriman yang tidak menyatukan iman mereka dengan perbuatan dholim, maka berkata para sahabat “siapa diantara kita yang tidak pernah berbuat dosa, bagaimana ini bisa kita lakukan ayat ini, betapa beratnya, maka turun firman Allah subhanahu wata'ala, yang selanjutnya menjawab kerisauan para sahabat itu dengan firman-Nya:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيم ( لقمان : 13 )

" Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar" ( QS. Luqman: 13 )

Al Imam bin Hajjar mensyarahkan makna ayat ini adalah bahwa Allah subhanahu wata'ala menjawab kerisauan para sahabat, mereka risau dengan turunnya ayat ini siapa diantara kita yang tidak berbuat dosa, lalu bagaimana dengan ayat orang-orang yang beriman yang tidak tercampur iman mereka dengan dosa, yaitu suci dari dosa, siapa yang diantara kita suci dari dosa, maka Allah beri ketenangan mereka dengan ayat ini, yang dimaksud adalah orang yang menyekutukan Allah subhanahu wata'ala tapi mengaku beriman, yaitu para munafikin lisannya muslim tetapi hati sanubarinya memusuhi dan menghancurkan islam, ini ada di masa sang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan hingga saat inipun ada.


Berkata Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari mensyarahkan hadits ini bahwa tiadalah seseorang yang beriman kecuali pasti sampai kepada surganya Allah subhanahu wata'ala, walaupun mereka pendosa dan melewati siksa mungkin di dunia mungkin di barzakh, mungkin di neraka, namun ayat ini merupakan jaminan juga bahwa tidak ada satu orangpun yang beriman kekal di dalam neraka tentunya dengan syafa’at Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Jadi kita ini sudah tidak menyekutukan Allah, sudah mengakui Nabi Muhammad utusan Allah, sudah cukup tidak perlu beramal karna sudah pasti masuk surga,tentunya tidak demikian maka berhati-hati dengan perbuatan dosa yang meninggalkan perintah Allah dan melakukan larangannya karna perbuatan dosa seperti itu hanyalah menambah musibah kita di dalam kehidupan dunia, di alam barzakh dan di hari kiamat, makin banyak dosa kita, makin banyak kesalahan kita makin banyak musibah yang kita datangkan sendiri dengan perbuatan kita sendiri di dunia dan di akhirat, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita... Amiin Amiin Amiin Allahumma Amiin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mencintai Nabi Muhammad Saw.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata'ala Maha Raja penguasa tunggal sepanjang waktu dan zaman, Maha memandang setiap getaran perasaan, Maha mengubah ketentuan yang akan datang pada hamba-hamba-Nya, Maha menawarkan perubahan yang indah dan lebih luhur di masa-masa mendatang sang hamba, tiada kehidupan yang lebih cerah dan lebih mngharapkan akan mendapatkan kemuliaan, melebihi kehidupan hamba-hamba yang cerah dengan cahaya Allah. Hamba-hamba yang menginginkan Allah, hamba-hamba yang mendambakan Allah, hamba-hamba yang mengagungkan Allah ,

مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا كَثُرَ ذِكْرَهُ

" Barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka banyak menyebutnya"

Alangkah indah bibir yang banyak menyebut nama Allah, adakah bibir yang lebih agung sepanjang Allah mencipta alam hingga akhir keturunan Adam, adakah bibir yang lebih bercahaya dari bibir yang paling banyak menyebut nama Allah, adakah bibir yang lebih agung dan lisan yang lebih suci dari yang memanggil nama-Nya, adakah tangan yang lebih terhormat dari tangan yang terangkat memohon kepada-Nya, adakah perasaan yang lebih tenang dan sejuk dari perasaan para pendoa kehadirat-Nya?!.

Rasulullah Saw bersabda :



قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

( صحيح البخاري )

" Demi dzat ( yang ) jiwaku berada di genggaman-Nya, belum (sempurna) iman seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintainya dari orangtuanya dan anaknya ". (Shahih Al Bukhari )

Maka kenalkanlah dan ajaklah keluarga di rumah kalian untuk mencintai Nabi Saw, dsn hendaklah kalian mengamalkan sunnah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam walaupun satu dari sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Jika kalian hendak tidur, maka amalkanlah satu atau tiga sunnah yang diajarkan oleh nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Jika kita dalam hidup ini melakukan sunnah-sunnah nabi Muhammad dalam segala segi kehidupan kita, maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam akan rindu kepada kita.

Dan Rasulullah pernah suatu saat berkata dihadapan para sahabat: " Alangkah rindunya aku kepada para saudaraku", maka para sahabat berkata: " bukankah kami ini semua adalah saudaramu wahai Rasulullah", maka Rasulullah menjawab : " kalian adalah sahabatku ", lalu para sahabat berkata : " kalau begitu, siapa saudara-saudaramu itu wahai Rasulullah? ", maka Rasulullah menjawab: " Mereka adalah kaum yang datang setelah aku, mereka berangan-angan memandang wajahku, walaupun harus mengorbankan diri mereka dan keluarga mereka ".

Apabila kita berkeinginan untuk memandang wajah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan betul-betul tulus dalam keinginan itu maka ketahuilah bahwa nabi juga akan rindu kepada kita. Maka jika kalian berwudhu kemudian bershalawat kepada nabi Muhammad dan mengerjakan shalat dua rakaat sebelum tidur dan engkau berkeinginan untuk melihat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, apabila engkau tidak melihatnya di malam itu maka janganlah bersedih, karena engkau telah berkeinginan berjumpa dengannya, maka rasul pun berkeinginan untuk berjumpa dengan orang yang merindukannya.

Terkadang keinginan kita bertemu dengan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ditunda oleh Allah subhanahu wata'ala sebagai ujian seberapa besar kejujuran untuk berjumpa dengan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dunia dan seisinya tidak sebanding dengan kerinduan kepada sayyidina Muhammad. Semoga Allah menghidupkan hari-hari kita dengan kehidupan yang baik... Amiin ya Robbal alamin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tuntunan Sayyidina Muhammad Saw membawa kita pada Pengampunan Allah Swt.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْجَلْسَةِ اْلكَرِيْمَةِ

Limpahan puji kehadirat Allah Maha Raja langit dan bumi, Maha Penguasa setiap keadaan dan kejadian, Maha Ada sepanjang masa, sebelum masa dicipta, setelah masa dicipta dan setelah masa tiada, selama perhitungan siang dan malam ada, sebelum siang dan malam ada, hingga siang dan malam tiada, Allah Maha Ada, Sang pencipta siang malam dan masa, Sang Pencipta zaman Maha ada sebelum adanya zaman, dan Maha ada setelah zaman tiada, dan Maha menyiapkan anugerah yang kekal untuk hamba-hamba-Nya keturunan Adam, bagi mereka kebahagiaan atau kehinaan, beruntunglah yang memilih kebahagiaan yang dihantarkan oleh utusan Allah, pembawa kebahagiaan dunia dan akhirah, sayyidina Muhammad. Pembawa keluhuran dunia dan akhirah, sayyidina Muhammad. Pembawa kedamaian dunia dan akhirah, sayyidina Muhammad. Pembawa kemuliaan dunia dan akhirah, sayyidina Muhammad Saw.

Menuntun hamba-hamba Allah ke jalan keluhuran, ke jalan kedamianan, ke jalan kebahagiaan, ke jalan kemuliaan dunia dan akhirah, beruntunglah para pengikut sayyidina Muhammad, beruntunglah para pencinta sayyidina Muhammad, beruntunglah yang bershalawat kepada sayyidina Muhammad, beruntunglah yang merindukan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Allah Swt berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

( الأنبياء : 107 )

" Tiadalah kami mengutusmu ( Muhammad ) melainkan ( untuk ) menjadi rahmat bagi semesta alam " ( QS. Al Anbiyaa: 107)


Rahasia keluhuran yang ditumpah ruahkan oleh Allah sepanjang kehidupan kita ditawarkan bagi yang menghendakinya hingga setiap nafasnya menjadi berlian-berlian yang membawa keluhuran di masa mendatang dan di hari esoknya dalam kehidupan dunia, barzakh dan akhirah, itulah makna kebangkitan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

Semua tuntunan beliau Saw, semua bimbingan beliau, semua ucapan beliau adalah mutiara-mutiara kebahagiaan dunia dan akhirah. Semoga Allah senantiasa menerangiku dan kalian dengan cahaya keluhuran dunia dan akhirah, cahaya kebahagiaan dunia dan akhirah, wahai Yang Maha memiliki kebahagiaan dunia dan akhirah. Allah subhanahu wata'ala memerintahkan sedemikian banyak perintah, dan melarang sedemikian banyak larangan, namun walaupun Allah subhanahu wata'ala mempunyai sifat murka dan benci terhadap perbuatan dosa akan tetapi Allah juga mempunyai sifat kasih sayang, yang masih menyayangi dan memperhatikan para pendosa agar dilimpahi pengampunan.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

( فصلت: 30 )

" Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". ( QS. Fusshilat: 30 )

Mereka yang mengatakan :"sungguh Tuhan kami adalah Allah, lalu beristiqamah ", apa itu istiqamah? Yaitu berusaha semampunya untuk menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah dan berusaha semampunya untuk melakukan hal-hal yang diperintah oleh Allah. Usaha untuk mencapai istiqamah adalah istiqamah dan mendapatkan pahala istiqamah. Usaha seseorang untuk mencapai istiqamah maka ia sudah mendapatkan pahala kemuliannya, karena niat seseorang telah mendapatkan pahalanya, dan jika ia melakukannya maka pahalanya dilipatgandakan 10 hingga 700 kali. Maka berniatlah kita semua untuk menjadi ahlul istiqamah yaitu seorang yang selalu menjauh dari hal-hal yang dilarang Allah dan selalu berbuat hal yang disukai oleh Allah, yang dengan itu terbuka rahasia kelembutan Ilahi yang lebih berlimpah, menyingkirkan segala kesulitan dan musibah dan membuat kita seakan-akan di sorga sebelum sampai ke sorga, karena Allah memanjakan kita dengan kemuliaan dan kedamaian di dunia ini, demikian keadaan orang-orang yang dicintai Allah.


Kebahagiaan dunia , barzakh dan akhirah semoga terlimpah kepada kita dan terjauhkan kita dari api neraka...Amiin ya Robbal alamin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Senin, Mei 17, 2010

Status Motivasi Islami.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Mengumpulkan kita untuk bisa turut berkumpul di dalam perkumpulan, yang mengikatkan kita kepada para Shalihin yang bagaikan rantai mata rantai yang bertalian dan bersangkutan satu sama lain, mata rantai yang jika di perguncang satu mata rantai maka berguncang seluruh mata rantai hingga ujungnya Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Inilah rantai kemuliaan mahabbah, inilah silsilatul mahabbah, inilah rantai cinta dari Ummat kepada guru, dari guru kepada guru, dari guru kepada guru hingga Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Berikut alFaqir rangkumkan status FaceBook Motivasi Islami yang ada di akun ana,semoga menjadi bahan penyemangat kita dalam beribadah kepada Allah Swt dan menambah kecintaan kita pada Baginda Nabi Muhammad Saw.


.. Hadiah terindah dari Allah Swt adlh wujud&cahaya tuntunan Nabi Muhammad Saw yg merupakan petunjuk dari kegelapan,penghias bumi dgn segala kemewahannya, pelebur bencana dan menenangkan hati yg khusyu beribadah kpd Allah Swt maka wajiblah bagi umat bershalawat dan mensyukurinya ..


.. Man Jadda Wa Jadda,barangsiapa yang bersungguh2 maka ia akan berhasil maka tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat dan terimalah nasehat yang baik walau dari budak yang hitam legam,hargailah guru dan amalkanlah ilmu. Sukses itu penting namun sukses,selamat dan bahagia jauh lebih penting ..


.. orang tua dapat menjadi jalan ke surga atau neraka bagi kita.. maka Berbaktilah pada kedua orang tua,niscaya Allah Swt akan jadikan anak keturunan kita kelak berbakti pada kita .. insyaAllah...Amiin.


.. Jika kita sudah meraih kesuksesan dunia atau sukses dgn hajat&cita2 tetaplah kepada kegiatan dalam keluhuran, mengabdilah pada Allah & RasulNya , bantu syiar agamaNya,janganlah berlalai2 dalam kegiatan dunia yang hanya menyita waktu,menghabiskan sisa usia kita dlm hal yang sia2 .. Naudzubillah.


.. jangan sekali2 kita tertipu,walau kita sdh bertaqwa menjalankan perintah Allah&RasulNya tetaplah ingat2 akan dosa dan kesalahan kita yang tlah lalu agar kita terus terpacu meningkatkan derajat ketaqwaan kita hingga ALLAH Swt ridho dan selalu mengarahkan kita pada hal2 yang mulya .. insyaAllah..Amiin.


.. Wahai sdr ku sekalian yang selalu dalam kemulyaan jalin&rekatkanlah selalu hubungan kalian dengan orang2 sholeh yang selalu menepati janjinya pada Allah Swt dan membantu dakwah Sayyidina Muhammad Saw,jadikanlah itu kenikmatan&anugerah termulya yang Allah limpahkan yang akan mengubah kesulitan menjadi kemudahan serta...


. Assalamualaikum wr wb .. sdr/i ku Sungguh, cinta dapat mengubah yang pahit menjadi manis,Debuberalih emas,Keruh menjadi bening,Sakitmenjadi sembuh,Penjara berubah menjadi telaga,Derita menjadi nikmat dan amarah menjadi
rahmat,Cintalah yang mampu meluluhkanbesi,Menghancurkan
batu karangserta membuat budak menjadi pemimpin..Mari kita saling cinta krn Allah&RasulNya ..


.. ALLAHUMMA INNA NAS'ALUKA NAFSAN MUTH'MAINATAN TU'MINU BILIQAA'IKA WA TARDHAA BIQADHAA'IKA WA TAQNA'U BI'ATHAA'IKA .. Artinya : Wahai Allah,sesungguhnya kami memohon kepada Engkau jiwa yang tenang,yang meyakini perjumpaan dengan Engkau,ridho terhadap ketentuan Engkau dan merasa puas dengan pemberian Engkau...Amiin.


.. Assalamualaikum wr wb , Jagalah diri kita krn dunia semakin renta dgn bermacam kerusakan didlmnya,ketentramanpun semakin langka maka sucikanlah diri kita dgn bertaubat dan menyesali dosa2,berlarilah mendekat kepada Tuhan kita Allah Swt yang menguasai alam semesta agar kita termasuk orang2 yang beruntung didunia dan akhiratnya .. Insyaallah..Amiin.


.. ASSALAMUALAIKUM WR WB , Cahaya kelembutan kasih sayang ALLAH Swt,semoga slalu menaungi hari2 kita semua..Amiin. Sabda Rasulullah Saw 'Tetaplah bertaqwa pada ALLAH,karena sesungguhnya itu adlh pokok segala urusan dan tetaplah dgn membaca alQur'an krn itu adlh cahaya bagimu didunia dan dilangit menjadi simpanan untukmu'. (HR.Ibnu Hibban)


Dari Ibn Abbas ra berkata : diantara doa Nabi saw : “Wahai Allah jadikanlah pada hatiku cahaya, dan pada penglihatanku cahaya, dan pada pendengaranku cahaya, dan di kananku cahaya, dan dikiriku cahaya, dan diatasku cahaya, dan dibawahku cahaya, dan didepanku cahaya, dan di belakangku cahaya, dan jadikan untukku cahaya” (Shahih Bukhari)


.. ASSALAMUALAIKUM WR WB , sdr/i ku yang dirahmati ALLAH SWT,Rasulullah Saw bersabda : 'Sesungguhnya kekayaan adalah kecukupan hati dan kefaqiran adalah faqirnya hati. Barangsiapa yg kaya hatinya maka hartanya tak akan membahayakan baginya dan barangsiapa merasa faqir hatinya maka harta yg bykpun tak akan mencukupinya,...akan tetapi justru akan membahayakan dirinya karena kikirnya.' (HR.Ibnu Hibban)



.. Allahumma sholli afdhalashshalaati alaa as'adi makhluwqatika badrid dujaa sayyidana wa mawlaanaa Muhammadin wa alaa aalihiy wa shahbihiy wa sallim,adada ma'lumaatika wamidaada kalimaatika kullamaa dzakarakadzdzaa kiruwna wa ghafala'an dzikrikal ghafiluwna wasalim waradhiyallaahu ta'aalaa 'an saadaatinaa ashhaabi rasulillaahi ajmain ..


.. Hidup emang nikmat jika kita taat..! ingat kita lagi nunggu giliran dijemput malaikat apalagi sampe ninggalin sholat,bahaya dihari kiamat..! jadi mari kita jaga sholat agar selamat dunya akherat.. Amiin.



Selasa, April 20, 2010

Makna Sholat.

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,

Kasih sayang dan Inayah Nya swt semoga selalu menyejukkan hari hari kita semua..Amiin.

1.Sumber Dalil Sholat.

Secara Nash hadits, Jibril as datang kepada Nabi saw mengajarkan shalat, ia datang di awal waktu dhuhur, lalu shalat 4 rakaat dengan 2 tahiyyat dan bacaan sirran (suara berbisik), lalu saat awal waktu asar Jibril as mencontohkan shalat asar 4 rakaat dg dua tahiyyat dg bacaan sirran, lalu saat masuk waktu magrib Jibril as melakukan shalat magrib 3 rakaat dengan dua tahiyyat, dan bacaan suratnya Jahran (suara jelas), lalu saat masuk awal waktu shalat isya Jibril as mengajari nabi saw lagi shalat Isya 4 rakaat dg dua tahiyyat dan bacaan surat dua rakaat pertama jahran, demikian pula awal waktu subuh, Jibril as mengajari shalat dua rakaat dengan satu tahiyyat dengan bacaan pada kedua rakaat itu Jahran,

kemudian Jibri as pada waktu dhuhur mengulangi lagi namun bukan di awal waktu dhuhur, tapi di akhir waktu dhuhur, lalu di akhir waktu ashar, lalu diakhir waktu magrib, lalu diakhir waktu isya, lalu diakhir waktu subuh, lalu Jibril as berkata pada Nabi saw : Nah.. diantara dua waktu inilah wahai Muhammad (Shahih Bukhari),

maksudnya adalah Jibril as mengajari waktu waktu shalat awalwaktunya dan akhir waktunya.

2..Makna Rakaat dalam Sholat.

lalu mengenai hikmahnya saya tak menemukannya pada riwayat shahih, namun penafsiran ulama banyak sekali, ada yg menafsirkan bahwa saat subuh orang masih khusyu, maka Allah swt hanya menghendaki 2 rakaat saja, namun saat dhuhur, asar, magrib dan isya saat saat orang mulai penat, letih, tergoda, cenderung berbuat buruk, maka dijadikanlah waktu shalat sangat rapat diwaktu waktu siang hingga petang itu.

adapula cendekiawan yg menafsirkan bahwa milyaran sel tubuh kita membutuhkan pelenturan di waktu siang hingga petang lebih dari waktu tengah malam dan pagi, maka Allah mengatur demikian,Dan masih banyak lagi penafsiran para cendikiawan Muslim lainnya.

3.Makna Gerakan Sholat.

* Takbiratul ihram
Takbiratul Ihram berasal dari dua kata : Takbir (ucapan Allahu Akbar) dan Ihram (pengharaman), ketika dua kalimat ini digabung maka bermakna : Ucapan takbir yg memulai pengharaman dari melakukan hal hal yg dilarang dalam shalat. Seperti makan, minum, berbicara kpd selain Allah dan Rasul saw dan hal hal yg diajarkan Rasul saw sebagai mubthilat (yg membatalkan) shalat.

* Bersedekap
Sedekap ini bukan merupakan rukun shalat, bila tak dikerjakan tak membatalkan shalat, yg merupakan rukun adalah berdiri dalam shalat wajib bagi yg mampu dan membaca Fatihah padanya.

* Ruku
Ruku secara bahasa adalah menunduk
Secara Syar;an adalah menundukkan badan hingga kedua telapak tanganna meraih/bersandar pada kedua lututnya, dan bahwa Ruku;nya Rasul saw itu tepat dalam posisi 90 derajat, hingga andai ditaruh sebuah gelas dipunggungnya niscaya tak tumpah, menunjukkan lurusnya posisi punggung beliau dalam 90 derajat

* I'tidal
Secara bahasa adalah tegak lurus
Secara syar?an adalah tegak berdiri kembali ke posisi semula sebelum ruku;nya.

* Sujud
Secara bahasa adalah merendahkan diri serendah rendahnya
Secara syar;an adalah meletakkan 7 anggota sujudnya pada bumi tempat ia melakukan shalat, yaitu kedua telapak tangan, kedua lutut, kedua kaki, dan Dahinya, dengan mengangkat belakang tubuhnya lebih tinggi dari posisi dahinya, melambangkan kerendahan yg serendah rendahnya atas dahi.

* Duduk di antara dua sujud
Duduk antara dua sujud secara bahasa adalah duduk sebagaimana yg kita fahami, dan secara syar?an pun demikian, duduk dalam posisi apapun yg disebut duduk tetap sah shalatnya, misalnya bersila, tetap sah shalatnya, dan sunnah adalah duduk dengan Iftirash dengan menegakkan telapak kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri sebagaimana kita lihat orng yg melakukan duduk dalam shalat.

* Tahiyatul
Tahiyyah secara bahasa adalah kemuliaan, secara syar?an adalah Salam kepada Allah, sebagaimana para sahabat mengucapkan salam pada Rasul saw, salam pd sesama muslim, merekapun mengucapkan salam kepada Allah, maka Rasul saw bersabda : ?Jangan ucapkan salam pd Allah, karena Allah adalah Assalaam, tapi ucapkanlah Attahiyyatu lillah; (Syarh Baijuri Bab Shalat)

Tasyahhud, secara bahasa adalah mengucapkan syahadat, secara syar;an adalah terbagi dua, Tasyahhud awwal dan Tasyahhud Akhir, tasyahhud awal adalah duduk setelah sujud kedua pd rakaat kedua, lalu membaca doa tasyahhud awal sebagaimana dijalankan oleh muslimin dan yg itu semua telah diajarkan oleh Rasul saw, demikian pula Tsyahhud Akhir, yaitu ucapan yg merupakan percakapan antara Allah dan Rasul saw di malam Mi'raj beliau, sebagaimana Rasul saw menceritakannya : aku bersujud dan berucap : ?Attahiyyatulmuba?dst.? Lalu Allah menjawab Assalaamu alaikua Ayyuhannabiyy.., lalu aku menjawab : Assalaamu alaina.., maka percakapan ini dijadikan kewajiban utk selalu diucapkan oleh setiap ummatnya, karena saat itu lah diwajibkannya shalat, maka shalat menyimpan rahasia kemuliaan Mi;raj beliau saw kepada Allah swt.

* Menunjukkan jari ketika sedang tahiyat
Merupakan Ittiba; lirrasul saw (berpanut pd perbuatan Rasul saw)

* Salam
Salam adalah ucapan dari rukun shalat yg terakhir dg niat selesai dari shalat, ucapan salam yg pertama merupakan rukun shalat, dan salam yg kedua adalah sunnah, mengenai kpd siapa ucapan tersebut memang banyak khilaf, namun bukan itu daripada tujuan utama mengucapkan salam, karena tujuan utama dari salam dan seluruh gerakan shalat adalah Ittiba; lirrasul saw dengan landasan perintah Allah swt dengan puluhan ayat pd Al Qur;anulkarim yg memerintahkan kita taat kepada Rasul saw, dan mengikuti perintah beliau saw.

4.Mencapai Khusyu'.

Khusyuk adalah suatu kemuliaan yg ada awalnya namun tiada pernah ada akhirnya, dan awal dari khusyuk adalah konsentrasi pada Allah swt atau apa apa yg mengingatkan kita pada Allah, apakah neraka, sorga, kematian, kemuliaan alam, atau apa saja dafri lintasan pemikiran yg mengarah pada Allah semata

lalu tingkatan khusyuk yg lebih tinggi adalah konsentrasi pada makna apa apa yg kita ucapkan dalam bacaan shalat itu, dan tingkatan lebih tinggi lagi adalah tenggelam dalam makna makna itu dengan melupakan seluruh pemikiran yg lainnya,

lalu tingkat selanjutnya adalah sirnanya seluruh nama, seluruh pemikiran, seluruh warna dan bentuk, seluruh keinginan, kesedihan dan kegembiraan dan semua keduniawian, yg ada hanyalah hamba yg sedang berhadapan dengan Pencipta Nya swt, ia merasa tak ada alam semesta, hanya berdua dg Allah semata, dan lalu tingkatan khusyuk makin meningkat dan meningkat..

Sebagian ulama berpendapat demikian, namun bukan mustahil orang menemukan khusyuknya ditengah atau di akhir shalat,

Salah satu caranya adalah dimulai dengan saat berwudhu, jangan berbicara dg siapapun saat berwudhu, tenanglah saat berwudhu, hadirkan hati anda untuk menyucikan jiwa dan raga dg mutiara dan berlian yg diciptakan Allah untuk bersuci yaitu air,

dan adapula teriwayatkan doa doa dalam berwudhu, bila tidak hafal maka usahakanlah hati terus berdoa dalam wudhu, terus bermunajat, mensucikan nama Allah dan memuji Allah dg berbagai kenikmatan, lalu berdoalah lagi selepas wudhu, lalu masuklah dalam shalat dan usahakan jangan bercanda, jangan berbicara dg siapapun kecuali seperlunya saja, dan bila ada pakailah siwak, asesoris shalat lainnya, minyak wangi bila ada, sajadah, dan hal hal yg bersifat religius lainnya yg menambah kekhsuyuan dan konsentrasi kita, lalu mulailah shalat, dengan menafikan dan melupakan segala pemikiran, runtuhkan semua nama dan pemikiran, tinggalkan semuanya, sisakan Nama Nya yg Maha Tunggal..

ingatlah anda akan terbujur kaku, diusung dan dishalatkan dg berkafan putih semata, dan ditanamkan di kuburan dan ditimbun sendiri, bayangkan tubuh anda diusung oleh teman teman dan keluarga yg menangisi anda untuk diantar kepemakaman, tanah yg basah dan ditinggalkan sendiri… maka bertakbiratul ihram lah.. mulailah shalat, anda akan menemukan kemudahan untuk terus asyik berduaan dg Allah swt, teruslah asyik dalam rukuk dan sujud, ingatlah bahwa nanti pun anda akan berduaan dengan Nya swt saja, tanpa ditemani seluruh kekasih ataupun musuh, jadikanlah Dia swt sebagai kekasih..

nah.. umumnya kemuliaan khusyuk dicapai dg yg demikian.

Wallahu a'lam

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhh.

Jumat, Maret 26, 2010

Panduan Shalat.

Panduan Shalat Berdasarkan Kitab Muktabar (Bag.1 - Niat dan Takbiratul Ihram)


Alhamdulillah wash shalatu was salamu 'alaa Rasulillah, atas permintaan sahabat kami yang sangat mulya agar membahas mengenai shalat, maka kami mengusahakan untuk membahas shalat berdasarkan apa yang diketahui dari kitab-kitab ulama muktabar (madzhab Syafi’iyyah) dan berdasarkan penjelasan-penjelasan yang pernah kami terima dari Asatidz dan pak Kiayi yang mulya –alladzi sami’na wa atha’na-. Semula ana sempat menolak dengan alasan ana menyadari bahwa ana masih sangat awam. Akhirnya ana memenuhi pemintaan Ashabina dan mengusahakan menulisnya dengan senantiasa memohon petunjuk kepada Allah. Pembahasan ini tentu saja hanya pembahasan singkat sesuai dengan kapasitas keilmuan penulis yang faqir al-faqir ini dan akan diuraikan secara bertahap. InsyaAllah.

Sebelum membahas, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu mengetahui rukun shalat secara singkat. Kami kutipkan dari kitab Safinatun Naja (Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Fadlil Salim bin Samiyr Al-Hadlramiy ‘alaa Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i), kitab ulama madzhab syafi’iiyah yang biasa dipelajari sebagai panduan shalat bagi pemula, dimana biasanya disertakan juga dengan kitab Safinatush Shalat dan penjelasan yang berasal dari guru/ustadz/kiayi mereka.

(فصل ) أركان الصلاة سبعة عشر : الأول النية ،الثاني تكبيرة الإحرام ، الثالث القيام على القادر في الفرض ،الرابع قراءة الفاتحة ، الخامس الركوع ، السادس الطمأنينة فية ، السابع الإعتدال ،الثامن الطمأنينة فيه ، التاسع السجود مرتين ،العاشر الطمأنينة فية ، الحادي عشر الجلوس بين السجدتين ، الثاني عشر الطمأنينة فية ،الثالث عشر التشهد الأخير ،الرابع عشر القعود فيه ،الخامس عشر : الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ،السادس عشر السلام ،السابع عشر الترتيب

Rukun shalat ada 17 :
1. Niat
2. Takbiratul ihram
3. Berdiri bagi yang mampu dalam shalat fardhu
4. Membaca al-Fatihah
5. Rukuk
6. Tuma’ninah diwaktu rukuk
7. I’tidah
8. Tuma’ninah diwaktu I’tidal
9. Sujud
10. Tuma’ninah diwaktu sujud
11. Duduk diantara dua sujud
12. Tuma’ninah diwaktu duduk diantara dua sujud
13. Tasyahud akhir
14. Duduk untuk membaca tasyahud
15. Membaca shalawat Nabi
16. Salam
17. Tertib

PENJABARAN RUKUN SHALAT

1. Niat
2. Takbiratul Ihram

Contoh shalat Dluhur, maka bacaannya sebagai berikut :

اصلي فرض الظهر أربع ركعات ركعتين مشتقبل القبلة اداء.... (مأموما) \ (إماما) لله تعالي
“Ushalli fadlod-dhuhri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati ada-an ..(ma’muman/imaman) lillahi ta’alaa”
Artinya, “Sengaja aku shalat dhuhur 4 raka’at menghadap kiblat karena Allah ta’alaa”.


Kemudian melakukan Takbiratul Ihram (الله أكبر) harus bersamaan dengan Niat shalat yang dilakukan didalam hati. Jika tidak bersamaan, maka shalatnya tidak sah. Niat tidak boleh mendahului takbir dan tidak (pula dilakukan) sesudah Takbir.

Penjelasan seputar Niat Shalat :

Pengertian niat adalah menyengaja melakukan sesuatu atau memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya. Niat dilakukan didalam hati, sebab merupakan amalan hati dan bersamaan dengan takbiratul Ihram. Takbiratul Ihram (الله أكبر) dilakukan dengan lisan (diucapkan).

Al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim asy-Syafi’i, didalam Kitab Fathul Qarib, pada pembahasan Ahkamush Shalat mengatakan ;

النِّيَةُ) وَ هِيَ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً بِفِعْلِهِ وَ مُحَلُّهَا اْلقَلْبُ
“niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya dan tempat niat itu berada di dalam hati.”

Al-Fiqh al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam asy-Syafi'i, pada pembahasan Arkanush Shalat ;

وهي قصد الشيء مقترناً بأول أجزاء فعله، ومحلها القلب. ودليلها قول النبي"إنما الأعمال بالنيات"
"(Niat), adalah menyengaja (memaksudkan) sesuatu bersamaan dengan sebagian dari perbuatan, tempatnya didalam hati. dalilnya sabda Nabi SAW ; ("إنما الأعمال بالنيات")"

Al-Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm Juz 1, pada Bab Niat pada Shalat (باب النية في الصلاة )

قال الشافع: والنية لا تقوم مقام التكبير ولا تجزيه النية إلا أن تكون مع التكبير لا تتقدم التكبير ولا تكون بعده
“..niat tidak bisa menggantikan takbir, dan niat tiada memadai selain bersamaan dengan Takbir, niat tidak mendahului takbir dan tidak (pula) sesudah Takbir.”

Penjelasan-penjelasan seperti diatas bisa didapati dalam kitab-kitab ulama pada pembahasan shalat. Misal Al-Imam An-Nawawi didalam Kitab Raudhatut Thalibin, pada fashal (فصل في النية يجب مقارنتها التكبير), Al-Qadhi Abu al-Hasan al-Mahamiliy, didalam kitab Al-Lubab fi al-Fiqh asy-Syafi'i, pada pembahasan (باب فرائض الصلاة), al-‘Allamah asy-Syaikh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibariy asy-Syafi’i dalam Fathul Mu’in Hal 16, Asy-Syekh Abu Ishaq asy-Syairaziy, didalam Tanbih fi Fiqh Asy-Syafi'i (1/30), Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, pada pembahasan (فرائض الصلاة), Al-Allamah Al-Imam An-Nawawi, dalam kitab Al-Majmu' (II/43), Al-Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini, didalam Kifayatul Ahyar, pada bab (باب أركان الصلاة), Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy, didalam Tuhfatul Muhtaj (تحفة المحتاج بشرح المنهاج) [II/12], Al-‘Allamah Al-Mahalli, didalam Syarah Mahalli Ala Minhaj Juz I (163), Al-Hujjatul Islam Al-'Allamah Al-Faqih Al-Imam Al-Ghazaliy, didalam kitab Al-Wajiz fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi'i, Juz I, Kitabus Shalat pada al-Bab ar-Rabi' fi Kaifiyatis Shalat, Al-'Allamah Asy-Syekh Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj (السراج الوهاج على متن المنهاج) dan lain sebagainya.

Didalam melakukan niat shalat fardlu, diwajibkan memenuhi unsur-unsur sebagai berikut ;

• Qashdul fi’li (قصد فعل) yaitu menyengaja mengerjakannya, lafadznya seperti (أصلي /ushalli/”aku menyengaja”)
• Ta’yin (التعيين) maksudnya adalah menentukan jenis shalat, seperti Dhuhur atau Asar atau Maghrib atau Isya atau Shubuh.
• Fardliyah (الفرضية) maksudnya adala menyatakan kefardhuan shalat tersebut, jika memang shalat fardhu. Adapun jika bukan shalat fardhu (shalat sunnah) maka tidak perlu Fardliyah (الفرضية).

Jadi berniat, semisal (ﺍﺼﻠﻰ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺃﺩﺍﺀ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﻠﻰ/”Sengaja aku shalat fardhu dhuhur karena Allah”) saja sudah cukup.

Sekali lagi, niat tersebut dilakukan bersamaan dengan Takbiratul Ihram. Yang dinamakan “bersamaan” atau biasa disebut Muqaranah (ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ) mengadung pengertian sebagai berikut (Fathul Mu’in Bisyarhi Qurratu ‘Ayn),

. وفي قول صححه الرافعي، يكفي قرنها بأوله
“Menurut pendapat (qoul) yang telah dishahihkan oleh Al-Imam Ar-Rafi’i. bahwa cukup dicamkan bersamaan pada awal Takbir”.

وفي المجموع والتنقيح المختار ما اختاره الامام والغزالي: أنه يكفي فيها المقارنة العرفية عند العوام بحيث يعد مستحضرا للصلاة
“Didalam kitab Al-Majmu dan Tanqihul Mukhtar yang telah di pilih oleh Al-Imam Ghazali, bahwa “bersamaan” itu cukup dengan kebiasaan umum (‘Urfiyyah/ العرفية), sekiranya (menurut kebiasaan umum) itu sudah bisa disebut mencamkan shalat (al-Istihdar al-‘Urfiyyah)”

Imam Ibnu Rif’ah dan Imam As-Subki membenarkan pernyataan diatas, dan Imam As-Subki mengingatkan bahwa yang tidak menganggap/menyakini bahwa praktek seperti atas (Muqaranah Urfiyyah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﻋﺭﻓﻴﻪ )) tidak cukup menurut kebiasaan), maka ia telah terjerumus kepada kewas-wasan.

Pada dasarnya “bersamaan” atau biasa disebut Muqaranah (ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ) adalah berniat yang bersamaan dengan takbiratul Ihram mulai dari awal takbir sampai selesai mengucapkannya, artinya keseluruhan takbir, inilah yang dinamakan Muqaranah Haqiqah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﺣﻘﻴﻘﺔ ).

Namun, jika hanya dilakukan pada awalnya saja atau akhir dari bagian takbir maka itu sudah cukup dengan syarat harus yakin bahwa yang demikian menurut kebiasaan (Urfiyyah) sudah bisa dinamakan bersamaan, inilah yang dinamakan Muqaranah Urfiyyah ( ﻣﻘﺎﺭﻧﻪ ﻋﺭﻓﻴﻪ ).

Menurut pendapat Imam Madzhab selain Imam Syafi’i, diperbolehkan mendahulukan niat atas takbiratul Ihram dalam selang waktu yang sangat pendek.

Penjelasan seputar Takbiratul Ihram :

Takbiratul Ihram didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari,

إذا قمت إلى الصلاة فكبر
“Apabila kamu hendak berdiri melakjukan shalat, maka bertakbirlah”

Dinamakan takbiratul Ihram sebab orang yang mengerjakan shalat diharamkan melakukan sesuatu yang sebelumnya halal dilakukan. Contohnya, semua hal semisal makan, minum, dan lainnya adalah halal, namun ketika sudah takbiratul Ihram (shalat) semua itu diharamkan dilakukan dan bisa menjadi pembatal shalat.

Maksud dari takbir dilakukan pada awal shalat yang bersamaan dengan niat, mengandung pengertian agar orang yang mengerjakan shalat menghayati maknanya, yang menunjukkan keagungan Dzat yang kita siap mengabdi kepada-Nya, sehingga kita akan menyadari bahwa diri kita sangat lemah dan hanya Dia-lah Dzat yang Maha Besar, dengan begitu akan sempurnalah rasa takut dan kekhusuannya. Oleh karena itulah, dalam shalat takbir selalu diulang-ulang dalam setiap perpindahan rukun satu ke rukun yang lain.

Bacaan takbiratul Ihram adalah dengan lafadz (الله أكبر/Allahu Akbar) sebagai bentuk ittiba’ kepada Nabi (للاتباع) atau boleh dengan (الله الاكبر/Allahul Akbar). Selain itu, tidak boleh dan tidak disebut takbir. Contohnya seperti ; (الله كبير /Allahu Kabir), (الله أعظم /Allah uA’dham), (الرحمن أكبر /Ar-rahmanu Akbar) atau yang lainnya, semua itu bukan takbiratul Ihram. Penambahan “Alif Lam/AL/” pada lafadz takbir () adalah tidak masalah, hal ini dijelaskan dalam kitab Mughniy Muhtaj :

ولا تضر زيادة لا تمنع الاسم ) أي اسم التكبير ( كالله الأكبر ) بزيادة اللام لأنه لفظ يدل على التكبير وعلى زيادة مبالغة في التعظيم وهو الإشعار بالتخصيص فصار كقوله الله أكبر من كل شيء إذ معنى الله أكبر أي من كل شيء

“Dan tidak akan merusak adanya penambahan juga tidak mencegah penamaannya yaitu tetap dinamakan takbir seperti lafadz (الله الأكبر) dengan tambahan “lam” karena sesungguhnya lafadz tersebut tetap menunjukkan pada takbir dan atas penambahan yang berlebihan dalam hal pengagungan dan itu adalah sebuah isyarat dengan takhshish, maka jadilah seperti perkataan (الله أكبر من كل شيء) jika maksud (الله أكبر) adalah (maha mesar) dari segela sesuatu”

Mengeraskan bacaan Takbir adalah wajib hingga bisa terdengar diri sendiri,

(ويجب إسماعه) أي التكبير، (نفسه) إن كان صحيح السمع، ولا عارض من نحو لغط. (كسائر ركن قولي) من الفاتحة والتشهد والسلام. ويعتبر إسماع المندوب القولي لحصول السنة
“Wajib memperdengarkan takbir terhadap dirinya sendiri jika orang tersebut pendengarannya sehat, dan juga tidak ada yang menghalangi seumpama kegaduhan (suara), demikian juga (wajib mengeraskan) pada seluruh rukun-rukun yang bersifat qauliyah (ucapan), semisal Al-Fatihah, Tasyahud dan salam. (hendaknya dibaca keras sekiranya dapat didengar dirinya sendiri) pada bacaan yang dihukmi mandub (sunnah) sepaya bisa mendapatkan kesunnahan (shalat)” [Fathul Mu’in]

Disunnahkan mengangkat kedua telapak tangan pada saat takbiratul Ihram atau salah satunya, jika memang sulit untuk mengangkat keduanya atau ada sebab lainnya dan harus dalam keadaan terbukan – jika tertutup hokumnya makruh-, jari-jari renggang antara satu dengan yang lainnya, tingginya sejajar dengan dua pundak (منكبيه).

Prakteknya sebagai berikut, dijelaskan dalam kitab Fathul Mu’in,

بحيث يحاذي أطراف أصابعه على أذنيه، وإبهاماه شحمتي أذنيه، وراحتاه منكبيه، للاتباع. وهذه الكيفية تسن
“Ujung jari sejajar dengan ujung telinga, ibu jari sejajar dengan putik telinga, dan kedua tapak tangan sejajar dengan kedua pundak, karena Ittiba’ (mengikuti) Rasulullah. Cara seperti inilah yang disunnahkan”.

Dijelaskan dalam Kitab I’anah Thalibin tentang Ittaba’ yang dimaksud pada keterangan diatas, sebagai berikut ;

(قوله: للاتباع) دليل لسنية الرفع حذو منكبيه، وهو ما رواه ابن عمر: أنه كان يرفع يديه حذو منكبيه إذا افتتح الصلاة

“(Dan mengenai perkataan “lilittaba’”) dalil untuk kesunnahan mengangkat tangan sejajar pundak, adalah sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar ; bahwa sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alayhi wa sallam mengangkat tangan sejajar dengan pundak ketika memulai shalat”

Disunnahkan juga meletakkan kedua tangan dibawah dada dan diatas pusat, sebagai bentuk Ittiba’ kepada Nabi, serta pergelangan kiri dipegang oleh tangan kanan. Berikut redaksinya,

(ووضعهما تحت صدره) وفوق سرته، للاتباع. (آخذا بيمينه) كوع (يساره) وردهما

Mengenai “Lil-ittiba’/karena mengikuti (Rasul)” diatas, dijabarkan dalam I’anah Thalibin sebagai berikut ;

(قوله: للاتباع) وهو ما رواه ابن خزيمة في صحيحه، عن وائل بن حجر، أنه قال: صليت مع النبي فوضع يده اليمنى على يده اليسرى تحت صدره
“Mengenai (للاتباع) adalah sebagaimana diriwayatkan Ibnu Khuzaimah didalam kitab Shahihnya, dari Wail bin Hajar mengatakan, “aku shalat bersama Nabi, kemudian meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dan dibawah dada”.

Didalam Nihayatuz Zain, karangan Al-Imam An-Nawawi Ats-Tsaniy, juga dijelaskan hal yang sama ;

(ووضعهما) أي الكفين (تحت صدره آخذاً بـيمينه يساره) أي قابضاً كوع يساره بكفه اليمنى ويجعلهما تحت صدره وفوق سرته مائلتين إلى جهة يساره قليلاً، لخبر مسلم عن وائل: «أنه رفع يديه حين دخل في الصلاة ثم وضع يده اليمنى على اليسرى»

Terjemahan bebas : “(disunnahkan) meletakkan kedua tangan dibawah dadanya, tangan kanan memegang tangan kiri yaitu pergelangan tangan kiri dipegang dengan telapak tangan kanan dan diletakkan dibawah dada serta diatas pusat agak condong (geser) kearah (sebelah) kiri sedikit, berdasarkan hadits Imam Muslim dari Wail ; sesungguhnya Nabi memasuki shalat mengangkat tangannya kemudian meletakkan tangan kanannya diatas tangan kiri”

Didalam Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzab karangan Al-Imam Hujjatul Islam An-Nawawi, 4/114, didalam kitab tersebut dijelaskan ;

واستحباب وضع اليمنى على اليسرى بعد تكبيرة الإحرام ويجعلهما تحت صدره فوق سرته هذا مذهبنا المشهور وبه قال الجمهور وقال أبو حنيفة وسفيان الثوري واسحاق بن راهويه وأبو إسحاق المروزي من أصحابنا يجعلهما تحت سرته وعن علي بن أبي طالب رضي الله عنه روايتان كالمذهبين وعن احمد روايتان كالمذهبين ورواية ثالثة أنه مخير بينهما ولا ترجيح وبهذا قال الأوزاعي وبن المنذر
وعن مالك رحمه الله روايتان أحداهما يضعهما تحت صدره والثانية يرسلهما ولا يضع إحداهما على الأخرى وهذه رواية جمهور أصحابه وهي الأشهر عندهم وهي مذهب الليث بن سعد وعن مالك رحمه الله أيضا
Terjemahan bebas, “Disunnahkan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri setelah takbiratul Ihram dan meletakkan keduanya dibawah dada dan diatas pusat, inilah yang Masyhur dari Madzhab kami (madzhab Syafi’iyyah), dan demikian juga Jumhur ulama dan Imam Abu Hanifah, dan Imam Sufyan Ats-Tsauriy, Imam Ishaq bin Rohawaih, Imam Abu Ishaq Al-Marwazi dari kalangan ashab kami (ulama syafi’iiyah) meletakkan keduanya (tangan kanan dan kiri) dibawah pusat, dan dari Ali bin Abi Thalib ada dua riwayat sebagaimana dua pendapat, dan Imam Ahmad ada dua riwayat/pendapat, dan ada riwayat ketiga yang memilih diantara dua keduanya dan tidak melakukan tarjih dan dalam hal ini berkata Imam Auza’iy dan Ibnu Mundzir , dan dari Imam Malik ada dua riwayat/pendapat salah satunya meletakkan keduanya (tangan kiri dan kanan) dibawah dada, dan yang kedua yaitu melepaskan (kebawah) dan tidak meletakkan pada salah satunya, inilah riwayat/pendapat jumhur ulama dalam madzhabnya dan yang masyhur dalam madzhab mereka yaitu madzhab Laits bin Said dan juga dari Imam Malik rahimahullah”

Didalam Al-Lubab Fil Fiqh Asy-Syafi’I, Al-Imam Al-Qadhi Abu Al-Hasan al-Mahamili,

رفع اليدين عند الإحرام مع التكبير حذو المنكبين، وأن يمدهما عند الرفع مدّا، وأن ينشر أصابعهما نشرا وأن يضع يده اليمنى على اليسرى، وأن يجعلهما تحت صدره
“..dan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, serta menaruhnya dibawah dadanya”

Didalam Kifayatul Akhyar (1/113),

يستحب أن يضع كفه اليمين على اليسرى ويقبض بكف اليمنى كوع اليسرى ثبت ذلك عن فعله صلى الله عليه وسلم
“dan disunnahkan untuk meletakkan telapak tangan kanan diatas tangan kiri, dan telapak tangan kanan menggenggam pergelangan tangan kiri, penetapan yang demikian berdasarkan pada perbuatan Rasulullah”

Demikian mengenai meletakkan tangan setelah takbiratul Ihram, jika terjadi perbedaan masalah ini hanya masalah khilafiyah diantara ulama dan pendapat apapun yang dipegang kita harus menghormati selama berpegang pendapat yang benar.

Penjelasan Tambahan ;

Dari penjelasan diatas, kita sudah tahu bahwa shalat sudah dimulai manakala kita sudah ber-Takbir (Takbiratul Ihram) yang bersamaan dengan Niat. Adapun sebelum itu, belum masuk pada bagian shalat. Jadi melafadzkan niat atau mengucapkan “Ushalli fadlod-dhuhri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati ada-an ..(ma’muman/imaman) lillahi ta’alaa” itu dilakukan sebelum masuk shalat. Mengucapkan yang demikian dihukumi sebagai sunnah, apabila dikerjakan mendapat pahala, apabila tidak dikerjakan tidak apa-apa. Tidak termasuk menambah-nambah rukun shalat, sebab mengucapkan niat/melafadzkan niat bukan bagian dari rukun shalat dan dilakukan sebelum shalat. Pahamilah, bahwa dinyatakan telah memasuki shalat jika sudah takbiratul Ihram yang bersamaan dengan niat, sebelum itu bukan.

Kesunnahan mengucapkan niat/melafadzkan niat bisa dilihat dalam keterangan dalam kitab Safinatun Naja, Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Fadlil Salim bin Samiyr Al-Hadlramiy ‘alaa Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i, Kasyfuh As-Saja karangan Al-Imam Nawawi Al-Bantani (Ats-Tsaniy), al-‘Allamah al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (ابن حجر الهيتمي ) didalam Kitab Tuhfatul Muhtaj (II/12), Al-Allamah asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari (Ulama Madzhab Syafi’iiyah), dalam kitab Fathul Mu’in bi syarkhi Qurratul 'Ain bimuhimmati ad-Din, Hal. 16 , Al-Imam Muhammad bin Abi al-'Abbas Ar-Ramli (Imam Ramli) terkenal dengan sebutan "Syafi'i Kecil" [الرملي الشهير بالشافعي الصغير] dalam kitab Nihayatul Muhtaj (نهاية المحتاج), juz I : 437 , Asy-Syeikhul Islam Al-Imam Al-Hafidz Abu Yahya Zakaria Al-Anshariy (Ulama Madzhab Syafi'iyah) dalam kitab Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Thullab (فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب) [I/38] , Hasyiyatul Jamal Ala Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Thullab, karangan Al-'Allamah Asy-Syeikh Sulaiman Al-Jamal, Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib Asy-Syarbainiy, didalam kitab Mughniy Al Muhtaj ilaa Ma'rifati Ma'aaniy Alfaadz Al Minhaj (1/150), Al-'Allamah Asy-Syekh Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj (السراج الوهاج على متن المنهاج) pada pembahasan tentang Shalat, Al-‘Allamah Sayid Bakri Syatha Ad-Dimyathiy, dalam kitab I’anatut Thalibin (إعانة الطالبين) [I/153], Al-‘Allamah Asy-Syekh Jalaluddin Al-Mahalli, di dalam kitab Syarah Mahalli Ala Minhaj Thalibin (شرح العلامة جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين) Juz I (163), dan berbagai kitab ulama madzhab lainnya.

Kami kutipkan salah satu keterangan kesunnahan tersebut dari sekian banyak kitab ulama yang disebutkan diatas, dari al-‘Allamah al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (ابن حجر الهيتمي ) didalam Kitab Tuhfatul Muhtaj (II/12) ;

ويندب النطق) بالمنوي (قبيل التكبير)
ليساعد اللسان القلب وخروجا من خلاف من أوجبه وإن شذ وقياسا على ما يأتي في الحج

“Dan disunnahkan melafadzkan (mengucapkan) niat sebelum takbir, agar lisan dapat membantu hati dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkan ini) adalah syad ( menyimpang), dan Kesunnahan ini juga karena qiyas terhadap adanya pelafadzan dalam niat haji”

_____________
Demikian uraian awal mengenai Shifatush Shalah, InsyaAllah pada kesempatan berikutnya akan membahas rukun shalat yang ketiga dan keempat, disertai dengan sunnah-sunnah yang dilakukan.

Wallahu subhanahu wa ta'alaa 'alam
Abdurrohim Ats-Tsauriy

Kesunnahan Melafadzkan Niat (Talaffudz binniyah)



Kesunnahan Melafadzkan Niat (Talaffudz binniyah)


"(disunnahkan) melafadzkan (mengucapkan) niat sebelum Takbir (takbiratul Ihram)" [Kitab Matan Al-Minhaj, Lisyaikhil Islam Zakariyya Al-Anshariy fi Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i]
Melafadzkan niat sudah masyhur dikalangan masyarakat, hal ini bukan tanpa dasar tapi karena memang memiliki landasan dalam ilmu fiqh. Contoh melafadzkan niat adalah membaca “ushulli fardhush shubhi rak’atayni mustaqbilal kiblati ada’an lillahi ta’ala”, hal semacam ini biasa dibaca oleh kalangan Muslimin (terutama di Indonesia) sebelum Takbiratul Ihram artinya dibaca sebelum melaksanakan shalat, tidak bersamaan dengan shalat dan bukan bagian dari rukun shalat.

Seperti yang sudah diketahui bahwa permulaan shalat adalah niat dan takbiratul ihram dilakukan bersamaan dengan niat. Niat tidak mendahului takbir (Takbiratul Ihram) dan tidak pula sesudah takbir. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’I dalam kitab Al-Umm Juz 1, pada Bab Niat pada Shalat (باب النية في الصلاة ) ;

قال الشافع: والنية لا تقوم مقام التكبير ولا تجزيه النية إلا أن تكون مع التكبير لا تتقدم التكبير ولا تكون بعده

“..niat tidak bisa menggantikan takbir, dan niat tiada memadai selain bersamaan dengan Takbir, niat tidak mendahului takbir dan tidak (pula) sesudah Takbir.”

Sekali lagi, niat itu bersamaan dengan Takbir. Hal senada juga dinyatakan oleh al-‘Allamah asy-Syaikh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibariy asy-Syafi’i dalam Fathul Mu’in Hal 16 ;

. (مقرونا به) أي بالتكبير، (النية) لان التكبير أول أركان الصلاة فتجب مقارنتها به،

“..Takbiratul ihram harus dilakukan bersamaan dengan niat (shalat), karena takbir adl rukun shalat yang awal, maka wajib bersamaan dengan niat”

Al-Imam An-Nawawi, didalam Kitab Raudhatut Thalibin, pada fashal (فصل في النية يجب مقارنتها التكبير)

يجب أن يبتدىء النية بالقلب مع ابتداء التكبير باللسان
“diwajibkan memulai niat dengan hati bersamaan dengan takbir dengan lisan”

Al-Qadhi Abu al-Hasan al-Mahamiliy, didalam kitab Al-Lubab fi al-Fiqh asy-Syafi'i, pada pembahasan (باب فرائض الصلاة) ;

النية، والتكبير، ومقارنة النية للتكبير
"Niat dan Takbir, niat bersamaan dengan takbir"

Asy-Syekh Abu Ishaq asy-Syairaziy, didalam Tanbih fi Fiqh Asy-Syafi'i (1/30) :

وتكون النية مقارنة للتكبير لا يجزئه غيره والتكبير أن يقول ألله أكبر أو الله الأكبر لا يجزئه غير ذلك
"dan adanya niat bersamaan dengan takbir, tidak cukup selain itu. dan takbir yaitu mengucapkan (ألله أكبر) atau ( الله الأكبر), selain yang demikian tidaklah cukup (bukan takbir)."

Jadi, shalat telah dinyatakan mulai manakala sudah takbiratul Ihram yg sekaligus bersamaan dengan niat (antara niat dan takbir adalah bersamaan). Aktifitas atau ucapan apapun sebelum itu, bukanlah masuk dalam rukun shalat, demikian juga dengan melafadzkan niat, bukan masuk dalam bagian dari (rukun) shalat.

Tempatnya niat adalah di dalam hati. Sebagaimana diterangkan dalam Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, pada pembahasan فرائض الصلاة

ومحلها القلب لا تعلق بها باللسان أصلا
“niat tempatnya didalam hati, pada asalnya tidak terikat dengan lisan”

Al-Allamah Al-Imam An-Nawawi, dalam kitab Al-Majmu' (II/43) :

فإن نوى بقلبه دون لسانه أجزأه
“sesungguhnya niat dengan hati tanpa lisan sudah cukup,

Al-Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim asy-Syafi’i, didalam Kitab Fathul Qarib, pada pembahasan Ahkamush Shalat ;

النِّيَةُ) وَ هِيَ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً بِفِعْلِهِ وَ مُحَلُّهَا اْلقَلْبُ
“niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya dan tempat niat itu berada di dalam hati.”

Al-Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini, didalam Kifayatul Ahyar, pada bab (باب أركان الصلاة)]

واعلم أن النية في جميع العبادات معتبرة بالقلب فلا يكفي نطق للسان
“Ketahuilah bahwa niat dalam semua ibadah menimbang dengan hati maka tidak cukup hanya dengan melafadzkan dengan lisan”

Demikian juga dikatakan dalam kitab yang sama (Kifayatul Akhyar) pada bab باب فرائض الصوم

لا يصح الصوم إلا بالنية للخبر، ومحلها القلب، ولا يشترط النطق بها بلا خلاف
Tidak sah puasa kecuali dengan niat, berdasarkan khabar (hadits shahih), tempatnya niat didalam hati, dan tidak syaratkan mengucapkannya tanpa ada khilaf”

Keterangan : pada bab Fardhu Puasa ini, mengucapkan niat tidak disyaratkan artinya bukan merupakan syarat dari puasa. Dengan demikian tanpa mengucapkan niat, puasa tetap sah. Demikian juga dengan shalat, melafadzkan (mengucapkan) niat shalat bukan merupakan syarat dari shalat, bukan bagian dari fardhu shalat (rukun shalat). Jadi, baik melafadzkan niat (talaffudz binniyah) maupun tidak, sama sekali tidak menjadikan shalat tidak sah, tidak pula mengurangi atau menambah-nambah rukun shalat.

Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy, didalam Tuhfatul Muhtaj (تحفة المحتاج بشرح المنهاج) [II/12] :

والنية بالقلب
"dan niat dengan hati"

Al-Hujjatul Islam Al-'Allamah Al-Faqih Al-Imam Al-Ghazaliy, didalam kitab Al-Wajiz fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi'i, Juz I, Kitabus Shalat pada al-Bab ar-Rabi' fi Kaifiyatis Shalat ;


"niat dengan hati dan bukan dengan lisan"

Semua keterangan diatas hanya menyatakan bahwa niat tempatnya didalam hati (tidak ada cap bid’ah), niat amalan hati atau niat dengan hati. Demikian juga dengan niat shalat adalah didalam hati, sedangkan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) bukanlah merupakan niat, bukan pula aktifitas hati (bukan amalan hati) namun aktifitas yang dilakukan oleh lisan. Niat dimaksudkan untuk menentukan sesuatu aktifitas yang akan dilakukan, niat dalam shalat dimaksudkan untuk menentukan shalat yang akan dilakukan. Dengan kata lain, niat adalah memaksudkannya sesuatu. Ibnu Manzur dalam kitabnya yang terkenal yaitu Lisanul ‘Arab (15/347) berkata ;

" Meniatkan sesuatu artinya memaksudkannya dan meyakininya. Niat adalah arah yang dituju”.

Sebagaimana juga dikatakan didalam kitab Fathul Qarib :

وَ هِيَ قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً بِفِعْلِهِ
“niat adalah memaksudkan sesuatu bersamaan dengan perbuatannya”

Al-Fiqh al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam asy-Syafi'i, pada pembahasan Arkanush Shalat ;

وهي قصد الشيء مقترناً بأول أجزاء فعله، ومحلها القلب. ودليلها قول النبي"إنما الأعمال بالنيات"
"(Niat), adalah menyengaja (memaksudkan) sesuatu bersamaan dengan sebagian dari perbuatan, tempatnya didalam hati. dalilnya sabda Nabi SAW ; ("إنما الأعمال بالنيات")"

Al-'Allamah Asy-Syekh Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj (السراج الوهاج على متن المنهاج)

وهي شرعا قصد الشيء مقترنا بفعله وأما لغة فالقصد
"(niat) menurut syara' adalah menyengaja sesuatu bersamaan dengan perbuatan, dan menurut lughah adl menyengaja"

Maka, selagi lagi kami perjelas. Niat adalah amalan hati, niat shalat dilakukan bersamaan dengan takbiratul Ihram, merupakan bagian dari shalat (rukun shalat), adapun melafadzkan niat (mengucapkan niat) adalah amalan lisan (aktifitas lisan), yang hanya dilakukan sebelum takbiratul Ihram, artinya dilakukan sebelum masuk dalam bagian shalat (rukun shalat) dan bukan merupakan bagian dari rukun shalat. Niat shalat tidak sama dengan melafadzkan niat.

Melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) hukumnya sunnah. Kesunnahan ini diqiyaskan dengan melafadzkan niat Haji, sebagaimana Rasulullah dalam beberapa kesempatan melafadzkan niat yaitu pada ibadah Haji.

عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّا (رواه مسلم)

“Dari sahabat Anas ra berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW mengucapkan “Aku memenuhi panggilan-Mu (Ya Allah) untuk (mengerjakan) umrah dan haji” (HR. Imam Muslim)

Dalam buku Fiqh As-Sunnah I halaman 551 Sayyid Sabiq menuliskan bahwa salah seorang Sahabat mendengar Rasulullah SAW mengucapkan (نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ اَوْ نَوَيْتُ الْحَجَّ) “Saya niat mengerjakan ibadah Umrah atau Saya niat mengerjakan ibadah Haji”

أنه سمعه صلى الله عليه وسلم يقول : " نويت العمرة ، أو نويت الحج

Memang, ketika Rasulullah SAW melafadzkan niat itu ketika menjalankan ibadah haji, namun ibadah lainnya juga bisa diqiyaskan dengan hal ini, demikian juga kesunnahan melafadzkan niat pada shalat juga diqiyaskan dengan pelafadzan niat dalam ibadah haji. Hadits tersebut merupakan salah satu landasan dari Talaffudz binniyah.

Hal ini, sebagaimana juga dikatakan oleh al-‘Allamah al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (ابن حجر الهيتمي ) didalam Kitab Tuhfatul Muhtaj (II/12) ;

(ويندب النطق) بالمنوي (قبيل التكبير) ليساعد اللسان القلب وخروجا من خلاف من أوجبه وإن شذ وقياسا على ما يأتي في الحج

“Dan disunnahkan melafadzkan (mengucapkan) niat sebelum takbir, agar lisan dapat membantu hati dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkan ini) adalah syad ( menyimpang), dan Kesunnahan ini juga karena qiyas terhadap adanya pelafadzan dalam niat haji

Qiyas juga menjadi dasar dalam ilmu Fiqh,

Al-Allamah Asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz didalam Fathul Mu'in Hal. 1 :

واستمداده من الكتاب والسنة والاجماع والقياس.
Ilmu Fiqh dasarnya adalah kitab Al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Al-Imam Nashirus Sunnah Asy-Syafi'i, didalam kitab beliau Ar-Risalah الرسالة :

أن ليس لأحد أبدا أن يقول في شيء حل ولا حرم إلا من جهة العلم وجهة العلم الخبر في الكتاب أو السنة أو الأجماع أو القياس
..selamanya tidak boleh seseorang mengatakan dalam hukum baik halal maupun haram kecuali ada pengetahuan tentang itu, pengetahuan itu adalah al-Kitab (al-Qur'an), as-Sunnah, Ijma; dan Qiyas.”

قلت لو كان القياس نص كتاب أو سنة قيل في كل ما كان نص كتاب هذا حكم الله وفي كل ما كان نص السنة هذا حكم رسول الله ولم نقل له قياس

Aku (Imam Syafi'i berkata), jikalau Qiyas itu berupa nas Al-Qur'an dan As-Sunnah, dikatakan setiap perkara ada nasnya didalam Al-Qur'an maka itu hukum Allah (al-Qur'an), jika ada nasnya didalam as-Sunnah maka itu hukum Rasul (sunnah Rasul), dan kami tidak menamakan itu sebagai Qiyas (jika sudah ada hukumnya didalam al-Qur'an dan Sunnah).

Jadi, melafadzkan niat shalat yang dilakukan sebelum takbiratul Ihram adalah amalan sunnah dengan diqiyaskan terhadap adanya pelafadzan niat haji oleh Rasulullah SAW. Sunnah dalam pengertian ilmu fiqh, adalah apabila dikerjakan mendapat pahala namun apabila ditinggalkan tidak apa-apa. Tanpa melafadzkan niat, shalat tetaplah sah dan melafadzkan niat tidak merusak terhadap sahnya shalat dan tidak juga termasuk menambah-nambah rukun shalat.

Ulama Syafi’iyyah lainnya yang mensunnahkan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) adalah sebagai berikut ;

Al-Allamah asy-Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari (Ulama Madzhab Syafi’iiyah), dalam kitab Fathul Mu’in bi syarkhi Qurratul 'Ain bimuhimmati ad-Din, Hal. 16 ;

. (و) سن (نطق بمنوي) قبل التكبير، ليساعد اللسان القلب، وخروجا من خلاف من أوجبه.

“Disunnahkan mengucapkan niat sebelum takbiratul ihram, agar lisan dapat membantu hati (kekhusuan hati), dan karena mengindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkannya.”

Al-Imam Muhammad bin Abi al-'Abbas Ar-Ramli/Imam Ramli terkenal dengan sebutan "Syafi'i Kecil" [الرملي الشهير بالشافعي الصغير] dalam kitab Nihayatul Muhtaj (نهاية المحتاج), juz I : 437 :

وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ
خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ

“Disunnahkan (mandub) melafadzkan niat sebelum takbiratul Ihram agar lisan dapt membantu hati (kekhusuan hati), agar terhindar dari gangguan hati (was-was) dan karena mengindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkannya”.

Asy-Syeikhul Islam al-Imam al-Hafidz Abu Yahya Zakaria Al-Anshariy (Ulama Madzhab Syafi'iyah) dalam kitab Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Thullab (فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب) [I/38] :

( ونطق ) بالمنوي ( قبل التكبير ) ليساعد اللسان القلب

"(Disunnahkan) mengucapkan niat sebelum Takbir (takbiratul Ihram), agar lisan dapat membantu hati.."

Diperjelas (dilanjutkan) kembali dalam Kitab Syarah Fathul Wahab yaitu Hasyiyah Jamal Ala Fathul Wahab Bisyarhi Minhaj Thullab, karangan Al-'Allamah Asy-Syeikh Sulaiman Al-Jamal ;

وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنْ الْوَسْوَاسِ وَخُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهُ انْتَهَتْ
"dan sebuah penjelasan, agar lisan lisan dapat membantu hati, terhindar dari was-was, dan untuk mengindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkannya. selesai"


Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al-Khatib Asy-Syarbainiy, didalam kitab Mughniy Al Muhtaj ilaa Ma'rifati Ma'aaniy Alfaadz Al Minhaj (1/150) ;

( ويندب النطق ) بالمنوي ( قبل التكبير ) ليساعد اللسان القلب ولأنه أبعد عن الوسواس
"Disunnnahkan mengucapkan niat sebelum takbir, agar lisan dapat membantu hati dan sesungguhnya untuk menghindari kewas-was-was-an (gangguan hati)"

Al-'Allamah Asy-Syekh Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy, didalam As-Siraj Al-Wahaj (السراج الوهاج على متن المنهاج) pada pembahasan tentang Shalat ;

ويندب النطق قبيل التكبير
ليساعد اللسان القلب
"dan disunnahkan mengucapkan (niat) sebelum takbiratul Ihram, agar lisan dapat membantu hati"

Al-‘Allamah Sayid Bakri Syatha Ad-Dimyathiy, dalam kitab I’anatut Thalibin (إعانة الطالبين) [I/153] ;

(قوله: وسن نطق بمنوي) أي ولا يجب، فلو نوى الظهر بقلبه وجرى على لسانه العصر لم يضر، إذ العبرة بما في القلب. (قوله: ليساعد اللسان القلب) أي ولانه أبعد من الوسواس. وقوله: وخروجا من خلاف من أوجبه أي النطق بالمنوي
“[disunnahkan melafadzkan niat] maksudnya (melafadzkan niat) tidak wajib, maka apabila dengan hatinya berniat shalat dzuhur namun lisannya mengucapkan shalat asar, maka tidak masalah, yang dianggap adalah didalam hati. [agar lisan membantu hati] maksudnya adalah terhindari dari was-was. [mengindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkan] maksudnya dengan (ulama yang mewajibkan) melafadzkan niat.”

Al-‘Allamah Asy-Syekh Jalaluddin Al-Mahalli, di dalam kitab Syarah Mahalli Ala Minhaj Thalibin (شرح العلامة جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين) Juz I (163) :

(وَيُنْدَبُ النُّطْقُ) بِالْمَنْوِيِّ (قُبَيْلَ التَّكْبِيرِ) لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ
“dan disunnahkan mengucapkan niat sebelum takbir (takbiratul Ihram), agar lisan dapat membantu hati””

Tujuan dari melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) sebagaimana dijelaskan diatas adalah agar lisan dapat membantu hati yaitu membantu kekhusuan hati, menjauhkan dari was-was (gangguan hati), serta untuk menghindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkannya. Selain itu lafadz niat adalah hanya demi ta’kid yaitu penguat apa yang diniatkan.

Berkata shohibul Mughniy : Lafdh bimaa nawaahu kaana ta’kiidan (Lafadz dari apa apa yg diniatkan itu adalah demi penguat niat saja) (Al Mughniy Juz 1 hal 278), demikian pula dijelaskan pd Syarh Imam Al Baijuri Juz 1 hal 217 bahwa lafadh niat bukan wajib, ia hanyalah untuk membantu saja.

Dan sungguh begitu indahnya kata-kata ulama, mereka sebisa mungkin menghindari perselisihan bahkan dalam perkara yang seperti ini, tidak seperti saat ini, sebagian kelompok kecil ada yang beramal ASBED (asal beda), selalu mengangkat perkara khilafiyah dan begitu mudah mulut mereka membuat tuduhan bid’ah terhadap pendapat yang lainnya. Padahal dengan kata lain, tuduhan bid’ah yang mereka lontarkan, hakikatnya telah menghujat ulama dan menuduh ulama-ulama Madzhab yang telah mensunnahkannya.

Kesunnahan melafadzkan niat dari ulama Syafi’iiyah juga dapat dirujuk pada pendapat dalam kitab ulama syafi’iiyah lainnya, seperti Hasyiyah al-Bajury I/149, Mughny al-Muhtaj I/148-150. 252-253, al-Muhadzab I/70, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab III/243-252.

Melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) juga merupakan ucapan yang baik, bukan ucapan yang buruk, kotor maupun tercela. Sebagai sebuah perkataan yang baik maka tentunya diridhoi oleh Allah Subhanahu wa ta’alaa dan Allah senang dengan perkataan yang baik. Dengan demikian ucapan yang terlontar dari lisan seorang hamba akan dicatat oleh malaikat sebagai amal bagi hamba tersebut.

Allah berfirman ;

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. al-Qaaf 50 : 18)

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعاً إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

‘Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” (QS. al-Fathir 35 : 10)

Maka demikian, melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) sebagai sebuah ucapan yang baik, juga memiliki nilai pahala sendiri disisi Allah berdasarkan ayat al-Qur’an diatas.

Didalam madzhab lainnya selain madzhab Syafi’iiyah juga mensunnahkan melafadzkan niat, misalnya ; Mazhab Hanafi (Ulama Hanafiyah) berpendapat bahwa niat sholat adalah bermaksud untuk melaksanakan shalat karena Allah dan letaknya dalam hati, namun tidak disyaratkan melafadhkannya dengan lisan. Adapun melafadhkan niat dengan lisan sunnah hukumnya, sebagai pembantu kesempurnaan niat dalam hati. Dan menentukan jenis sholat dalam niat adalah lebih afdlal. [al-Badai’ I/127. Ad-Durru al-Muhtar I/406. Fathu al-Qadir I/185 dan al-lubab I/66]

Mazhab Hanbali (Ulama Hanabilah) berpendapat bahwa niat adalah bermaksud untuk melakukan ibadah, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Shalat tidak sah tanpa niat, letaknya dalam hati, dan sunnah melafadzkan dengan lisan, disyaratkan pula menentukan jenis sholat serta tujuan mengerjakannya. [al-Mughny I/464-469, dan II/231. Kasy-Syaaf al-Qona’ I364-370]

Mazhab Maliki (Ulama Malikiyah) berpendapat bahwa niat adalah bermaksud untuk melaksanakan sesuatu dan letaknya dalam hati. Niat dalam sholat adalah syarat sahnya sholat, dan sebaiknya tidak melafadzkan niat, agar hilang keragu-raguannya. Niat sholat wajib bersama Takbiratul Ihram, dan wajib menentukan jenis sholat yang dilakukan [asy-Syarhu ash-Shaghir wa-Hasyiyah ash-Shawy I/303-305, al-Syarhu al-Kabir ma’ad-Dasuqy I/233 dan 520]

DR. Wahbah Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islam I/767 : "Disunnatkan melafadzkan niat menurut jumhur selain madzab maliki." Didalam kitab yang sama juga diterangkan mengenai pendapat madzhab Maliki, jilid I/214 bahwa : “Yang utama adalah tidak melafadzkan niat kecuali bagi orang-orang yang berpenyakit was-was, maka disunnatkan baginya agar hilang daripadanya keragu-raguan".

Hal-Hal Yang Berkaitan :

- Perihal Hadits (إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى), “Sesungguhnya amalan-amalan itu dikerjakan dengan niat, dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan” [Arba’in an-Nawawi, hadits pertama (متفق عليه)]

Hadits ini sama sekali tidak berbicara bahwa melafadzkan niat adalah bid’ah, namun mengenai niat sebagai syarat sahnya sebuah amal, atau niat sebagai penyempurna sebuah amalan. Sebagaimana shalat juga tidak sah jika tidak disertai dengan niat, sebab niat dalam shalat merupakan bagian dari rukun sholat yang aktifitasnya didalam hati. Berbeda dengan melafadzkan niat (Talaffudz binniyah) dimana aktifitasnya adalah lisan dan bukan merupakan rukun shalat, namun sunnah. Kesunnanan ini (Talaffudz binniyah) baik dikerjakan atau tidak, tidak merusak pada sahnya shalat dan tidak juga menjadikan shalat batal.

- Perihal Jawaban Imam Ahmad : Abu Dawud As-Sijistany , penulis kitab As-Sunan pernah bertanya kepada Imam Ahmad, "Apakah seorang yang mau melaksanakan Sholat mengucapkan sesuatu sebelum takbir?" Jawab beliau, " tidak usah". [Lihat Masa'il Abi Dawud (hal.31)]

Dalam Masa’il Abi Daud diatas, Imam Ahmad tidak membid’ahkan, beliau hanya mengatakan tidak usah.

- Perihal Ulama Yang Mewajibkan (Melafadzkan niat)

Ini kami anggap penting untuk dijelaskan, agar tidak terjadi salah paham atau disalah pahami untuk menyalah pahamkan pendapat lainnya. Sebagaimana sudah disebutkan diatas, oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (Tuhfatul Muhtaj), Imam Ramli (Nihayatul Muhtaj) dan Al-'Allamah Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz (Fathul Mu'in), bahwa penetapan hukum sunnah terhadap melafadzkan niat (talaffudz binniyah) juga bermaksud menghindari perselisihan dengan ulama yang mewajibkannya.

Perlu diketahui bahwa ulama yang mewajibkan (talaffudz binniyah) juga dinisbatkan kepada madzhab Syafi'iyyah sebab memang masih bermadzhab Syafi'i. Beliau adalah Abu Abdillah az-Zubairiy (أبي عبد الله الزبيري). Beliau mewajibkan melafadzkan niat berdasarkan pemahamannya terhadap perkataan Imam Syafi'i tentang "an-Nuthq (النطق). Menurut pemahaman beliau apa yang dimaksud oleh Imam Syafi'i dengan "an-nuthq (النطق)" adalah melafadzkan niat. Padahal yang dimaksud oleh Imam Syafi'i dengan an-Nuthq (النطق) adalah Takbir (Takbiratul Ihram), menurut Al-Imam Nawawi. Hal ini dijelaskan dalam Kitab Al-Majmu' (II/43) ;

، لأن الشافعي رحمه الله قال في الحج : إذا نوى حجا أو عمرة أجزأ ، وإن لم يتلفظ وليس كالصلاة لا تصح إلا بالنطق
"Karena sesungguhnya Al-Imam asy-Syafi'i berkata didalam (Bab) Haji : "apabila seseorang berniat menunaikan ibadah haji atau umrah dianggap cukup sekalipun tidak dilafadzkan. Tidak seperti shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan melafadzkannya (an-Nuthq)"

Jadi, beliau (Abu Abdillah az-Zubairiy ) mengira bahwa Imam Syafi'i memasukkan talaffudz binniyah menjadi bagian dari syarat sahnya shalat, padahal tidak demikian.

Maka, itu sebabnya pendapat yang mewajibkan ini dikatakan syad (menyimpang) oleh Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy didalam Tuhfatul Muhtaj (II/12) :

وخروجا من خلاف من أوجبه وإن شذ وقياسا على ما يأتي في الحج
" dan (juga) untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkan ini) adalah syad ( menyimpang)"

Imam an-Nawawi didalam kitab Al-Majmu' (II/43) juga menjelaskan kekeliruan tersebut.

قال أصحابنا : غلط هذا القائل ، وليس مراد الشافعي بالنطق في الصلاة هذا ، بل مراده التكبير
"beberapa shahabat kami berkata : "Orang yang mengatakan hal itu telah keliru. Bukan itu yang dikehendaki oleh Al-Imam Asy-Syafi'i dengan kata "an-Nuthq (melafadzkan)" di dalam shalat, tetapi yang dikehendaki adalah Takbir (Takbiraul Ihram)"

Sementara lihatlah begitu indah perkataan Imam Nawawi, Imam Nawawi menyebut Syekh Abu Abdillah az-Zubairy dengan sebutan "Ashabinaa", walaupun Imam Nawawi tidak menyetujui pendapatnya. Tauladan yang sangat terpuji dalam menyikapi khilafiyah.

Jadi, pendapat yang dianggap menyimpang/keliru adalah jika melafadzkan niat (talaffudz binniyah) dimasukkan sebagai bagian dari syarat sah shalat. Sebab mewajibkan talaffudz binniyah sama saja telah masukkannya sebagai bagian dari shalat. Maka yang sebenarnya tidak dikehendaki adalah dalam hal mewajibkannya bukan kesunnahan melafadzkan niat. []

Wallahu’alam...
Abdurrohim ats-Tsauriy
http://abdurrohim.web.id/my-deen-/kesunnahan-melafadzkan-niat-talaffudz-binniyah.html